Senin, 19 November 2012

warna

*Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata.

Sebut saja namanya Ririn. Mahasiswa berjaket ungu itu tengah duduk di depan meja sebuah toko. Ia sibuk memperhatikan seorang anak kecil dekil berbaju kuning. Entah sedang apa, anak itu tengah kasak kusuk di depan rak alat elektronik. Hingga kemudian anak itu berbalik. dan Ririn pun bisa melihat jelas wajah anak itu. Rambutnya sebahu, pirang, tipis, dan gimbal. Ia kurus kering, bahkan tulang belikatnya menyembul lewat kerah bajunya yang kebesaran. Matanya sayu. Entah tak tahan menahan kantuk, menahan lelah, atau..... mengiba. Gurat-gurat wajahnya seperti menanggung beban pikiran yang begitu berat. Tak ceria seperti layaknya anak seusianya.

Ririn merasa familiar dengan wajah anak itu. Ia selama 3 tahun berkuliah memang sudah terbiasa melihat bocah kecil itu di pinggir jalan. Anak itu terbiasa menjadi peminta-minta di lampu setopan dekat kampusnya. Dulu sekali, Ririn pernah melihat wajah anak itu lebam dan diarea pipinya ada luka seperti bekas sundutan rokok. Penasaran Ririn bertanya pada anak itu ketika ia mendekat. Tapi lampu setopan itu terlanjur hijau, dan Ririn tak sempat mendapatkan jawaban.

Dan sekarang ia malah bertemu dengan anak itu disini. Pertanyaannya adalah, apa yang anak itu sedang lakukan dalam toko? Ririn tak melihat ada orang dewasa yang mengikuti anak itu atau yang diikuti anak itu. Ririn menduga anak itu sendiri dalam toko. Untuk apa?


"Dek lagi apa?" Dengan sok kenal sok akrab Ririn memanggil anak itu.
 Anak itu mendekat. Lalu tiba-tiba ia menunjuk sesuatu di rak belakang Ririn.
"Apa dek?"
"Mau gambar." anak itu bergumam pelan.
Kening Ririn mengernyit sembari kembali membalikkan badannya memandang ke arah rak dibelakangnya. Oh rupanya anak itu menunjuk deretan pensil warna.
"Pensil warna?" tanya Ririn
"Iya, buat gambar. Besok di sekolahku ada lomba gambar." anak itu menjawab tanpa sungkan.

Ririn menatap kebeningan kedua bola mata anak itu. Ia ingin melihat kejujuran darinya. Tapi nihil. Ririn hanya berhasil menangkap kepolosan.

"Kelas berapa, dek?" tanya Ririn
"Kelas 3."
"Dimana rumahnya?"
"Di pinyit."
"Besok gak sekolah po?"
"Sekolah. Kan senin." Akhirnya kedua mata anak itu menatap Ririn. Ririn tersenyum dan anak itu membalas senyum. Manis sekali. Seolah gurat itu baru pertama kali terlukis di wajahnya. Tiba-tiba saja Ririn begitu bersemangat.
"Adek yang biasa di lampu setopan sana ya?" ujar Ririn sembari menunjuk ke arah luar pintu.
"Lampu setopan itu apa?" Ririn membalas senyuman.
"Bangjo di depan sana itu loh."...
"iya."
"Dimana ibu?"
"Disana." dia menunjuk keluar pintu toko.
"Belum pulang jam segini?"
"Nggak."
"Terus nanti tidurnya?"
"Tidur di pinggir jalan, mbak."
"Kenapa? Gak dingin po?"
"Tidur di rumah gak muat, ada nenek."
Hati Ririn trenyuh. Mencelos. Seperti naik roler coaster di turunan. Ia berkali-kali berdzikir menyebut asma Allah dalam hatinya.
"Kita belum kenalan. Nama saya Ririn. Adek siapa?" tanya Ririn sembari menyodorkan tangan kanannya mengajak bersalaman.
"Puji."
Senyum anak itu kembali merekah. Keceriaan itu sepertinya sudah lama ditelan beban. Seolah ia memang dipaksa untuk dipahat dengan wajah mengiba.
"Duduk sini!" Ririn menarik kursi didepannya. Kemudian Puji duduk.
"Punya kakak?"
"Punya banyak."
"Adik?"
"Ada satu."
 ------------------------
---------------------------------------------
-----------------------
Pet!!! Lampu layar tivinya mati...--------------------------------------------
#Hmmmm sori roll filmnya habis. Dan beberapa adegan hilang -_-"
--------------------------------------------------------
------------------------------------

Ririn keluar dari toko menuju parkiran motor. Dan ia terkejut melihat ada makhluk kecil melambaikan tangan. Ah itu Puji. Puji bersama 2 orang yang mungkin ayah ibunya. Mereka bertiga tengah duduk-duduk santai di emperan toko yang etalasenya sudah tutup. Ririn membalas melambai dan tersenyum ke arah Puji. Hanya kepada Puji. Ririn tak mau memandang lama-lama ke arah ke2 orang dewasa itu. Ia langsung melajukan motornya dan berhenti di lampu setopan tempat Puji biasa meminta-minta. Benar saja. Puji mendekat. Lalu tersenyum sangat riang. Alangkah manisnya anak itu. Ia lalu mulai meminta-minta, menyusuri satu demi satu pengendara motor di depan Ririn. Wajahnya kembali dipasang menghiba. 

Sekarang justru Ririn yang senyumnya tercekat. Otot-otot sudut mulutnya kaku. Ada sesuatu yang menyesak di dada Ririn. Bagaimana bisa bocah sekecil itu dididik untuk meminta-minta? Padahal jelas-jelas orang tuanya menyaksikan dia di emperan toko. Tak sudi Ririn memandang mereka barang sedetik pun. Ia tak mau diam-diam menyimpan kebencian pada orang yang bahkan tak dikenalnya. Ia tak mau mengotori hatinya dengan berburuk sangka. Ia ingat Ustad Syatori pernah bilang bahwa orang-orang mutaqin akan meninggalkan hal-hal yang bisa membuat hati bersu'udzon. Astaghfirullah. Keceriaan Puji terenggut paksa oleh keadaan. Itu bukan keinginan mereka. Ririn tau itu. Lalu apa dan siapa yang harus disalahkan? Ada kegeraman yang bergejolak dalam hati Ririn. Satu-satunya yang bisa ia salahkan hanyalah dirinya sendiri. Betapa ia tak bisa berbuat apa-apa. Senjatanya mungkin hanya doa.
Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzibaan??? Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan???

tabularasa

cahaya temaram menyiram langit dikala petang

silaunya ditelan malam begitu saja

melenyapkan pekatnya jelaga asap

membungkam bisingnya siang

diganti seruan anak adam ditiap menara yang menjulang

bukankah dengan ini Tuhan masih menyelimuti bumi dengan kasih-Nya?

memberi kesempatan tiap jiwa bernyawa untuk merebah

masihkah si lisan memuntahkan keluh?

padahal dia masih sanggup mengecap manisnya iman

masihkah dada menyesak?

padahal ia masih disuplai partikel kehidupan


tak peduli sekeras apapun siang membanting si tulang

tak peduli seliar apapun hawa nafsu membelenggu


cukuplah bersyukur...

karena taburan cinta, masih Tuhan semai ke semesta...

Jumat, 02 November 2012

Sudah beranjak tua T_T

Sudah terlalu sering diri ini mengintimidasi fikiran. Berlayar terlalu jauh. Lalu bias. Entah yang mana lagi yang nyata dan mana yang maya. Padahal ada dikotomi jelas antara yang realitas dan yang imajiner. Misalnya matematika yang katanya adalah ilmu pasti. Dalam matematika memang kita temukan bilangan real. Tapi kenapa masih ada bilangan pencacah atau bilangan cardinal? Dan di matematika memang ga ada bilangan imajiner. Tapi jika kita bermain fungsi matematika, akar min satu kan imajiner? Thats it? Lalu apakabar dengan satu di bagi nol? Kenapa kalkulator manapun yang saya gunakan untuk menghitungnya selalu memberikan hasil hurup E atau gambar cacing tidur yang artinya 'tak hingga'? Bukankah kata 'tak hingga' itu juga berarti imajiner gajelas. Aishhh... katanya ilmu pasti (?). *sotoysih. Terserahlah. Bagi saya keduanya tetap saja absurb.

Seperti sore ini. Langkah kaki saya yang menapaki jengkal demi jengkal trotoar jalan adalah nyata. Tapi fikiran saya melompat-lompat. Kadang hinggap pada angin yang masih setia memainkan lagunya membuat jilbab saya mengayun mengepak-ngepak. Sungguh elegan (?). Kadang mendarat pada semut yang berlari di anyaman pagar besi sembari memikul remah kue yang bahkan ukurannya lebih besar dari tubuhnya. Kadang pada plastik-plastik sampah yang tak kunjung membusuk ditimbun tanah. Kadang pada asap pekat yang keluar dari knalpot karatan sebuah bus yang seharusnya sudah dimuseumkan. Kadang pada nenek tua. Kadang pada abang becak. Kadang pada mbak-mbak berjas putih. Kadang pada kayu. Kadang pada batu. Kadang pada tanah. Kadang pada pohon. Kadang pada burung. Atau.... sarangnya...(?)



Saya menemukan sebuah sarang burung tergeletak tak bernyawa (?) di jalan setapak yang saya lewati. Ia seperti terletak di tempat yang salah dan pada saat yang salah. Iya sungguh disaat yang salah karena dengan malangnya ia ditemukan oleh saya.
Yang kalo saya belum dewasa maka saya akan membawa sarang itu ke kost dan memamerkannya pada teman saya dan akan saya mutilasi rame2 tanpa berperikesarangan. *apadeh.
Tapi berhubung saya sekarang sudah dewasa (?) paling saya hanya akan menyentuhnya-memfotonya dulu-mengguncangnya-mengintipnya jangan2 masih ada telornya-mengguncangnya lagi karena kecewa ga ada telornya-mengintip lagi karena penasaran-lalu sedikit diremas-lalu remas lagi-masih diremas-diremas-dan yah sedikit koyak-lalu karena kecewa tidak ada apa-apa maka dibuang dan dibiarkan lagi tergeletak seperti sediakala. -_-".

Saya pun akhirnya memutuskan untuk meneruskan lagi langkah yang tertunda. Lagi-lagi fikiran saya terbang. Saya membayangkan bagaimana rasanya memiliki sayap. Memandang bumi dari angkasa tentu akan keren sekali (?). Mengumpulkan satu demi satu rumput atau ilalang hanya mengandalkan paruh. Pertanyaannya, kalo saya butuh keranjang dimana saya bisa meletakkannya? Oh oke cukup diikat. Lalu saya terbang ke atas pohon, memilinnya satu persatu. Menganyamnya entah gimana caranya tanpa bantuan benang dan jarum (?). Dan--kita singkat saja--maka jadilah sebuah sarang. Sarang yang kokoh dan hangat. Sarang yang kalo bahasa korea itu artinya cinta*gak penting!. Sarang tempat dieraminya telur-telur saya (?). Kan ceritanya saya burung (?).

Dan tiba-tiba suara musik berhenti mengalun. Ia merefrein sendiri kembali ke awal. Kembali ke dunia nyata. Oke!

Jadi sebenarnya saya sedang menertawakan diri saya sendiri. Dengan kepedean tingkat dewa saya berkeliling di parkiran sore sepulang ngampus tadi. Mencari motor. Mati-matian saya mengingat dimana saya parkir pagi tadi. Hampir putus asa, tiba-tiba datang Pak Sugeng--satpam kampus saya.
"Nyari apa, Rin?"
"Motorlah, Pak."
Masa iya nyari Buku di parkiran, Pak. *begitu pikir saya dalam hati.
"Emang kamu bawa motor?"
"Iyalah Pak, orang bawa helm." Si bapak hanya nyengir.
"Tenanan koe nggowo motor?" (translate: beneran kamu bawa motor?) 
Alis saya bertaut. Bingung. Hening.
"Eh? Emangnya saya gak bawa motor ya, Pak?" *gubrak
"Ora.! Tadi kamu dibonceng temenmu, Rin, makanya kamu bawa helm."
Tiba-tiba cerah!! -_-"
"Oh iya ya Pak?? Makasih Pak." Lalu ngeloyor pergi nahan malu. Nyari-nyari lubang. Rasanya pengen nyungsep aja buat ngumpet. Etdah anak mudaaaa... T_T. Huks.
Maka beginilah saya. Terlunta-lunta di jalan menapaki senti demi senti trotoar sembari menenteng helm. Rasanya ingin tertawa. Tapi sedih juga sih. Malu sumpah. Itu mana Pak Sugeng tadi ketawanya puas banget pula. Jadi sebenernya siapa yang muda siapa yang tua sih? Huks. T_T

Tiba-tiba entah gimana caranya saya sudah sampai dikost. Tepat adzan maghrib berkumandang. Buru-buru saya masuk gerbang kost. Naik kelantai dua. Nyari-nyari kunci ditas. Naas kuncinya blibet sama sampah-sampah di tas saya (?). Lalu akhirnya ketemu dan saya masuk kamar.
Saya nyari gelas. Mengucurkan minum ke atasnya. Lalu duduk tenang. Mata terpejam dan berdoa. Doa buka puasa.
Allohumma laka tsumtu wabika aamantu wa'ala rizqika aftortu birohmatika yaa arhamarroohimiiin. amin.

Lalu slurp... segelas air itu menyiram kerongkongan saya. Alhamdulillah.
Terdengar suara iqomah. Lalu saya bersiap hendak ke WC. Dan tiba-tiba saya teringat sesuatu...
Oh iya saya lupa bahwa saya sedang libur.
HAAAAHHH????

Hening..........
            Hening...........
                         Hening..........



*Krak.  (Gambar hati pecah jadi dua). Mendingan saya pingsan aja. T_T.
Lalu saya gak makan dari pagi itu ngapain??? *guling-guling.
Ini namanya bukan kerajinan tapi.....Huks..T_T
Ya Allah....
Kenapa saya bisa begitu pelupa?
Apakah saya sudah beranjak tua?
Mengapa saya? Bagaimana? Apa saya? Saya kemana? Manusia? Tua? Amnesia? Aaaarrrrgggghhhhh*%*^^$%*OP^@#^&*(

Sabtu, 27 Oktober 2012

Tentang sate sapi

Daun yang jatuh dari pohonnya menari riang seirama angin di sore itu. Layung yang menggantung di langit mesjid melatari serombongan burung yang terbang membentuk formasi. Sementara si matahari masih mengintip malu dari balik awan. Meninggalkan semburat cahaya orange yang selalu menginspirasi para penoreh warna diatas kanvasnya.

Lantai mesjid goncang oleh suara hentakan kaki-kaki mungil di terasnya. Kadang diselingi tawa renyah yang menggema didinding-dinding mesjid. Seorang dari mereka jatuh berdebam tersandung sejadah. Semua mata serempak menoleh. Tercekat. Khawatir. Seolah waktu mendadak berhenti karenanya. Namun ia segera bangkit. Otot-otot di sudut bibirnya spontan berkontraksi meninggalkan tawa. Ia berdiri malu-malu. Gelegar tawa pun membahana. Gigi-gigi ompong mereka menyembul dari balik bibir.

Oke..lagi-lagi ini cerita tentang anak-anak.

Saya heran. Kenapa mereka suka sekali berlari? Mengejar entah apa dan entah apa yang dikejar. Seolah femur dan tibia mereka terbuat dari besi. Seolah kekuatan mereka hanya didapat dari sekaleng bayam milik Popeye. Dan seolah rasa lelah bukan lagi milik mereka.
Saya jarang melihat orang dewasa berlari. Terlambat masuk kuliah saja mereka tak mau repot-repot berlari. Haha iya tau itu mah saya. -_-".
Tolong jangan bandingkan dengan film india yang adegannya dua sejoli yang berlari-lari di taman sambil ngelilingin tiang!! Itu pengecualian. (yaiks. norak!!)

Hanya suara adzan yang mau menghentikan mereka. Benar saja. Begitu muadzin memegang mic, anak-anak TPA itu buru-buru mengambil posisi mencari-cari alat shalat mereka di tas. Sementara yang dewasa menunduk khusu'. Menikmati alunan suara indah adzan. Adzan yang perlahan beresonansi dan menelusup lembut mengisi tulang sanggurdi. Hati kami mencelos seolah ada kubikan air es menghantam dada. Otot-otot kepala kami berefleksi. Wajah kami dibuai oleh sejuknya buaian adzan nan syahdu.

Shaf depan mulai terisi penuh. Semua bersiap untuk menghadap Rabb kami. Mengulangi ikrar janji penghambaan kami 5 kali sehari.

"... Ku hadapkan muka hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri..."

"... Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semata hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam..."

Ikrar itu melucuti atribut keduniawian kami. Yang mahasiswa, lupa dengan skripsinya. Yang aktivis, meletakkan dulu beban amanahnya. Yang anak kost, lupa dengan tagihan rekening listriknya. Yang pejabat, yang seorang ayah, yang seorang ibu, yang karyawan PLN, yang pedagang bakso, yang tukang sapu, semuanya... Jabatannya kini sama didepan Rabbnya. ... Hamba Allah.

Sujud terakhir begitu shaydu. Seolah Rabb kami berada di setiap nadi kami.  Kini, otak kami berada dibawah. Setiap partikel darah kami perlahan mengalir menuju kepala. Berturbulensi membawa setiap hemoglobin berisi oksigen. Mensuplai nutrisi. Menyambung kehidupan untuk tiap neuron yang hampir koleps karena jenuh bekerja. Sementara hati terletak di atas otak. Bersujud itu berarti memuliakan hati. Kalo kata Ustad Syatori, orang yang mendahulukan hati daripada otak berarti dia sedang bersujud. Karena bersujud mengajarkan untuk lebih mendahulukan hati dibanding logika. Masya Allah...

Selesai salam, kini malam mulai terasa kesunyiannya. Semua tenggelam dalam doa penuh harap. Karena selesai shalat itu adalah termasuk waktu yang utama untuk berdoa. Lalu... tiba-tiba terdengar gema takbir dari speaker mesjid.

"Allaaahu akbar... Allaaahu akbar.... Allaaahu akbar. Laa ilaaaha ilallaaaahu wallaaaahu akbar. Allaaahu akbar walillaaaahil hamdu."
Jika tadi ketika shalat hati ini mencelos. Maka kini, tak hanya itu, tapi hati ini seperti sedang naik roller coaster di turunan tajam. Syahdu. Tapi menyayat.


Allahu Rabbi... hampir lupa kalo ini masih lebaran.
Allahu Rabbi... saya rindu mendengar suara itu. Rindu. Rindu. Rindu.
Mengingatkan saya pada kota kelahiran. Pada bunyi bedug yang dipukuli oleh sepupu-sepupu. Pada sarung-sarung dekil dan kopiah adik laki-laki saya. Pada masakan nenek dengan ketupat dan sekuali soto sapinya. Pada tawa renyah adik perempuan saya. Pada tangisan keponakan yang berantem berebut stik PS. Pada bunyi air mancur yang sengaja dinyalakan ayah untuk menghibur keluarga besar. Pada ibu...
 Ibu... :')...

Kutitipkan selaksa rindu ini pada aubade adzan dari speaker-speaker mesjid di tiap penjuru kota.

Bu...., pengen sate sapi. huks. :'(............

Rabu, 24 Oktober 2012

Terimakasih Tantra

"Perempuan adalah Ibu. Seorang ibu ibarat sekolah. Apabila kamu siapkan dengan baik, berarti kamu menyiapkan suatu bangsa yang harum namanya." (Dr. Yusuf Qardhawi)

***

Tempat duduk ini tiba-tiba saja bergetar. Suara mesin berdengung. Dan deretan rumah di samping kanan saya perlahan menjauh lalu hilang. Digantikan oleh pohon-pohon yang meloncat-loncat menjauhi saya. Lalu hamparan sawah. Dan menghilang. Tak bosan saya melihat lukisan Tuhan di balik kaca jendela. Indahnya tak bisa diungkapkan dengan kata. Proporsi warna, tipografi garis, tergambar jelas dikotomi antara desa dan kota. 

"Kamu yakin mau dimakan??" suara wanita muda yang duduk di depan saya membuyarkan lamunan saya. 

Ah... Saya hampir lupa kalo saya berada di atas kereta. Dan mulailah mata saya melancarkan aksi, piknik kesana kemari siap mengamati.
Ya, rupanya bocah laki-laki bertubuh gempal disebelah wanita muda itu  adalah anaknya. Siapa yang menyangka bahwa wanita berambut panjang hitam tergerai, berkacamata biru--iya dia pake kacamata biru gelap di kereta--, beranting bulat besar, dan sekilas mirip Krisdayanti itu ternyata menenteng bocah gempal di sebelahnya?? Kesan pertama saya begitu melihat Mbak-mbak muda itu adalah muda, cantik, energik, modis, dinamis, dan cerdas. Saya membayangkan dia kalo tidak kerja sebagai bintang film pasti seorang pekerja kantoran. Luar biasa. Wanita karir didepan saya ini ternyata mau menyempatkan diri di hari liburnya mengantar anaknya piknik bersama teman-teman sekolah TK nya. Jujur saja, selama ini paradigma saya adalah wanita metropolis macam mbak-mbak didepan saya ini akan memilih melimpahkan pengasuhan anaknya pada Asisten pribadinya a.ka. Baby siter karena sibuknya bekerja. Tapi didepan saya ini, dia adalah satu-satunya (sepertinya) Ibu tergaul yang menuntun anak TK dibanding dengan Ibu-ibu di kursi kompartemen lainnya.

Iya jadi ternyata saya didalam gerbong kereta ini telah terperangkap bersama bocah-bocah TK berseragam yang spertinya hendak berwisata ke suatu tempat. Jika saya menangkap pembicaraan ibu-ibu di sebrang kanan saya sih katanya mereka mau wisata kebun sambil bikin Pizza. Wow. *mata berbinar.

"Bu, kenapa keretanya maju?" seorang anak di kursi sebelah saya berseru dengan wajah bersemangat, bertanya pada ibu di sebelahnya yang sudah mulai berumur.
Haha, saya tak kuat menahan tawa mendengar pertanyaan-pertanyaan "cerdas" dari anak itu. Kalo saya jadi ibunya, mungkin saya lebih milih lompat aja lewat jendela kereta *yang ini lebay. -_-"

Taukah? Saya disini sedang berjuang menahan diri untuk tidak menggigit pipi bocah-bocah itu saking gemasnya. Serius deh. Saya liatin wajah mereka doang aja gak tahan nahan senyum. Mereka itu polos. Lucu. Jernih. Segar. :)
Ah, saya percaya mereka itu dekat dengan malaikat. Kesucian dan kelucuan mereka saja sama sekali tak terkurangi oleh kebrutalan orang-orang yang menciumi mereka. Harum aja jika menghirup nafas mereka. Percaya deh, saya yang berkecimpung di dunia gigi dan mulut saja sudah beberapa kali membuktikannya. *sotoy. B)

"Udah deh jangan resek!!" suara si ibu muda didepan saya mengagetkan lamunan saya.

Cukup kaget juga menyadari kalo kalimat si ibu tadi itu tertuju pada anaknya.
Jadi, saya yang biasanya sok akrab dimana-mana, agak sungkan juga mau melancarkan kesotoyan saya di depan orang yang high class macam si ibu muda ini. Padahal jelas beberapa kali lutut kami bersenggolan. Harusnya sih jadi awal pembuka percakapan. Tapi berulangkali saya urungkan. Entahlah. Rasanya... beda aja... apalagi setelah menyadari sedikit kekasaran yang mungkin tak sengaja terlontar dari si ibu itu pada anaknya.

Tiba-tiba terdengar suara Hape berdering. Dan si ibu muda itu mengangkat teleponnya dan berbicara menggunakan bahasa Inggris. Wow. Kekaguman saya yang tadi sempat turun, kini sedikit terangkat lagi begitu mendengar kecerdasan si ibu ini yang cas cis cus ngomong bahasa Inggris.
Bersamaan dengan itu, muncul trolli makanan, didorong oleh wanita cantik yang jika saya taksir sepertinya itu pedagangnya. Benar saja. Wanita berseragam itu menawar-nawarkan makanan kecil ke anak-anak TK dari kursi ke kursi. Ketika tiba di kompartemen saya, si bocah gempal itu mengguncang-guncang lengan ibunya. Si ibu yang sibuk menelepon mengabaikan anaknya.

"Tuh kan, Mimih gamau dengerin aku." seru si bocah itu sembari merengut menahan tangis.

Namun trolli makanan itu pun berlalu. Si ibu muda, dengan wajah menahan kesal menutup teleponnya dan karena matanya tertutup kacamata biru gelap jadi saya tak bisa melihat persis gimana ekspresinya. Jika boleh saya menebak, sepertinya si ibu itu melotot, soalnya si bocah itu nampak ketakutan dan...

"Hey!! Mimih lagi nelepon you know?"

Jangankan bocah itu, saya saja ikut-ikutan terlonjak mendengar bentakan si ibu tadi. Bocah itu secara ajaib langsung diam dan berhenti merengek.

"Kamu gak liat?" si anak membisu. "Memangnya tadi ada apa manggil-manggil Mimih?"
 "Aku cuma mau ngasih tau kalo ada penjual makanan." jawab si bocah takut-takut.
 "Bohong!! Kamu pasti mau beli, kan?" si anak menggeleng.
 Saya yang berulangkalil beristighfar dalam hati memilih untuk pura-pura tidur daripada  harus memperhatikan wajah si bocah lucu nan malang itu.

"Lalu apa?? Kamu mau nyuri??"
Saya masih pura-pura tidur. Mata saya benar-benar terpejam, namun telinga saya menyala. Saya tak tega melihat bocah lucu itu.

Astaghfirullah... tuh ibu kenapa sih?? Astaghfirullah. Ingin rasanya saya mengelus dada menahan emosi yang membuncah-buncah.

Kau tau apa yang saya pikirkan ketika itu?? Saya menarik kembali rasa kagum saya pada wanita muda itu.
Cara mendidik macam apa itu??? Merusak!! Destruktif!!
 Saya membayangkan akan seperti apa karakter anak itu ketika besar nanti jika si ibu bertahan dengan pola didikan keras macam begitu. Saya bisa melihat ada sedikit kepongahan dalam diri si bocah laki-laki gempal itu di awal saya jumpa dengannya. Kami berhadapan. Tapi si anak sama sekali tak mau peka dengan sekelilingnya. Saya yakin, jika anak lain yang ada didepan saya saat ini pasti dia akan melirik saya malu-malu. Lalu biasanya setelah begitu, dia akan saya beri senyuman termanis saya. *krik. Lalu si anak akan mengguncang baju si ibu dan si ibu akan ikut menoleh ke arah saya dan kemudian kami terlibat percakapan. Tapi sekali lagi saya melihat ada keacuhan dalam diri si bocah gempal itu. Saya sama sekali tak menyalahkannya. Tapi ini akibat lingkungan. Pola asuh. Hasil didikan orang tua.

Saya mungkin sotoy dalam hal ini karena yah saya belum punya anak (?). Tapi ini sedikit membuka mata saya bahwa helloooo... para wanita muda yang belum nikah dan calon ibu, plis deh jangan dulu mentingin gaya. Belajar gimana jadi ibu dulu dengan baik kek!! (termasuk saya juga sih) Grrr.....$&^%P(&**^) Saya hanya tak tega ada anak-anak lain yang nasibnya sama kayak bocah gempal yang duduk didepan saya itu.

Dan hey taukah?? Beberapa menit setelah bocah itu dibentak oleh si ibu, si anak turun dari kursinya dan bermain-main bersama temannya di gerbong kereta. Saya yang ketika itu masih menahan keheranan akan kejahatan si ibu muda itu, malu sendiri melihat keceriaan bocah itu.
Ah anak-anak... Selalu pandai mengejawantahkan rasa. Tak ada dendam. Tak ada sakit hati. Dia tulus. Polos. Saya sama sekali tak melihat tawa yang tertahan dari ukiran wajah mungilnya. Tawanya lepas selepas-lepasnya. Seolah dia baru saja dapat tambahan uang jajan dari ibunya. Ia amnesia dengan bentakan ibunya tadi. Tapi apakabar hatinya? Akankah kejadian tadi mengendap dan terkristalisasi menjadi sifat keras dalam dirinya? Teteh berdoa setulus hati
, semoga kamu baik-baik saja. amin.

Bocah itu, namanya Tantra... :')

Tantra, semoga Mimihmu kelak jadi berjilbab, solihah, anggun, dan lembut.

Tantra, tugasmu hanya mendoakan. Perkara lain itu adalah urusan Allah.


Tantra... terimakasih telah memberikan Teteh pelajaran berharga hari ini.
Tantra, tetaplah tersenyum. :'). *peluk hangat dari  Teteh ya, Tantra. :*.  *cups* Smangat!!! ^_^9
Miss u Tantra... :)

*padahal saya sama sekali tak pernah mengenal apalagi mengajaknya bicara* -_-"

~Perjalanan Jogja-Solo, Sabtu 20 Oktober 2012~

Senin, 22 Oktober 2012

Radar Neptunus

Jadi ceritanya saya dan sahabat saya--kita sebut HR--lagi sangat iseng (?) sore itu. Kami--entah dapat inspirasi darimana--sangat ingin sekali nonton. Kebetulan film yang cukup oke dimata kami saat itu adalah Perahu Kertas. Awalnya karena judulnya unik, saya pikir ya ini film tentang cerita anak-anak mengingat gambarnya animasi2 kapal2an kertas beserta pose pemeran filmnya yang sangat konyol (gaya radar neptunus) ditambah paradigma saya yang masih menganggap para pemainnya itu adalah masih remaja awal. Oke, apapun lah pokoknya intinya GAK SENGAJA milih Perahu Kertas deh.

Jadilah kami duduk manis di sebuah gedung dengan TANPA menenteng pop corn ataupun cola karena harganya yang sangat mahal, lagipula sudah saya bilang kalo kami lagi iseng jadi cukuplah sampai disini keisengan kami ini tanpa ditambah pengeluaran untuk jajan gajelas.




Kugy. Saya tersihir olehnya di awal saya nonton. Cuek. Unik. Gak centil kayak anak ABG seusianya di sinetron2. Susah bangun tidur. Dan jarang mandi pagi. *krik... salut deh sama Maudy Ayunda yang keren banget meranin Kugy.
Kugy suka menulis dongeng. Wortelina dan Nyit Kunyit adalah buku dongeng yang ia berikan pada Keenan di awal perjumpaan mereka. Dan Kugy percaya bahwa dirinya adalah agen Neptunus yang memiliki radar neptunus.
Keenan. Adalah agen neptunus yang kedua setelah Kugy. Dia kuliah di jurusan ekonomi padahal hobynya adalah melukis. Setelah membaca buku dongeng Kugy, Keenan dengan luar biasanya membuat sendiri ilustrasi gambar dongeng Kugy menjadi sebuah komik. Itulah yang membuat Kugy menangis haru dan dengan senang hati melantik sendiri Keenan untuk jadi agen Neptunus.

“Gy, jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri. Satu saat, kamu akan jadi penulis dongeng yang hebat. Saya yakin.”


"Apa yang orang bilang realistis belum tentu sama dengan apa yang kita pikirin."


"Ujung-ujungnya juga kita tau kok, mana yang diri kita sebenernya dan mana yang bukan diri kita, dan kita juga tau, apa yang ingin kita jalanin."


Atau ketika Keenan meminta Kugy untuk menebak apa judul lukisannya, Kugy bilang 'aku gak ngerti lukisan'.
"Kamu nggak perlu ngerti lukisan untuk suka lukisan. Cukup pakai hati aja."




Hingga akhirnya Kugy pun terperangkap oleh Keenan.

"Dear Neptunus, aku menc*nt**nya. Didepannya aku menjadi diriku sendiri, seperti airmu yang selalu membawa semua pesanku, diapun begitu. Membuatku hanyut oleh sorot matanya. Membuatku lupa oleh kesederhanaan suaranya. Sampai aku tak bisa katakan apa-apa padanya. Bahkan untuk sekedar bilang... rin*u. Atau butuh."


"Banyak yang gangerti, kalo terluka akan saling menyalahkan. Karena itu aku takut bicara tentang hati. Maka kutuliskan saja. Lalu kusimpan. Dan kukirimkan ke... Entah kemana..."


 
Satu hal yang saya harus jujur dari film Perahu Kertas Part 1 ini adalah, kocak banget, dan sarat pelajaran.  Malah kita belajar untuk lebih pakai hati dalam mengindera apapun.
“Kugy, kepala kamu akan selalu berpikir menggunakan pola ‘harusnya’, tapi yang namanya hati selalu punya aturan sendiri,” kata Karel kakaknya Kugy. “Ini urusan hati, Gy. Berhenti berpikir pakai kepala. Secerdas-cerdasnya otak kamu, nggak mungkin bisa dipakai untuk mengerti hati. Dengerin aja hati kamu.”

Mendengar pakai hati? Ah indahnya. Mungkin kamu bisa bohongin diri, tapi tidak dengan hati. hoho.

“Akan ada satu saat kamu bertanya: pergi ke mana inspirasiku? Tiba-tiba kamu merasa ditinggal pergi. Hanya bisa diam, tidak lagi berkarya. Kering. Tetapi tidak selalu itu berarti kamu harus mencari objek atau sumber inspirasi baru. Sama seperti jodoh, Nan. Kalau punya masalah,tidak berarti harus cari pac*r baru kan? Tapi rasa cin*a kamu yang harus diperbarui. Cin*a bisa tumbuh sendiri, tetapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya,apalagi kalau tidak dipelihara. Mengerti kamu?" Ini kata-kata Poyan untuk Keenan. :)


“Kadang-kadang langit bisa kelihatan seperti lembar hitam yang kosong. Padahal sebenarnya tidak. Bintang kamu tetap ada di sana. Bumi hanya sedang berputar,” kata Luhde.


"Carilah orang yang enggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-galanya."


"Keheningan seakan memiliki jantung. Denyutnya terasa satu-satu, membawa apa yang tak terucap. Sejenak berayun di udara, lalu bagaikan gelombang air bisikan itu mengalir, sampai akhirnya berlabuh di hati.”

"Hati tidak pernah memilih. Hati dipilih. Sebab, dia selalu tau kemana harus berlabuh."

Sekali lagi mata saya berbinar menemukan kalimat yang begitu emejingnya. Ya berbinar doang sih, tapi maksudnya kagak ngerti apaan. Hmmm... tunggu. Hati dipilih??




Hadeuh terserah deh... saya ngantuk. Tarik selimut-bacaDoa-tidur. Zzzzzz 

Jadi pesan yang mau saya angkat dari cerita saya ini adalah "Dont Judge the Book by its cover!"....(?)

Senin, 15 Oktober 2012

Ketika sms bertepuk sebelah tangan

Once upon a time, di sebuah kota kecil bernama Edinburg Skotlandia, lahirlah seorang anak lelaki dari sepasang suami istri yang hidup sederhana. Anak lelaki itu tumbuh menjadi anak yang cerdas, sayangnya ia tak diberi kesempatan banyak untuk mendapatkan pendidikan formal semasa hidupnya. Meski begitu, ia terbiasa belajar sendiri dan cukup mendapatkan banyak pelajaran dari ayahnya yang juga ahli dalam fisiologi vokal (bahkan saya sendiri pusing mempelajari ini di anatomi, nanti kita bahas tentang ini di next story).

Beberapa tahun kemudian, di Boston, lelaki ini dengan kecerdasannya yang luar biasa berhasil menemukan sebuah benda yang bisa mengirimkan dan menerima lebih dari satu pesan melalui sebuah kabel--yang dalam bayangan saya adalah huruf-huruf berjalan-jalan melalui kabel (?). Benda ini (entah kenapa) dinamai telegraf yang kemudian si telegraf ini jadi bisa mengirimkan suara dan kita singkat saja ceritanya karena saya malas terlalu bertele-tele yaitu bahwa pada intinya benda ini dinamakan telepon dan yup betul sekali si laki-laki ini namanya adalah Alexander Graham Bell. Fyuh....*cipratin keringat.

Oke saya akui kalau tuan Bell ini berjasa sangat besar bagi kemajuan peradaban dunia. Apalagi selain menemukan telepon, dia juga berhasil menemukan fotopon--semacam alat yang dapat mentransmisikan suara melalui cahaya. Benda ini cikal bakal penemuan laser dan serat optik yang--kita singkat lagi cerita kita bahwa--akhirnya penemuannya ini sekarang *tring...* jadilah HP alias Hand Phone alias Telepon Genggam yang kerennya lagi dia bisa ngirim pesan dalam hitungan detik--memecahkan rekor merpati yang kerja lembur mengantar surat naek pesawat *apadeh. Hebatnya lagi HP ini telah berhasil mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat dan menyatukan insan-insan yang bahkan terpisah benua dan samudera. *tsah.

Tapi tapi tapi... HP juga bisa bermanfaat jika penggunaannya benar. Dan bisa juga memiliki mudarat jika suasana hati si pemilik HP sedang jelek tingkat dewa. Kunci dari semuanya adalah berbaik sangka. BERBAIK SANGKA....

Maka berbaik sangkalah jika sms anda tak nyampe-nyampe. Mungkin ketika itu deretan huruf-huruf anda tengah terhambat oleh layangan yang nyangkut di kabel, atau memang lagi gangguan, atau pulsa anda habis?? Yang dengan penuh rasa haru sejauh saya alami pernyataan terakhir biasanya adalah yang lebih tepat. -_-"

Maka berbaik sangkalah jika sms anda sebenarnya sudah terkirim tapi sang penerima pesan tak kunjung membalas sms anda. Mungkin dia lagi sibuk sehingga belum sempat balas sms. Mungkin lagi kuliah sehingga hapenya di silence. Mungkin hapenya adalah produk dari jaman fir'aun sehingga batrenya aja harus dikaretin, idup segan mati tak kunjung. Mungkin sang penerima pesan tiba2 amnesia sehingga dia lupa kalo punya hape. Mungkin lagi ga ada pulsa. Mungkin hapenya lowbat. Mungkin lagi di pesawat. Mungkin lagi pelesiran ke bulan. Mungkin--yang lebih ekstrim--lagi kebelet b*ker. Mungkin.... mungkin.... mungkin... mungkin... ya mungkin aja terus sampe 3 kali puasa 3 kali lebaran, mungkin aja terus sampe Bang Toyib akhirnya balik lagi nemuin anak bininya.

Huff...

Cukup tau saja.. (bukan cukup tau banget), bahwa..


Waiting is a boring thing.

Seperti yang dialami oleh seorang gadis lugu bernama Deini.. *plak!?! PletaaaKK!!?? $^% jepLaKK!!$&* ....poww!!...poww!! poWW!!?? puffF...$&%*^%&*& ...gitu banget... 
Jadi, si deini itu habis dikritik oleh rekannya gara2 tak mengontrol kinerja rekannya. Dia disarankan harus lebih agresif mengsms rekannya untuk mengingatkan kalo hari ini tugasmu ini tugasmu itu bahwa jangan lupa untuk ini jangan lupa untuk itu, yang belum adalah ini yang belum adalah itu. Dan bahwa--kalo boleh jujur--si deini ini sebenarnya bukanlah mempermasalahkan smsnya tapi BALESAN smsnya yang sering membuatnya kecewa.

Tak hanya sampai disitu, kegalauannya hari itu ditambah lagi dengan sms dari seniornya yang padahal hari itu tak ada angin puting beliung tapi tiba-tiba saja seniornya itu bertanya mengenai amanahnya di tempat lain tentang apakabarnya, bagaimana kemajuannya, sekarang sibuk apa, kapan rapat terakhir, dan kapan akan diadakan rapat lagi. Padahal sesungguhnya si deini ini bukanlah ketuanya dan bahwa dengan menelan pil pahit si deini sendiri tau bahwa 'sang ketua' memang termasuk dalam daftar orang yang LAMA BALES sms.

Oke dengan kecewa yang membuncah buncah pada orang-orang yang LAMA BALES sms itu, dia pun akhirnya mengambil langkah seribu untuk menghindari berkoordinasi dengan org2 seperti itu dan langsung saja menjarkom rekan-rekan kerjanya untuk merapat di pertemuan mendadak yang merupakan pertemuan kedua setelah LIMA minggu tidak rapat. *pijit-pijitin-pala.

Belum reda kegalauannya, si deini pun mulai buka internet niat buka email sekalian buka fb, tiba-tiba PING!, dia di chat oleh seniornya yang lain. Seniornya itu menanyakan kabar kelompok lingkaran di kampus yang pemandunya tak kunjung mengisi materi--padahal harusnya sudah pertemuan ke 5--agar si kelompok lingkarannya itu di ganti pemandunya dan di alihkan saja ke mbak senior itu. "Gimana dek? Pemandu lama sudah di sms kan??" --dan taukah anda? bahwa pemandu lama itu juga masuk ke dalam daftar orang yang TIDAK PERNAH BALES sms dan TIDAK PERNAH NGANGKAT telepon. Huh hah huh hah. *cape juga ngomong tanpa titik koma.

Maka... dengan mengucap innaalillahi wa innaa ilaihi rooji'un tumbang sudah air mata si deini berguguran di medan pipi karena tidak kuasa menahan gejolak galau dalam dadanya. *apadeh. Harusnya kalau ingat umur si deini ini tak menangis.

Itulah sepenggal kisah balada pemilik HP yang dikecewakan oleh pemilik HP lain yang tak berperi ke HP an. Tak taukah kalian wahai orang-orang yang LAMA bales sms bahwa ada berapa banyak waktu yang harus di habiskan untuk sekedar mengetik sms kepada kalian?? Oh tentu. Untuk orang-orang sibuk setiap detik itu berharga. Waktu adalah uang.

Taukah kalian wahai orang-orang yang LUPA bales sms, berapa rupiah pulsa terbuang hanya untuk mengsms kalian?? Untuk yang pulsanya dijatah tentu sangat eman-eman.

Tak taukah kalian wahai orang-orang yang TIDAK bales sms, berapa orang terdzolimi karena perbuatan kalian?? Terutama yang menyangkut amanah. Kinerja. Menyangkut kesejahteraan orang banyak. Menyangkut keberlangsungan aktivitas orang lain.


Tak taukah bahwa hal ini akan menyisakan titik noktah hitam di hati para pengirim?? Bikin suudzon yang berujung pada ngomel-ngomel dan merusak mood.

Tak taukah bahwa kepercayaan itu sangatlah mahal harganya??

Kelak. Ketika kalian bermimpi menjadi pemimpin atau bermimpi menjadi bisnisman pengusaha, cacat itu, yang pernah menorehkan luka di hati para pengirim akan--disadari atau tidak--merugikan kalian.

Yang bermimpi jadi pemimpin. Semua rakyat pasti akan setuju bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang cepat tanggap. Pemimpin yang responsif. Cekatan. Dan mumpung sebentar lagi pemira, saya TEKANKAN pada kalian calon pemilih bahwa pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang CEPAT kalo bales sms. Bahkan kalo perlu sambil mimpi pun dia masih sempet bales sms. Karena ini akan mempengaruhi kinerja. Memperlancar komunikasi. Dan mempercepat progres. Oke jadi kesimpulannya cara sederhana mengetes kelayakan seorang pemimpin adalah dengan mengsmsnya di pagi hari semisal jam 4 subuh. Hho. Akan keren sekali tentunya jika dia langsung bales karena itu cirinya dia habis tahajud walaupun sebenernya dia blm tidur karena begadang nonton bola yang penting kita apresiasi balesan smsnya. Yang GAK BALES??? Kelaut ajah...

Yang bermimpi jadi pengusaha. Silahkan tanya pada siapa saja, akan lebih tertarik berbisnis pada yang cekatan atau yang lelet??? Menjalin bisnis itu butuh kepercayaan, kawan. Dan lihatlah Rasulullah. Manusia terpercaya sepanjang zaman. Yang kalo kata Ust Salim A Fillah, Rasulullah itu dipercaya karena dikenal, sementara kita dipercaya karena tak dikenal. Dan asumsinya benar adanya. Lihatlah orang yang lelet bales sms itu rata-rata adalah sekumpulan orang-orang yang kita kenal dengan baik. Coba aja cek kalo kita sms pake nomor asing dan kita mengaku sebagai dosen pembimbing skripsinya, dijamin !! lagi b*ker pun dia akan cepet2 ceb*k hanya untuk bales sms. Astaghfirullah.... *maaf jorok, gara-garanya kelewat senewen sih. :'(.

Intinya adalah orang yang responsif responsible itu adalah calon orang hebat. Kalo bukan calon pemimpin. Dia pasti calon pengusaha sukses. Atau paling tidak dia memiliki penghargaan sebagai orang yang dapat dipercaya.

Dengan tidak menafikkan adanya alasan-alasan yang rasional kenapa orang-orang itu bisa setega itu lama/tidak balas sms, tetap saja minimal orang itu membuat si pengirim kecewa dengan menunggu lama, atau mungkin suudzon. Percayalah, akan beda kok rasanya ketika ada orang yang biasanya responsif balas sms namun disuatu hari dia lama bales, si pengirim pasti akan lebih banyak memiliki toleransi daripada mengirim sms kepada orang yang memang dikenal LAMA bales yang sekalinya alasannya itu RASIONAL ya tetap saja kepercayaan yang sudah runtuh tak bisa dibangun kembali, bawaannya pasti suudzon.

Tulisan ini adalah pengingat khususnya buat saya. Saya yang mungkin juga pernah termasuk pada golongan orang yang tiba2 terserang amnesia dan lupa bales sms dan lain sebagainya. Apalagi saya paling anti bales smsnya yang bunyinya "Bu, saya tadi habis nabrak orang dan saya sekarang ada dikantor polisi, kirim uang ke nomer rekening ini XXXXXXXXXX segera ya, bu. Ttd anakmu." Dari hongkong???? sejak kapan saya punya anak?? Atau sms yang bunyinya, "sebarkanlah sms ini! Kalo tidak saya sumpahin kamu beranak dalam kubur." Dan sms gak mutu lainnya.
Over all, dengan penuh husnudzon saya yakin tak ada orang yang tega memasukkan saya ke dalam daftar catatan hitam itu. haha..*minta di tabok.

Oke jadi cerita ini bukanlah fiktif belaka, apabila ada kesamaan nama tokoh , tempat, waktu, dan peristiwa, hanyalah kebetulan belaka. Tak bermaksud menyindir. Jika tersindir ya segeralah bertobat dan kembali ke jalan yang benar *apasih. 
Kita sama-sama untuk lebih peka terhadap dampak yang mungkin timbul dari perbuatan kita. Karena kalo kata senior saya "Kita tak akan tahu lewat amalan mana Allah meridhoi kita masuk syurgaNYA." Paling tidak, dengan tidak mendzolimi saudara kita, kita mendapatkan satu balasan kebaikan dari-NYA. ^_^
nb: eh kalo saya gak bales sms maklum yak. hehe.   -_-"