Minggu, 05 Mei 2013

kaukah nobita?

halo

hai

apakah kamu nobita?

bukan, anda mencari nobita?

tidak, apakah kamu doraemon?

bukan, tapi saya suka doraemon.

bagaimana dengan nobita? apakah kamu suka?

hmm.. nobita terlalu banyak mengeluh, dia sering menunda pekerjaan, tidak percaya diri, seringkali mengandalkan orang lain untuk mengerjakan kewajibannya, tidak mau berusaha, ingin mendapatkan sesuatu yang spontan tanpa mengeluarkan tenaga, selalu ingin terlihat keren didepan teman-temannya, dia juga manja, tidak mandiri, dan masih banyak lagi...

kau hanya melihat satu sisi. perbaiki matamu.

iyasih, nobita baik, setiakawan, penurut pada ibunya, berhati lembut, selalu ingin menolong sesama, tapi tetap saja saya lebih suka doraemon.

ada satu hal yang kau lupa darinya.

apa?

dia orang yang tulus. tidakkah kau hitung berapa kali ia menyelamatkan dunia? tapi ia tak minta pamrih terlebih pamer.




***

"Dan sungguh, pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari apa yang ada dalam perutnya (berupa) susu murni antara kotoran dan darah, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya." (QS An-Nahl 66)

ketulusan itu adalah ikhlas ...
seperti susu murni
ia terletak antara kotoran dan darah, namun tetap terjaga kemurniannya.



"Bahwa Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian ialah syirik yang paling kecil. Mereka bertanya: Apakah itu syirik yang paling kecil ya Rasulullah? Beliau menjawab: Riya! Allah berfirman pada hari kiamat, ketika memberikan pahala terhadap manusia sesuai perbuatan-perbuatannya: Pergilah kamu sekalian kepada orang-orang yang kamu pamerkan perilaku amal kamu di dunia. Maka nantikanlah apakah kamu menerima balasan dari mereka itu." 

menggigil diri ini tatkala membayangkan Allah menghardik kita : " Pergilah kamu sekalian kepada orang-orang yang kamu pamerkan perilaku amal kamu di dunia. Maka nantikanlah apakah kamu menerima balasan dari mereka itu?"

Astaghfirullah... Lindungi kami dari segala penyakit hati, Ya Rabbi... 
Ajari kami ketulusan... T_T

Jumat, 03 Mei 2013

terdampar

Jika saja jari-jari saya ini adalah perut (?), niscaya dia akan gendut. Kaku. Jarang gerak. Bagi saya satu-satunya cara agar jari-jari saya sixpack adalah dengan menulis. Ahai jika Laila Majnun binasa karena dirundung rindu menggebu yang mendera menyiksa pada seorang pujangga. Jika Maria di ayat-ayat cinta menderita koma karena pedihnya patah hati karena cinta tak berbalas. Maka disini saya memendam selaksa rindu setinggi gunung merbabu yang tak lain dan tak bukan pada..... menulis *ampundeh hentikan khayalanmu,nak!

Cobalah tengok betapa busuknya blog ini, bau apek, buluk, usang, hina, dina, penuh jaring-jaring spiderman, ada kecoa, cicak, semut, jangkrik, kodok *omaigad gembira loka ngungsi semua.

Banyaaaak sekali yang ingin saya ceritakan. Tentang ini , itu, si ini, si itu, disini, disitu, kesini, kesitu, semuaaaa.... Tapi sekarang lupa. Terevaporasi bersama lenyapnya awan Maret dan April. Sungguh, waktu itu sangaaaattt cepat berlari. Tak peduli betapa payahnya saya mengejarnya. Dia tetap acuh tak acuh. Dan sekarang dia seolah menertawakan saya karena saya yang telah tertinggal begitu jauh di belakangnya. Saya terhenyak sesaat. Merutuki betapa lambatnya saya dan betapa tak adilnya dia karena tak memberi saya kesempatan untuk beristirahat.

Ketika itu, awan Maret menggiring saya pada sebuah negri tak berpenghuni. Asri. Dengan kemurahan-Nya yang tak terperi, surga seolah bocor didepan mata saya. Garis abu yang menjadi jalur pijakan saya ini, membentang hingga ke langit. Tak percaya? Saya memang berada di atas bukit. Kadang jalanan akan berubah menjadi curam, terkadang menjadi tanjakan. Tongkat Nabi Musa seolah berhasil membelah lautan berwana hijau itu menjadi dua bagian. Garis abu ini terkadang berkelok-kelok dan seolah memutari setengah lingkaran bukit. Ya, kanan dan kiri saya ini bukit, ada yang berselimut permadani hijau, ada yang berupa warna abu kehitam-hitaman yang terdistorsi. Permadani hijau itu terhampar sejauh mata memandang. Dimana-mana mata saya hanya menemukan warna hijau, hitam, dan biru. Yang saya indera tentu tak sesederhana ketiga warna itu. Mereka semua bergradasi indah dengan komposisi warna yang hanya bisa tercipta dari cat alami buatan Sang Penguasa Alam. Belum lagi abu kehitam-hitamannya bebatuan yang bertumpuk-tumpuk rumit satu sama lain. Ada batu cadas yang seolah ditebarkan dari ledakan gunung berapi. Ada kristalisasi kalsium alam yang menghasilkan massa ber-pH basa berupa batu kapur. Ia berwarna putih kekuningan dan terkadang mengintip malu-malu di balik si batu cadas. Masya Allah. Bahkan jika seluruh pelukis ternama di seluruh dunia diminta untuk memindahkan pemandangan didepan bola mata saya ini ke atas sebuah kanvas, niscaya tak akan mampu menyamai mahadahsyatnya buatan tangan Tuhan, bahkan hanya senoktah, seatom, semikron. Bahkan.... pena saya pun terseok-seok memunguti kata demi kata yang dirasa tepat untuk melukiskan betapa indahnya surga dunia yang terpantul dari lensa mata saya ini. Bahkan... yah saya speechless. :')

Setibanya di Pantai Wediombo, saya dan kawan-kawan hanya transit untuk mentipkan keempat motor yang kami tumpangi. Lalu ke WC sekedar melemaskan saraf dan otot setelah 4 jam di perjalanan, kemudian langsung berangkat menuju pantai tujuan kami. Ketika itu, adzan maghrib terdengar sayup-sayup dari (mungkin) satu-satunya menara mesjid di sana. Karena perjalanan khawatir kemalaman, maka kami memutuskan untuk menjamak shalat. Rencananya kami hendak mendirikan tenda di Pantai Jungok. Pantai Jungok terletak di balik bukit yang terletak di pantai Wedi Ombo. Akses ke sana harus memutari dulu bukit, dan perjalanan ke bukit itu sekitar 45 menit. Karena bukit yang akan kami daki cukup tinggi, maka akan lebih keren kedengarannya kalo kita sebut saja ini sebagai... naik gunung. B)


Baru seperempat perjalanan, jalanan sudah gelap, hanya diterangi bulan dan sinar kecil yang terpancar dari 4 senter yang kami bawa. Padahal kami semua ada 8 orang. Saya yang dari pagi belum makan (bayangkan! T_T) merasa jalanan di hadapan saya semakin berputar. Melilit-lilit dan lemas luar biasa. Teman-teman saya sudah hafal jika saya diam, adem ayem, damai, sentosa, merdeka, sejahtera, syalalala..... berarti. saya. lapar. *ngok.

Sampai di pantai jungok jam 7 malam. Kami gotong royong mendirikan tenda. Luar biasa gelap disana, penerangan hanya dari bulan, bahkan sinar senter yang kami bawa jika disatukan dan dinyalakan bersama-sama tak berhasil menampakan banyak hal didepan kami. Alangkah lemahnya manusia.  :'(.

Debur ombak yang menemani kami malam itu menambah merdu dan syahdu suasana disana. Kita ber-8 seperti pemeran utama film '5 cm' (ngakak), atau bak maen di film doraemon yang terdampar di pulau roti, atau kayak di film Pirates of Caribean saat si kapten Jack Sparrow dicampakkan Black Pearlnya di pulau tortuga *ngaco. Keren deh pokoknya. Kalo saya punya 7 jempol, udah saya kasih dari dulu ke ketua rombongan kami. Gokil banget.

Selesai mendirikan tenda, saya dan teman-teman berdebat mengenai boleh tidaknya wudhu pake air laut. Saya dengan anugerah kesotoyan saya yang luar biasa keukeuh bilang selama ada air tawar sebaiknya pake air aqua. huks. adegan ini tidak untuk ditiru ya karena tidak lulus sensor. T_T. Bentar, saya jeduk-jedukin pala dulu ke tenda*apasih. 

"Ada seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah: Wahai rasulullah, kami berlayar di laut dan hanya membawa sedikit air sebagai bekal. Jika kami pergunakan air tersebut untuk berwudhu, maka kami akan kehausan. Untuk itu, apakah kami boleh berwudhu dengan menggunakan air laut? rasulullah menjawab: Air laut itu suci dan mensucikan, dimana bangkai hewan yang berada di dalamnya pun halal." (HR. Al-Khamsah)

*Imam At-Tirmidzi dan Al-Bukhari mensahihkannya. Jadi sebenarnya boleh ya wudhu pake air laut karena termasuk air mutlak. :D

Selesai shalat jamak maghrib dan isya, kami makan dengan bekal nasi yang kami bawa dari jogja. Didepan tenda kami menggelar tikar. Kami berkumpul ber-8 dan bermain game yang kami ciptakan sendiri. Ditemani hot coklat plus alunan debur ombak. Masya Allah banget deh.

Kami ber-8 sama-sama berasal dari tasik yang kuliah di UGM. Sama-sama angkatan 09 kini menginjak semester akhir. Empat orang putra dan 4 orang putri. Tiga orang dari teknik sipil, satu dari elektronika dan instrumentasi (elins), satu sastra inggris, satu kedokteran hewan, satu kedokteran umum, dan saya kedokteran gigi. Kami semuanya berteman dari semester awal kuliah. Tugas putra adalah mengangkut tenda, air mineral 8 botol 1,5 L, kompor, nenteng tikar, mendirikan tenda, masak, menggulung tenda, blablabla, syalala, nguing nguing. Sementara tugas yang putri adalah..... membantu dengan doa. Haha.    

Yang tak terlupakan adalah ketika waktunya tidur. Kami ber-4 (putri), tidur beralaskan sehelai tikar yang digelar diatas pasir putih dan beratapkan langit hitam pekat bertabur bintang. Subhanallah indahnya tak terkira. Belum lagi MP3 alamnya, suara deburan ombak yang bergulung-gulung menjilati batu cadas. Kami semua mematikan lampu emergensi, sehingga suasana benar-benar gelap gulita. Kami tak sempat mengumpulkan ranting ketika menyusuri gunung karena suasana benar-benar gelap, sehingga kami tak bisa membuat api unggun atau apapun yang bisa menghangatkan badan kami. Alhasil kami tidur berselimut beberapa lapis kain. Jaket tebal, selimut kain, bahkan mukena, sajadah, semua dimanfaatkan untuk membalut badan kami. Kocak.
Tak ingin tiidur rasanya. Malam itu terlalu indah untuk dilalui begitu saja. huks :').  

Entah jam berapa, saya terkesiap. Dan refleks meraba-raba hape. Hape saya basah tertutupi embun. Kami semua pun bangun dan segera mengambil wudhu. Lalu bertasbih bersama alam. "maka nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?" (QS Ar-Rahman).

Tak menunggu lama. Semburat cahaya jingga mengintip malu dari balik bukit. Berpendar memancarkan kilaunya. Saya seolah baru pertama kali itu melihat alam yang dengan kepongahannya memamerkan kecantikannya. Seiring jarum detik di jam saya berbunyi, peri-peri jingga itu bermunculan dan berkelindan menyebar membentuk semburat cahaya keperakan. Aduhai Allah... betapa dahsyatnya... :')

Ketika matahari naik sepenggalan, sadarlah kami bahwa surga sepertinya memang bocor. Bener-bener serasa di dunia ini ga ada siapa-siapa selain kami ber-8. Ber-8 aja udah sebegini maruknya kami berlari-lari kesana kemari sambil tereak kegirangan karena kami tak menemukan satupun kertas bernama skr*ps* disini dan berdoa sepenuh jiwa dan raga berharap dia benar-benar lenyap dimuka bumi ini *noyor-kepala-kecoa XD.
Kamu mau salto jungkir balik guling-guling, kagak bakal ada satpam yang nimpukin percaya deh pulau ini bener-bener sepi. Emmm...enggg... sebenernya di ujung kanan nun jauh disana dari tenda kami, berdiri tenda asing sih yang kagak tau itu siapa *abaikan-saja* XD. Sungguh berasa pulau milik pribadi deh. Beuh... pulau Caledonia-nya Gu Jun Pyo di Boys Before Flower mah kelaut aja. Ini. Jauh. Lebih. Keren. Suer. *sotoy.

............(*nunggu mood upload poto ya,hho).............
  
'Hei sedang apa kau disitu???' tiba-tiba si harapan membentak saya di kejauhan. Dan saya terperanjat. Mengucek-ngucek mata dan nyusut iler (?). Omaigad skr*psi???? Cukstaw. U know what i  mean-lah. Cukup tahu gak pake toge, ntar jadi gehu*halah, harapan itu masih ada. *mengepalkan-tangan-dengan-tampang-jumawa. B) 

Kamis, 28 Februari 2013

kilauan februari

Dengan torehan tinta pertama saya di penghujung Februari ini, saya sunting selaksa rasa yang telah berbaik hati menghantarkan saya ke depan pintu kedewasaan.
Saya bisikkan rasa terimakasih saya...
...untuk hujan yang setia menyumbangkan ketenangan diteriknya padang ujian.
...untuk sepi yang berkelindan diantara gemuruh kesibukan.
...untuk ketenangan yang dengan kesabarannya memaksa air lakrimal keluar dari peraduannya.
...untuk sujud panjang yang entah bagaimana ia selalu bisa meredakan jerit tangis punggung yang kelelahan menahan beban.
...untuk badai topan yang berhasil menyapu kejahiliyahan dalam diri. 
...untuk udara yang masih berbaik hati mengisi tiap mikron tempat di alveolus.
...untuk awan, putihmu selalu mengalihkan duniaku.
Dan ...untuk mentari februari,
...maaf, karena di tahun ini saya selalu lupa menyapanya.

Adalah februari, yang disebaliknya tersembunyi satu hari tambahan setiap tahun kabisat
Adalah februari, yang karenanya, Mall-mall besar mendadak berhias merah jambu *apasih
Adalah februari, yang terdapat satu hari dimana manusia-manusia pengekor saling bertukar coklat.
Adalah februari, bulan yang menurut saya paling cantik diantara bulan-bulan lainnya.
Adalah februari, bulan yang selalu berhasil membuat hati saya mencelos setiap menuliskan tentangnya.
Dan juga, adalah februari...
yang tak pernah absen mengurangi satu demi satu bilangan tahun saya di dunia

22 tahun usia saya kini. Badai februari membuat saya lupa tanggal 11. Genap usia saya 22 tahun di tanggal 11 kemarin.
Tepat di tanggal itu saya harus bimbingan skripsi, seperti biasa, adrenalin saya terpacu tiap kali menghadap dosen skripsi. Selesai bimbingan, muka saya kusut. Tak ada bedanya lah dengan baju yang belum disetrika, lemah letih lesu lunglai semua bercampur aduk jadi satu. Saya pun pulang kekosan, menanti Mbak Hapzah (teman kkn saya). Dia katanya mau mengcopy film. Hmm.. rupanya mbak hapzah menangkap ada ketidak beresan dalam air muka saya petang itu. Dan tumpahlah penat saya seharian itu pada mbak Hapzah (thanks a lot, mbak, huks *srooot :'(..

Dan..
Tadaaa!! Tiba-tiba muncul Rinda dan Hime dari balik pintu kamar saya sembari menenteng sekotak kue lengkap dengan lilin kecilnya. Subhanallah surprise sekali. Seketika saya jadi sumringah. Agak tersentak juga sih menyadari "oh iya ya hari ini saya ultah" *plak!  Dan karena lapar sekali, kami pun memutuskan untuk meneruskan cerita-cerita ditempat makan.

Di tempat makan muncul lagi hantari, bundo Siti, dan Rena, lagi-lagi menenteng sekotak brownies berhias lilin. Saya lagi-lagi speechless. Dan berkumpullah kami dalam satu meja. Akrab dalam canda dan tawa, walaupun sebagian baru saling kenal. Teman kkn, teman sekelas di kampus, dan teman permatagama berkumpul semua jadi satu. Aneh rasanya, jaring-jaring pertemanan yang saya tebarkan kini menjadi sebentuk lingkaran di meja makan.. Ya Allah.... betapa saya sangat mencintai mereka karenaMU. :'). Saya jadi teringat kata teman saya, ketika kita mengenal satu teman baru, sejatinya kita telah berhasil membuka jalan lain menuju ratusan jaring-jaring pertemanan. Karena kini temannya teman kita itu juga akan menjadi teman kita. Sekarang terbukti. Subhanallah. :')

Terimakasih untuk kalian semua atas surprisenya, ditengah kegalauan masa-masa tugas akhir saya, lilin kalian bagaikan cahaya ditengah kegelapan *tsah. Terimakasih untuk kadonya, kado dari temen-temen sekelas, temen-temen kkn, dan teman-teman permatagama, i love u all. :')., *peluuk...

Dan untuk teman-teman menggila Permatagama, kalian sukses bikin deyni bad mood karena menunggu kalian, huks. Waiting is a boring thing ternyata. Dan kartu bertuliskan "Keep ontime!!" cukup berhasil mendamprat deyni. haha. Terimakasih juga buat 'kecoa' yang berhasil membuat suasana ceria di tengah bad mood nya kalian yang marah karena saya makan duluan, haha. (Beneran loh deyni ga takut kecoa, cuma pas deyni mau nangkep itu kecoa, keburu ditangkap Hime. hhe *noyorkepalakecoa). Kado kalian so green!! hhi.

Ada lagi kado spesial dari teman lingkaran saya. Kado cantik berwarna pink, plus sebuket bunga mawar, ditambah sekotak agar-agar. Jazakumullah khairan katsiron, solihah semua. Uhibbukum fillah. *hug. (lain kali jangan diemin deyni lagi dong, deyni kira itu beneran, huks. micyu :*. )

Dan untuk Papa, Mama, dan adik saya tercinta. Terimakasih atas ucapannya dipagi buta. Deyni akan tagih janji Papah ngasih kado ntar kalo deyni mudik, huks. Kangen mereka Ya Allah sungguh. Cium jarak jauh dari teteh. *Cups *fyuh....


Ya Allah, aku tanpaMU butiran debu.T_T... 22 tahun ya? Ya Allah *garuk-garuk tembok.

Malam berlalu,
Tapi tak mampu kupejamkan mata dirundung rindu
kepada mereka
yang wajahnya mengingatkanku akan surga
wahai fajar terbitlah segera,
agar sempat kukatakan pada mereka
"aku mencintai kalian karena Allah."
Umar ibn Al-Khaththab

Jumat, 22 Februari 2013

gajadi

Lucu baca komen-komenan orang di facebook,
x : udah lama nggak nulis ya, bang? Ditunggu nih tulisannya.
y : nunggu galau baru nulis.

Haha... saya sebaliknya. Justru ketika galau saya menghindari untuk menulis. Saya khawatir tulisan saya malah jadi ga keruan. Atau jadinya malah curhat. Ujung-ujungnya mengeluh.

Dan ketika jemari ini menyentuh keypad laptop, semua indera saya mendadak jadi peka.
Menyadari bahwa usia saya kini telah 22 tahun.
Otak saya lagi konslet.
Sudahlah. Gajadi nulis.

Sabtu, 19 Januari 2013

Senyum tanpa syarat

Alhamdulillah... hujan kembali datang. Seperti biasa, gemericiknya selalu memantulkan gelombang nada, beresonansi dan merambat melalui udara, sampai ditelinga dan urat sarafku pun berelaksasi. Ia ternyata masih menyapa hati. Membuatnya mencelos lagi. Ah..itu sensasi yang selalu kurindui.

Kau mengerti? Jika hatiku selalu berseri seperti ini. Mudah bagiku untuk tersenyum. Ya kau benar, hujan selalu berhasil menerbitkan senyum diwajahku. I feel so wonderfull. No matter how cold is it. Ah tapi kau salah. Percayalah. Aku selalu berusaha untuk menjadikan senyumanku tak bersyarat. Hentikan mengatakan bahwa kau akan tersenyum karena blabla... kau akan tersenyum jika lalalala... kau akan tersenyum ketika nguingnguing... Tidak. Stop! Dengar! Senyum adalah harta yang paling berharga yang kita punya. Yang hanya karenanyalah, kaum papa pun bisa bersedekah. Hey kawan, tersenyumlah. Dan rasakan sensasinya. *tsah.

Haha... jadi ceritanya lagi sok mellow gitu deh hari ini. Sudah kubilang. Hujan selalu melemparkanku seolah berada di atas pentas sinetron dimana semua kamera menyorotiku malam ini. *pLak! pletak!JeplaK!! Gubrak!%$&%^*(& Pow! pOw! huff... gitu banget.
Tak bosan kan mendengar dongengku? Sekarang sudah jam 12 malam. Dengarlah aku ingin berkisah sebelum kau tidur. Kuharap cerita ini bisa kau ajak bersama mimpimu. Berkelindan membuai tidurmu. Didekap oleh setiap sel memorimu. Masuk ke alam bawah sadarmu. Mengendap. Mengkristal. Dan melenyapkan kosakata lupa dalam temporalmu. Intinya, aku sedang menghipnotismu (?).

Alkisah di suatu pagi yang cerah dimana mentari walaupun tak kunjung menampakan dirinya, ia ada dibalik awan (?). Tak ada hujan pagi itu, tak ada badai, tak ada angin topan, tak ada angin puting beliung, tak ada banjir, *hasyah intinya pagi itu biasa saja (?). Hanya satu yang tak biasa, yaitu si kakek--yang tengah melamun di teras rumahnya sembari sibuk mengaduk-aduk teh hangat--tiba-tiba mendengar suara siulan dari kejauhan. Siulan itu seirama dengan suara hentakan kaki. Bukan hentakan kaki yang melangkah. Tapi melompat-lompat dengan ceria. Suara itu perlahan mendekat. Mendekat. Dan benar saja, didepan rumahnya melewatlah seorang anak kecil, berpakaian lengkap seragam sekolah merah putih, melompat girang sembari menggendong ranselnya dan bersiul. Siulan yang menebar aroma kegembiraan.

Anak itu mengalihkan perhatian si kakek dari tehnya. Cukup lama si kakek memperhatikan anak itu, hingga ketika anak itu menoleh ke arahnya, si anak tersenyum. Senyum yang sangat manis. Dan serasa ada listrik yang menyengat si kakek. Merambat cepat melebihi kecepatan cahaya dan menghantarkan energi positif. Mengubah ion dalam tubuhnya hingga keluarlah zat yang memacu kerja darah, oksigen meningkat, menenangkan arteri, melancarkan peredaran darah dan hey, si kakek hampir lupa bahwa anak itu menunggu balasan senyumnya. Maka dengan sepenuh hati, si kakek membalas senyum anak itu. Senyum termanis yang pernah ia berikan. Hingga anak itu menghilang ditelan pagar rumah sebelah, si kakek baru sadar bahwa ia masih tersenyum. Dan Masya Allah. Taukah? Senyum itu. Senyum anak itu mengingatkannya pada seseorang. Sahabat lamanya semasa SD. Apa kabarnya ia sekarang? Oho.. dia tak mau buang-buang waktu, si kakek segera masuk ke rumah dan meraih kertas dan pulpen. Lama berselang, ia pun siap mengirim surat.

Berhari-hari kemudian. Di sebuah tempat yang letaknya berpuluh kilometer jauhnya dari tempat si kakek, tampak seorang berseragam orange berjalan menapaki pekarangan rumah seseorang dan bersiap mengetuk pintu. Setelah berkali-kali si Pria Orange mengetuk pintu, muncullah lelaki tambun dengan rambut beruban dan ia bertanya 'ada surat untukku?', tanpa menjawab si Pria Orange yang tak lain adalah Pak Pos itu segera mengeluarkan sepucuk surat. Si Bapak Tambun itu terheran-heran ketika membalik surat. Lama sel memorinya menemukan data di temporalnya, dan Masya Allah, itu surat dari teman lamanya. Dan lihatlah, mendadak hari itu adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, ia tak henti-hentinya tersenyum, dan ia membagi kebahagiaannya dengan si Pak pos dengan memberikan 'tips' tambahan.

Begitu pintu menjeblak tertutup, si Pak pos masih diam mematung. Ia tak percaya mendapatkan uang sebanyak itu di hari sepagi ini. Si Pak Pos pun pulang menaiki motornya sembari tersenyum bahagia. Ouch... di jalan, di lampu setopan tepatnya, ia bertemu dengan seorang pengemis tua renta. Bajunya kumal, dan ia berjalan sembari terpincang-pincang. Mendadak si Pak Pos jadi mellow. Ia tengah bahagia hari ini, dan apa salahnya jika si Pak Pos membagi kebahagiannya dengan si pengemis tua renta itu. Tanpa pikir panjang si Pak Pos langsung mengulurkan sejumlah uang pada si pengemis. Sejumlah uang yang menurutnya tak seberapa. Tapi...

Si Pengemis itu takjub. Matanya panas. Ya Tuhan air mata itu tiba-tiba saja mengalir haru di pipinya. Ia berulang kali berucap terimakasih pada si pengendara motor. Dan dengan bergetar ia menepi. Ia hitung uangnya, ternyata cukup untuk membeli 2 nasi bungkus untuk ia dan cucunya. Terpincang-pincang ia menuju warung makan. Ia bergetar. Ya Tuhan, akhirnya ia bisa beli nasi, setelah 2 hari ia memunguti nasi basi dari tong sampah, dan dengan kejamnya matahari siang tadi memanggang tubuhnya hingga gemetar karena sisa keringatnya sudah terperas dengan sempurna dari tubuhnya yang renta. Sekarang akhirnya ia berhasil menenteng 2 bungkus nasi untuk cucunya. Di bawah terang bulan ia menapaki jalan menuju gubuknya. Dan hey,,, hujan turun. Si kakek pengemis berteduh. Di bawah etalase toko yang sudah tutup si kakek melihat seekor anjing kedinginan. Berteduh juga sembari menatap kosong ke arah hujan. Si kakek iba pada si anjing. Mendekatinya, mengelusnya dengan penuh kasih sayang dan setelah hujan reda si kakek mengajak serta si anjing pulang bersamanya.

Setelah lelah berjalan, si kakek pengemis akhirnya sampai di rumahnya. Ruangan ukuran 3x3 meter di pelosok dusun itu adalah rumahnya. Rumah yang beralaskan tanah dan berdinding bambu itu dinamai gubuk oleh tetangga-tetangganya. Ah tak masalah baginya. Asal ini rumah halal. Si kakek mengetuk pintu, dan lihatlah dengan gembira cucunya yang sudah lama menunggu di rumah menyambutnya. Hilang sudah rasa penatnya seharian itu begitu melihat senyum di wajah cucunya. Cucu laki-lakinya. Bocah usia 6 tahun itu tampak tegar dibandingkan bocah lain seusianya. Wajahnya sumringah ketika melihat keresek hitam yang di tenteng oleh si kakek. Dan malam itu, si kakek pengemis, si bocah laki-laki dan si anjing bersama-sama memanjatkan syukur kepada Tuhan mereka. Mereka pun makan dengan gembira malam itu. Menikmati setiap butir nasi yang singgah di lidahnya. Membiarkan setiap kuncup kecap berebut menyentuh makanan paling langka sedunia. Dan pada akhirnya kenikmatan yang hanya bisa di rasakan sepanjang lidah itupun lenyap di telan tenggorokan. Ah sungguh nikmat. Lihatlah. Bahkan mungkin mereka jauh lebih pandai bersyukur daripada kita.

Merekapun akhirnya tidur di atas tikar dengan perut terisi penuh. Tidur dengan ditemani sebuah lampu petromak sebagai satu-satunya penyumbang cahaya di ruangan itu. Mereka lelap. Terbuai mimpi akan harapan esok pagi. Hingga mereka terbangun dengan suara gonggongan anjing. Anjing yang si kakek pengemis bawa semalam kini menggonggong dengan sangat kerasnya hingga seisi kampung terbangun di pagi buta. Suara teriakan kebakaran bersahutan dengan suara kentongan di Pos Ronda. Api dari petromak kini menjilati dinding bambu hingga ke atap rumah dengan ganasnya. Si jago merah itu mengeluarkan asap hitam pekat hingga menyembul menggapai malam. Berkat si anjing, si kakek dan si bocah itu terbangun dan selamat dari maut semalam.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, si bocah lelaki cucu si kakek pengemis itu, bertransformasi menjadi seorang presiden di sebuah negara. Dahsyat!! Ya, dia kini menjadi seorang presiden. Presiden yang hampir mati dililit api. Kalau saja malam itu tak ada si anjing, mungkin kini bukan ia yang menjadi orang nomer satu di negaranya.

Begitulah. Cerita ini selesai, kawan. Hey... kau belum tidur kan? Biarkan aku menyelesaikan conclusionnya. Kau tau apa maknanya ini? Ini berawal hanya dari sebuah senyuman. Iya senyuman. Sederhana bukan? Senyuman yang berbingkaikan sebuah kisah yang terajut dalam sebuah rantai kebaikan. Maka, tak salah kan jika Allah menempatkan senyuman sebagai sedekah? Karena kebaikan walaupun seberat zarrah. Pasti akan ada balasannya. Pasti! Mari kita mulai dengan memberi yang paling sederhana. Yaitu senyuman. Karena dengannya, tanpa kita sadari kita juga telah mengajari orang lain untuk memberi. Mari kita tebarkan bibit kebaikan. Yakinlah, dia pasti akan tumbuh subur walaupun dalam kegelapan. Dan percayalah suatu hari nanti, kau akan memetik buahnya.

Tak percaya? Mari kita buktikan!! Dan kita tunggu, seberapa panjang rantai kisah kebaikan yang kita tebar dari senyuman kita. Mungkin di belahan bumi lain, efek senyuman yang pernah kita ciptakan itu, masih saling menyambung dan menghasilkan buah ranum dimana-mana. ^_^

*Hey kau tampak cantik tersenyum seperti itu didepan cermin. ^_~...

Kamis, 10 Januari 2013

Cumulonimbus


Kapas putih yang menggumpal puluhan ribu meter di atasku itu, bak sayap-sayap malaikat yang dibentangkan mendekap bumi. Menaunginya dan berpilin indah dengan gelombang cahaya surya. Acak abstrak. Seolah lewatnyalah langit mengejawantahkan rasa.

Ini tentang awan.
Ia beriringan menjelajahi tiap jengkal bumi. Kemanapun angin berhembus membawanya, tak masalah baginya. Karena adanya ia selalu mebawa berita gembira bagi siapa saja yang masih menaruh harapan pada massa.

Taukah?? Aku suka caranya melukiskan busur lengkung senyum didadaku jika sedu sedan merasuki jiwa. Kilauannya selalu menghiburku. Karena hangatnya dhuha yang mengintip disebaliknya selalu menghujamkan keyakinan bahwa masih ada surya yang kan menjemput esok pagi.
Aku suka caranya menuruti tiap mata yang melihatnya--yang mengeluarkan titah tiap jiwa yang berimaji sehingga tertoreh sebentuk harap darinya.
Aku suka caraya mengumpulkan tiap-tiap butiran air di tubuhnya. Aku suka caranya bersabda dalam hening. Kan hujan...bisiknya.

"Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa kabar gembira, mendahului kedatangan rahmat-Nya, sehingga apabila angin itu membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu...." (QS Al-A'raf:57)

"Dan Kami telah meniupkan angin .... dan Kami turunkan hujan dari langit...." (QS Al-Hijr:22)

 "Apakah engkau tidak memperhatikan, bahwa Allah menurunkan air dari langit...." (QS Az-Zumar:21)

Awan... aku suka caranya meluncurkan bulir-bulir kristal, caranya menyiramiku hingga kuyup dan habislah dibasuhnya rasa gundah gelisah dan kesedihanku saat itu. Terlebih lagi, aku suka caranya bertasbih, caranya bersimpuh patuh, caranya mengajarkan ketaatan dan membahasakan titah agung...... Sang Penguasa Alam.

"Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hambaNya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira." (QS. Ar-Rum: 48)


Tidakkah kau rasakan gembira yang membuncah-buncah tatkala awan menurunkan hujan? Seiya sekata dengan bumi dalam mendendangkan syair alam. Lihatlah!! Dibawahnya aku seperti pemeran utama yang disoroti malaikat Rokib dan Atid. Tak mengindahkan orang yang lalu lalang disekelilingku. Karena saat itu bagiku, mereka hanya figuran dalam tiap mozaik film kehidupanku. Aku memutar kembali memori masa kecil ketika diguyur hujan. Bah.. bocah ingusan. Bukannya menepi dan menghindar, malah ikut melompat-lompat girang dan berlari-lari sambil bersorak. Berteriak-teriak bersama teman dan memutar-mutari tiang kayak Sakh Rukh Khan. *plak!!

Hey!! Kau kah itu? Yang kunanti tatkala kering kerontangnya hati?
Kau kah itu? Yang dapat menambahkan kekuatan pada jiwa yang putus asa?

"Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa." (QS. Ar-Rum:49)

"Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS. 11:52) 

"(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentramanan daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu)." (QS. 8:11)

Hujan. Entah bagaimana ia membasuh selaksa kesedihan menjadi senyuman. Entah bagaimana ia menampar kerasnya batu hingga menyisakan lekukan, menghujam ke dada yang kering karena ego dunia, menukik menghantam bocah-bocah yang menari riang menantang dingin. Berkecipak di tanah dan menimbulkan denting indah dan bau basah.
Hey kau!! Iya kau, siapa lagi? Masih kah kau merutuki hujan? Menggerutu karena basah? Astaghfirullah Ya Rabbi ampuni ketidaktahuan kami.

"Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin, mengapa kamu tidak bersyukur??" (QS Al-Waqi'ah:68-70)

Astaghfirullah... Alhamdulillah Ya Rabb.. :')

Dan surat cinta dari Tuhanku sudah menjawab bagaimana itu bermula jauh hari sebelum satelit ditemukan.

"Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian menggumpalkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kegendaki. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (QS An-Nur :43)

Wow mataku berbinar. Ada ayat kilauan awan di Al-Qur'an. Dan setelah membaca ayat itu aku berkesimpulan bahwa kilauan awan itu adalah halilintar.  Subhanallah cetaaaar membahana!! *Bzzzzzttt nggak ngerusak flow kan?-____-".

"Dan guruh bertasbih memuji-Nya, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki...." (QS Ar-Ra'd :13)

Termenung dalam irama derasnya suara hujan. Sesekali bersahutan dengan kilauan awan *tsah.
Baru saja awan memuntahkannya ke bumi. Membawa suasana tenang, damai, sejuk, syahdu, dan dingin di hati. Hujan selalu menyelipkan cerita tentang masa kanak-kanak.  Tentang mereka yang menanti hujan bukan hanya karena kisah keriangannya yang mengiringi tawa bahak dibawah guyurannyanya, bukan hanya karena kisah basah berjamaah dengan teman sebaya, atau kisah rajutan persahabatan dalam kotor mandi lumpur yang mengiringinya. Bukan. Terlebih karena... hujan selalu dengan ajaib bisa mendekatkan anak-anak dengan ayah ibunya. Berkumpul di rumah menikmati rintikannya dalam kebersamaan. Ah hujan, selalu mengingatkanku pada satu nama...  Apakabarnya ia? :')

Tertunduk sejenak. Bermunajat dalam khusu' dilatari suara hujan yang masih deras memuntahkan keramahannya. Taukah?


"Doa tidak tertolak pada dua waktu yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun” (HR Al Hakim, 2534, dishahihkan Al Al bani di Shahih Al Jami’, 3078)

“Allah berfirman: di pagi ini ada di antara hamba-hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan yang ingkar kepada-Ku. Adapun orang yang mengatakan, ‘kami diberi hujan karena rahmat Allah, rizki dan karunia-Nya,’ maka ia beriman kepada-Ku dan kufur terhadap bintang-bintang. Adapun orang yang mengatakan, ‘kami diberi hujan karena bintang ini dan bintang itu,’ maka ia beriman kepada bintang-bintang dan kufur kepada-Ku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, lafaz milik Al-Bukhari)

“Carilah pengabulan doa pada saat bertemunya dua pasukan, pada saat iqamah shalat, dan saat turun hujan.” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak: 2/114 dan dishahihkan olehnya. Lihat Majmu’ fatawa: 7/129. Dishahihkan Al-Albani dalam al-Silsilah al-Shahihah no. 1469 dan Shahih al-Jami’ no. 1026)

Bukankah ini musim hujan?? Ya Rabbi... Dengarlah!! Berapa bait doa yang akan kami panjatkan setelah awan cumulonimbus ini menunaikan tugas sucinya... :')

Allohummaghfirlii dzunuubii wali waali dayya warhamhuma kama rabbayaani saghiiraa.. amin.

Jumat, 04 Januari 2013

Refleksi (2)

Apakabar hati? Apakabar ruhiyah? Sudahkah kita bersyukur hari ini?  Mata kita masih bisa membaca laman ini, 10 pangkat 15 juta neuron diotak kita masih berfungsi. Bayangkan! Dan ketika nafas masih berhembus. Dan ketika jari masih bisa mengetik artikel ini :). Alhamdulillah.

Mari kita teruskan bercerita. ^_^.
Alkisah...
A : “Menurutmu, mengapa singa menjadi raja hutan? Mengapa tidak gajah yang ukurannya besar atau simpase yang pandai?
B : ”Ehmm , karena dia kuat?”
A : “Kurasa jawabanmu kurang tepat”
B : “Lalu mengapa?”
A : “ini sebuah cerita dari India,menurut legenda singa selalu melewati jalan yang lain daripada jalan-jalan yang dilewati oleh mahluk hidup selain singa. Dia mampu membentuk jalan baru dan berani menempuh jalan ini sendiri.”
B : ”Apakah kamu yakin itu benar?”
A : “Aku sebenanya tidak yakin tentang cerita ini, tapi hikmah yang aku yakini dari cerita ini”
B : ”OK, aku mengerti, cobalah hal yang beda gampanganya”
A : “Memang benar, untuk dapat dikenal kita harus menjadi pioneer,berani mencoba hal baru yang berbeda, dan tanpa rasa takut.”
B : ”tapi taukah kamu jika hal yang beda ini bisa salah atau benar di pandangan masyarakat?”
A : ”Ya. Mungkin, kita perlu suatu batasan untuk hal yang berbeda ini. Kita tidak boleh seliar singa tapi juga tidak boleh setakut kelinci”
A : ”jadi kembali ke kata wajar bercampur ekstrem??”
A : ”Hehehe”

Kisah di atas saya dapatkan dari seseorag yang paling menginspirasi saya. Seseorang yang mampu membius siapa saja meskipun di awal jumpa dengannya. Beliau adalah dosen dikampus saya. Bersahaja. Cantik. Anggun. Beliau berjilbab dengan gaya Harajuku style. Dan cerdas tentu saja. Beliau biasa dipanggil dokter Ika.^_^.
Hey, pernahkah kalian mengikuti seminar atau training public speaking? Saya pernah ikut training semacam itu tapi sepertinya icon nyata dari keterampilan public speaking terhebat yang saya kenal tak lain adalah dokter Ika. Percayalah. Begitu beliau selesai mengajar pasti seisi kelas mahasiswa akan tanpa sadar memasang ekspresi tersenyum.
Oh iya, pernah lihat iklan sampo Lifeb*oy?? Nah di iklannya kan ceritanya ada 2 anak kecil cowo mengetuk pintu rumah, lalu si pemilik rumah adalah perempuan muda dengan rambut hitam panjang lebat membuka pintu dan gatau kenapa dia mengibaskan rambutnya ke arah dua anak cowok itu dan saya semakin bingung karena kedua anak itu malah senyum mematung gitu deh pokoknya. *hubungannya? Yak persis. kalo boleh sedikit lebay ekspresi kami (mahasiswa) persis seperti kedua anak cowok itu. Senyum mematung. Terpesona tepatnya. Bedanya, kami bukan terpesona karena rambut tapi karena pembawaan beliau yang halus dan cara berbicaranya dengan tak melepaskan senyum. ^_^. Percayalah ini sungguh menyihir.

Dokter Ika yang sederhana dan baik hati. Saya jatuh hati di awal saya bertemu dengannya. Begitu menginspirasi. Selalu menyelipkan kalimat-kalimat penuh hikmah di awal atau di akhir kuliahnya. Kau tau? Saking ngefans nya saya dengan beliau, saya pernah menuliskan "*tanda love* drg Ika" di buku fotokopian kuliah saya. Huh sayangnya buku itu lagi dipinjam adik kelas saya. Kalau ada pasti saya foto dan saya upload disini. :).

Beliau adalah dosen yang super sibuk di kampus kami. Jadwalnya padat. Beliau adalah ilmuwan di bidang Tissue Engineering. Ahli Bioceramics. Jurnal-jurnalnya sudah diakui didunia internasional. Subhanallah sekali. Jika saya sebutkan satu-satu disini kehebatannya akan penuh blog saya olehnya. Paradigma saya dulu mengatakan bahwa : Mahasiswa dikampus yang berhasil menjadi tim peneliti bersama beliau hanyalah orang-orang hebat. Saya ingat dulu ketika semester satu diajak oleh Kelompok Study Fakultas saya untuk melihat ke Lab Research ruangan tempat beliau biasa penelitian. Disana beliau memperkenalkan bahan barunya semacam serbuk untuk mengganti tulang, percayalah ketika itu saya benar-benar terkesan dengan penelitian beliau walaupaun saya gak ngerti meneliti apa sebenarnya mereka. Dan saya melihat ada sekitar 3 mahasiswa yang berada bersama beliau diruangan itu. Ketiga mahasiswa angkatan atas itu adalah orang-orang hebat semua dikampus. Organisator namun otaknya brilian. Wow. Saya sungguh berbinar-binar. Oke singkatnya di mata saya yang ketika itu masih mahasiswa baru, beliau sudah sangat menyihir dengan cara beliau mengajar, dan sudah cukup menginspirasi walaupun hanya lewat kata dan sikap.

Dan yang paaaallliiiiing menginspirasi adalah beliau hidup lama di Jepang. Kau pernah lihat video Mas Danang A Prabowo dari IPB? Mahasiswa yang bikin video inspiratif tentang bagaimana menuliskan mimpi-mimpimu di atas kertas dan kemudian mencoretnya satu persatu jika mimpi itu tercapai? Termasuk ketika ia berhasil mewujudkan mimpinya dapat beasiswa kuliah ke Jepang. Dari SMA kelas 2 pulalah saya pertama lihat video itu. Dan semenjak itu saya mati-matian bermimpi untuk bisa kuliah di Jepang. Masya Allah *tepok jidat. Lihatlah alangkah gila nya saya. Dan sekarang? Saya mengenal dosen paling menginspirasi saya juga alumni Jepang. Bagaimana semakin ngilernya saya setiap beliau bercerita mengenai pernik kisah-kisahnya di Jepang.

Satu hal yang saya sukai adalah cara beliau mengingat nama kami, mahasiswanya. Jika kau sekali saja bertanya di kuliahnya dokter Ika, percayalah, namamu pasti akan ia ingat. Bahkan ia akan memanggilmu dengan namamu sendiri. Kau tau bagaimana rasanya diingat nama oleh seorang dosen yang hebat? Sungguh Amazing!! Oke mungkin saya lebay. Tapi sungguh, hal sederhana yang bisa membuat orang terkesan adalah dengan bersusah payah mengingat namanya. Walaupun kelihatannya sepele. Tapi dengan begitulah maka orang yang kita ingat namanya akan merasa dianggap penting dan dihargai. Dan kau tau gimana degdegannya saya dulu yang masih menjadi mahasiswa tingkat satu, memberanikan diri bertanya dikuliahnya beliau dan dengan lembut beliau bertanya. "Siapa namanya?"... "Oh ya Rini apa yang mau ditanyakan?" ...atau kalimat ini.... "Baiklah jadi begini Rini, blabla..." ... "Rini apakah masih bingung?" "Rini mungkin mau bertanya?" subhanallah... Rini???? Masya Allah. Mencelos hati saya bagai naik roller coaster begitu nama saya disebutnya. *lebay memang.

Sederhana. Cara yang paling sederhana membuat orang tertarik dengan kita adalah dengan kita tertarik dulu pada mereka. Yak cukup dua poin itu untuk menjadi public speaking hebat. Berbicara sambil tersenyum dan menyebut nama siapa saja yang bertanya lalu mengingatnya. Itu sudah. Subhanallah.

Begitulah saya, hanya mengagumi beliau tanpa memiliki kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat. Tak mengapa bagi saya. Namun suatu saat semoga saja Allah mengabulkannya. Amin.

Di semester 4 libur Ramadhan. Saya tidak pulang ketika itu karena ada beberapa hal yang harus saya urus di kampus. Dan tiba-tiba saja saya ditawari oleh salah satu senior untuk menjadi asisten penelitiannya salah satu dosen di biomedika (Kantor bagian yang sama dengan dokter Ika). Wow. Kesempatan langka. Tanpa pikir panjang saya langsung menyetujui. Ada konsekuensi yang harus saya hadapi ketika menerima keputusan ini. yaitu jatah libur ramadhan saya hanya seminggu. Libur seminggu untuk mahasiswa yang dari sebrang pulau Jawa sih mungkin wajar saja, tapi saya? Saya yang dari Jawa Barat hanya 8 jam dari jogja.(Hanya?) Hellooo seminggu itu sungguh sesuatu.

Tapi saya yakin bahwa ini tak akan sia-sia. Maka saya pun memutuskan untuk ikut penelitian dengan dokter Dyah, penelitian di Lab bersama tikus-tikus. Membedah kaki tikus, mengebur tulang kakinya, dan menggantinya dengan serbuk yang akan diteliti, lalu menjahitnya lagi. Wow Subhanallah sekali pokoknya. Bagaikan berada di ruang operasi. Belajar menyuntik, mengiris/merobek, mendekapitasi tikus atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa yang lebih membumi adalah membunuhnya *mukaserius*, memutilasi kakinya, menguliti dan mendagingi (maksudnya melepaskan dagingnya dari tulang), dan yang paling dahsyat adalah belajar menjahit daging dan kulit. Jangan bayangkan semudah menjahit kain, jauh banget, perlu keterampilan dua tangan ditambah dengan sensasi kenyal-kenyal kulit dan daging bonus darah segar. Hha omaigad super sekali.*apadeh.
Gilanya lagi saya jadi kepikiran jadi spesialis Bedah Mulut. Haha. Keren kayaknya jadi spesialis bedah mulut. Keren??? Yup. Karena Palestina!! Wow. Ya Palestina!!! Saya perempuan dan saya hanyalah calon dokter gigi. Mana bisa ke Palestina? Tapi mungkin akan lain ceritanya jika saya adalah spesialis Bedah mulut. Walaupun dokter gigi, spesialis bedah mulut juga kan ahli operasi? Kan dengan kondisi perang disana pasti banyak yang mengalami patah rahang?*sotoy* Begitu pikir saya ketika itu. Haha.. am i crazzy? Yeah i am. Betapa bersemangatnya saya bermimpi.  Tapi dengan naasnya kenyataan menghempaskan mimpi saya jatuh begitu saja ke empang (?). Mimpi gila saya (agak) luntur ketika mengetahui kuliah spesialis bedah mulut adalah 6 tahun. Ajegile!! Usia berapa saya nikah kalo gitu? *pletak!! 

Oke kembali ke jalan yang benar. Sekitar 3 bulan saya ikut penelitian dengan dokter Dyah dan saya senang bisa akrab dengan dokter Dyah. Beliau adalah dosen pendamping di Laboratorium Anatomi (tempat saya bekerja). Dan ketika tiba saatnya musim PKM. Senang rasanya ketika salah satu teman saya mengajak saya riset bareng bikin proposal PKM. Belakangan saya tau alasan dia mengajak saya ya karena saya ada pengalaman riset dengan dokter Dyah. Maka kami ber-5 membuat suatu penelitian yang intinya adalah membuat serbuk pengganti tulang dari bahan cangkang telur. Dan tentu saja dosen yang paling tepat membimbing kami adalah dokter Ika. Alhamdulillah. Senangnya tak terkira ketika PKM kami lolos didanai dan dengan dosen pembimbing hebat, dokter Ika. Semangat penelitian menggebu membuat konsentrasi kami terpecah antara PKM, kuliah, 7 praktikum, dan persiapan KKN. Wow semester 6 yang sangat hectic. Dahsyat!!

Selesai musim PKM dan kenyataan pahit bahwa kami tak lolos PIMNAS, tibalah saatnya kami mencari dosen pembimbing skripsi. Dan saya beserta dua orang rekan sePKM saya ditawari dokter Ika untuk menjadi anak bimbingannya beliau. WOOOOTTT??? Subhanallah Ya Rabb. Senangnya tak terkira.

Kau tau, teman se bimbingan skripsi saya juga singa semua. Ada yang mantan ketua BEM fakultas sekarang ketua ikatan senat FKG se indonesia, mantan ketua kelompok study fakultas, mahasiswa berprestasi dari fakultas tahun 2011, dan peraih beberapa lomba karya ilmiah. WoWow!! Saya?? huks. *galiSumur

Lihatlah!!! Betapa banyaknya kan singa disekeliling saya?? Ini tak lain adalah jalan Allah. Skenario Allah. Sungguh. Betapa saya ta pernah kecewa ketika berdoa kepada-NYA. Pasti banyak kejutan didepan. Pasti!! Hal Jazaaaa ul ihsaani ilal ihsaaan. Balasan kebaikan selain kebaikan pula.

Hajar berlari diantara shafa dan marwa. Tapi air zam-zam muncul dari telapak kaki Ismail. Ya Robbi kadang keajaiban tidak muncul dari Ikhtiar kami, tapi dari jalan yang tidak kami sadari. Maka, seperti Hajar kami akan berikhtiar, bersipayah, berlari. Dengan itu Ya Robbi, lihatlah kesungguhan kami. Terbitkan keajaiban untuk kami dimanapun Kau kehendaki. Amin. :).

Mimpi saya untuk ke Jepang atau ke Palestina mungkin sedikit luntur. Tapi kita lihat saja nanti. Mungkin Allah punya rencana yang jauh lebih indah. :).Lets say Allahu Akbar!!! ^_^9