Kamis, 06 Februari 2014

Lupakan

Ini kisah yang biasa saja. Tidak penting. Sangat tidak cetar membahana badai tornado tukul arwana sejagat raya. Sangat tidak asik untuk diperhatikan, dibaca, apalagi di like, hanya pantas untuk--kalian jiwa-jiwa tersesat yang tak sengaja mengklik laman ini--langsung di close saja. Plis ini penting. Keburu wajah unyu-unyu polos kalian ternodai dengan kejamnya oleh tulisan ini. Karena ini lebih membahayakan dari sekedar menyebut nama mm... ng.. *nahan nafas*...*nahan kent*ut*... v-v-vo-vol-de-mort *buru-buru lari kayak orang yang habis nyalain mercon*. Ah tentu saja saya bercanda. Haha*gajelas banget idup lo ni. Saya hanya ingin memastikan anda tidak terlalu serius menanggapi tulisan ini. Anggap saja tulisan ini hanya angin. Tak terlihat memang, namun ia terasa. Ah ya tentu saja saya masih berharap ada secebis hati lembut yang mampu mencungkil hikmah disebaliknya (itupun kalo ada XD).

Untuk kesekian kalinya saya sebal sekali dengan hape, wasap, line, facebook, twitter, atau apapunlah itu yang memudahkan orang lain menghubungi saya. Saya sedang tidak ingin diganggu malam ini*eaa sok artis banget lu. Sungguh. Bukan karena sepertinya akan keren jika dicari-cari orang dan karena susah dihubungi maka di-stalking-in orang. Ouch! Sungguh motivasi saya bukan itu. Saya hanya sedang butuh waktu privasi. Butuh waktu menyendiri. Saya mohon biarkan sekali ini saja saya merdeka dari benda menyebalkan ini. Maka akhirnya saya cabut battery hape saya, saya cash. Biarlah dia istirahat barang sejenak. Tak terus menerus menjerit seperti ayam keinjek banteng. Berisik.

Ini adalah malam terhening setatasurya. Tak hanya tiktok jam dinding yang mendadak nyaring, tapi juga suara langkah semut(?), suara degup jantung. Duduk didepan pintu kamar, memeluk lutut, pandangan langsung menjulang ke langit, ditambah kerlingan bintang gemintang disana-sini. Ahay geli sekali saya melihat gaya saya ini sungguh sinetron sekali. Tapi kali ini saya terlalu serius untuk bisa tertawa. Ehem saya sedang serius.

Saya merasa merdeka sekali malam ini. Entah kenapa. Tidak dianggap ada oleh orang-orang disekitar saya tak disangka bisa semenyenangkan ini. Dan untuk pertama kalinya saya sangat bersyukur karena virus narsisme ternyata tidak menjangkiti saya*what?. Saat ini, saya yang marginal ternyata lebih kentara dibandingkan sanguinis saya. Ditengah kerumunan orang, saya ingin menghilang, seperti Jini oh Jini yang tinggal menganggukkan kepala, maka dengan ajaibnya bisa berapparte dan berdisapparte sesuka hati.

Ada kalanya saya merasa teknologi ini terasa begitu memuakkan. Merampas setiap sendi-sendi kemerdekaan saya. Bukan hanya perkara kecanggihan hape yang membuat anak-anak jaman sekarang menjadi semakin anti sosial. Bukan hanya perkara remaja-remaja tanggung yang mendadak begitu mudahnya membuka diri mereka di socmed. Bukan. Ini lebih karena teknologi semakin membuat umm.. -saya terutama-mengalihkan semua hal penting disekeliling saya, membuat saya lupa kebutuhan pokok saya, merampas kemerdekaan saya.

Well coba saya sedikit jelaskan apa yang saya fikirkan. Sadar ga sih? Orang-orang jaman dulu selalu punya tempat untuk bertapa atau semedi atau menyendiri. Kemudian begitu selesai mereka mendadak bijaksana sekali dan berhasil menghasilkan buah karya berupa buku. Atau sebagaimana Rasulullah yang menjadikan gua Hira sebagai tempatnya merenungi kejahiliyahan orang Quraisy, hingga kemudian mukjizat itu sampai lewat Jibril. Coba kalo sekarang? Menyendiri dimanapun kalo bawa gadget sama aja bohong. Bangun tidur ngecek hape, mau berangkat ngampus ngecek hape, dikampus kalo ga ada kerjaan orang-orang pd mainin hape, adzan shalat buru-buru shalat, pas shalat hape bunyi, konsentrasi langsung buyar "siapa ya kira2 yang sms? Jangan-jangan jarkom tugas buat besok, jangan jangan...blabla.". Selesai shalat dzikir seadanya ngecek hape. Astaghfirullah. Mengesalkan!

Bukannya takut disebut gaptek, norak, atau gak gahol sih sebenernya ketika gapunya hape, wasap, line, twitter, fb, lala itu. Tapi ini sudah menjadi kebutuhan primer. Hampir semua informasi kampus dan organisasi ada disitu. Dan taukah? Hampir semua komunitas yang saya ikuti ada grupnya di hape. Grup kampus aja masih terbagi-bagi jadi grup angkatan, grup klompok ini kelompok itu, organisasi ini organisasi itu, kelompok diskusi ini itu, grup alumni sekolah ini itu. Dari mulai kelompok serius sampe kelompok tergak jelas. Beragam tema dari alif hingga ya. Fiuh.*nyusut keringet.

Yang kadang begitu buka hape, tiba2 notif udah ratusan. Ya Allah saya berlindung dari godaan syetan dan juga kesalahfahaman orang. Bukan kok beneran deh. Saya gak berniat menyindir atau saya minta maaf jika ada yang tak berkenan. Karena ya saya juga setuju sekali pake banget bahwa banyak sekali manfaat yang bisa didapat dari mudahnya koneksi disana-sini. Dan sebenarnya dari sini juga saya menyadari bahwa betapa eksisnya saya disana-sini*hasyah. Sekali lagi saya hanya lagi kesal saja. Hiks. Kesal pada hape. Kurang abnormal gimana lagi coba? Duh. Dan sejauh ini solusi yang bisa saya redam dari kekesalan saya ini adalah mematikan semua mua muaaa alat komunikasi yang memudahkan orang menghubungi saya. Saya ingin merdeka malam ini. Pokoknya titik gapake koma! Ah sudahlah lupakan sejenak tentang hape yang saya paksa untuk bungkam. 

Kerlingan canopus membuat jiwa saya serasa terpisah dengan jasadnya. Mengangkasa jauh menembus atmosfir bumi. Detak jantung ini masih mencari jejak. Saya berulang kali memandangi canopus itu. Lalu beralih ke capella. Lalu vega. Saya terlalu sotoy mereka-reka semua yang saya kira, sesotoy saya yang menamai seenak jidat bintang itu canopus itu capella dan itu vega. Aneh. Saya aneh. Ah ya sebaiknya saya tidur dan berharap esok kan lupa. Lalu menghilang seperti mimpi tadi malam.

Selasa, 31 Desember 2013

Sang Uinis, am i?

Saya telah tertawan tiap kali hujan datang. Seperti ini. Disini. Tiap tetes hujan selalu mampu melelehkan apa saja. Dalam diri saya. Seolah tak pernah habis tinta yang saya goreskan tiap kali hujan tiba. Jikapun habis, cukup dengan menengadah, memejamkan mata, maka simsalabim alaihim gambreng tiba2 pena saya seketika kembali bernyawa. 

Disini. Hanya ada saya dan hujan. Kami duduk berdua sembari menghirup aroma kacang mete. Bericikibung bersama (?). Kadang dia bercerita. Lalu saya tertawa. Giliran saya yang bercerita. Dia malah menangis. Aih romantis sekali. *kemudian ngumpet

Aha saya hanya bingung harus memulai dari mana kisah ini, tadi di atas itu anggap saja intro. Ah sudahlah intinya saya habis nemu artikel tentang kepribadian manusia. Hahaa. *daritadikek.
Dan menurut uji lab ITB dan IPB (?),saya dinyatakan sebagai seorang sanguinis mutlak.

Sanguinis (Yang Populer) -->> *ehem sepertinya ini mulai agak serius. *rapiin jilbab.

Kepribadia Sanguinis “Si Populer” ( Ekstrovert – Membicara – Optimis ) -->> *benerin kerah baju.

Ciri-ciri sifat Sanguinis : --> *benerin dasi (?)

1. Mereka cenderung ingin populer dan disenangi orang -->>  kayaknya kata 'ingin' nya mesti dikandangin deh.

2. hidupnya penuh dengan bunga warna – warni --> yup betul, saya memang suka bunga. Terutama bunga bangkai
3. Mereka senang berbicara tanpa dihentikan. --> hmmm... Bener. Hehee.
4. Gejolak emosinya bergelombang dan transparan--> iya temen sy bilang sya ekspresif sekali.
5. Dan pada suatu saat dia teriak kegirangan kemudian beberapa saat dia bisa jadi menangis tersedu-sedu. --> Ih bener bingits
6. Senang menolong orang lain (*beuh gue bangeuuuuttt) tetapi tidak dapat jadi sandaran (eh? Pondasi maksudnya?)
7. umumny bukan penakut tetapi kalau bermasalah sukar bertaubat. --> iya betul dong, saya gak takut tuh sama kecoa, hebat kan? but wait! Saya susah tobat? Astaghfirullaaahhh... *peres tisu.
8. Namun Orang-orang sangunis ini sedikit agak pelupa (*beuh,,,maksimal) sulit berkonsentrasi (*bener. Seringnya nyenyak dikelas) cenderung berfikir pendek (*iya banget, ngomongnya aja loncat2),dan hidupnya serba tak teratur (*duh iya banget)
9. Jika suatu kali anda lihat meja kerja pegawai anda cenderung berantakan, agaknya bisa jadi ia sanguinis (iyadong, sesuatu yang abstrak itu menggambarkan kekreatifan, misalnya saya kurang suka kamar yang terlalu rapi)
10. Kemungkinan besar ia pun kurang mampu berdisiplin dengan waktu (*yup) , sering lupa pada janji (*hhee iya) apalagi bikin planning/rencana (*ih kok tau sih? Kepo pasti!)

11. Namun kalau disuruh melakukan sesuatu, ia akan dengan cepat mengiyakannya dan terlihat sepertinya betul-betul hal itu akan ia lakukan (*hmm... ng.... *ngupil).
12. Dengan semangat sekali ia ingin buktikan bahwa ia bisa dan akan segera melakukannya .Tapi percayalah, beberapa hari kemudian ia tak lakukan apapun juga. (aaaakkk rahasiakuh terbongkar *nangisbombay.)
Kekuatan Dan Kelemahan Sanguinis:
Kekuatan  : ehem... *angkatbarbel
  • Suka bicara --> bisa jadiii
  • Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstrative --> pendengar? aih tersapu malu. iya bisa jadiiii
  • Antusias dan ekspresif --> iya beut
  • Ceria dan penuh rasa ingin tahu --> harus dong
  • Hidup di masa sekarang --> jago move on brarti *duh
  • Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan) --> semacam galau gitu? 
  • Berhati tulus dan kekanak-kanakan --> aiiiiihhhh cocuiiiittt *nyusut ingus.
  • Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara) --> oh wajib dong 
  • Umumnya hebat di permukaan --> semacam pencitraan gitu? Huks
  • Mudah berteman dan menyukai orang lain --> yup bener iya bisa jadiiii
  • Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian --> *nganga...
  • Menyenangkan dan dicemburui orang lain --> *rrrrrr
  • Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam) --> *berdehem maksimal
  • Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan --> semacam nyanyi nyanyi gitu? Atau ngacak ngacak makanan?
  • Menyukai hal-hal yang spontan --> iya bener saya suka acaranya si komeng yang ngerjain orang trus tiap iklan bilang "spontan. Uhuy."
Kelemahan :
  • Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras) --> *ngumpetditembok
  • Membesar-besarkan suatu hal / kejadian --> iya banget. Kadang sangat overthink.
  • Susah untuk diam --> ah nggak juga, kalo pesenan makanan datang pasti diem deh
  • Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank) --> hmmm iya bisa jadii
  • Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele --> iya banget, misalnya malem tadi ngibrit lari tunggang langgang kekamar temen untuk nanya "gue kalo bales smsnya gini jahat ga?" ish...
  • RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek) --> iya bener cukup dengan anda bilang 'tatap mata saya, jika anda mendengar dosen mulai bicara maka anda akan terti-..., *kemudian leher terkulai
  • Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias) --> aih jangan bilang2 napa?
  • Sebagian terlalu bahagia --> Bahkan untuk hal yng lucunya biasa aja saya bisa tertawa sampe tidur.
  • Mudah marah --> itu rahasia kita berdua oke? Oke tos dulu! *plok! Uedass mantep brooo...
  • Suka menyela dan mendengarkan saat tuntas --> saya suka mendengarkan kalo dosen bicara kok sampe tuntas. Tuntas banget malah sampe pules gitu.
  • Tampak palsu oleh sebagian orang --> Hmmm... Sering sih dikatain pencitraan. Hiks.
  • Suka mengeluh --> hmm ng.. yg pnting gak ngeluh sampe bkin status alay kan?
  • Mudah berubah-ubah --> hmmm... Bisa jadi.
  • Susah datang tepat waktu jam kantor --> EHEM... *batuksendal.
  • Prioritas kegiatan kacau --> iya banget apalagi kalo pas liburan, banyak wacana.
  • Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas --> Nggak juga ah.
  • Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya --> Ih iya bingits. Aku kan simpatiiii, emangnya situ? telkomsel.
  • Egoistis --> *batukkereta
  • Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama --> Hahaa iya bener bisa jadiiii iyaaaaa
  • Konsentrasi ke “How to spend money” daripada “How to earn/save money”.--> duh parah.
Sanguinis sebagai teman
  • Mudah berteman (iyadong)
  • mencintai orang (*ngumpetdikolong)
  • senang bila dipuji (tergantung. *kalo mujinya saya tinggi sih fitnah maksimal)
  • menyenangkan saat berkumpul (hihiyaa dong)
  • di cemburui orang lain (penebar jeles dong?)
  • bukan pendendam (hohoharus ituuuu)
  • cepat meminta maaf bila melakukan kesalahan (beuh gue banget)
  • mencegah saat membosankan (kirain banjir aja yg msti dicegah)
  • menyukai kegiatan spontan.(iye tauuu)
  • Tampak menyenangkan (ehem *benerinjilbab)
Sanguinis sebagai kekasih --> duh berat nih.
  • Spontan saat mengucapkan pujian --> ng...
  • mudah berterus-terang --> mmm...
  • senang memberi kejutan --> iyakah?
  • dicintai banyak orang --> aih
  • kemungkinan mudah selingkuh. --> WHAT.?? Amit amit *mukul mukul meja
Sanguinis Sebagai Orang Tua --> waduh tambah berat *pijit-pijit kepala
  • Membuat Rumah Menyenangkan --> beuh harus dong, kalo perlu ditaro balon deh dimana mana (?)
  • Disukai teman anak – anak --> aih *meronabiru
  • Mengubah bencana menjadi humor --> hidup itu dibuat happy aja ya ga? *sok-asik
  • Merupakan pemimpin sirkus --> what? *kenapa poin akhir selalu nggak banget, semacam naik histeria gitu, naiknya pelan pelan, jatohnya tiba2, huks banget.zzzz
Sanguinis dalam Pekerjaan
  • Sukarelawan untuk tugas --> *alis naik
  • Memikirkan kegiatan baru --> *garuk pala
  • Tampak hebat di permulaan --> *ngupil
  • Kreatif dan inovatif --> iye udah tau *mintadikeplak
  • Punya energy dan antusiasme --> iyadong, kan ada powerbank.
  • Mulai dengan cara cemerlang --> asek dah 
  • Mengilhami orang lain untuk ikut --> beuh cocok jadi vokalis. *digebukin orang sekampung
  • Mempesona orang lain untuk bekerja --> gaya beut dah gue
Pekerjaan yang cocok bagi Sanguinis
Artis, MC, Pengacara, dan sebagainya… --> WHAAAAT?? ARTIS?? *keselek banteng. *kemudian ngekek sampe mencr*et.

Ahahaahahahaaahahahah..... *sampe skrg ane masih ngakakk.*sambil guling2. *sambil megang perut *sambil garuk garuk tanah *kemudian ngupil #apabanget.



Selasa, 17 Desember 2013

akhir nafas desember

Hey kau, apakabar?
Kutitipkan salamku pada mega yang masih setia membagi kilaunya di semesta jogja.
Kuselipkan sekuali asaku pada daun yang ikhlas menjatuhkan dirinya demi menafkahi para penyapu jalanan.
Dan untukmu, kuberikan rinduku.

Ah kurasa aku sudah pernah berkata pada orang-orang, aku tak ingin menjadi desember.
Dan jika saja aku boleh memilih urutan bulan, aku tak mau di penghujung.
Begitu cepatnya tahun menepi.
Melengangkan jalan waktu terbentang.
Menyisakan tanya akan apa lagi gerangan yang harus dilakukan?
Begitu kosong.
Bahkan aku hanya diberikan sisa sisa energi dari tetangga bulanku: agustus, september, oktober, dan november yang begitu serakah menghirup matahari yang sudah hampir senja.
Memaksa orang2 untuk berpacu dengan waktu.
Tanpa menyisakan apa apa untukku.
Padahal aku harus menggandeng januari.
Meneruskan apa yang belum terselesaikan.
Maka disinilah aku, mengais-ais sisa energi yang terserak ditimbunan malas.
Hey kau! Masih adakah yang bisa kau bagi untukku?

Sisa usiaku tinggal 15 hari lagi.
Sebentar lagi aku akan menghilang seperti mimpi tadi malam.
Dan tak ada yang tersisa untukku selain kenangan.
Kau bisa memilih kenangan apa yang akan kau ukir padaku.
Tapi aku tidak.
Aku hanya menunggu goresan penamu.

Belum terlambat untuk memilih.
Jika kau terlalu malu untuk mengatakannya,
maka bisikkanlah.
Agar hanya desau angin yang menjadi saksinya.
Percayalah, hanya dengan seikat bunga kau akan mampu menundukkan panasnya matahari yang menaungiku.
Akhiri nafasku dengan goresanmu.
Maka disinilah aku,
masih menunggu.

Jumat, 15 November 2013

prasangka dalam pelangi

Kawan yang tulus kadang memang lebih MENYEBALKAN daripada musuh yang menyamar. Bekal utama kebersamaan adalah KESABARAN. Sebab kita tahu, perjalanan berombongan lebih lambat dibanding sendirian...
Persaudaraan adalah BERBAGI. Tetapi salah satu harus memulai; sepertinya lebih mudah bukan dengan meminta, tapi MEMBERI. Siapa yang tidak sabar belajar, harus sabar dalam kebodohan. Siapa yg tak sabar bersaudara, harus sabar dalam kesendirian."
(Salim A. Fillah).

***

Hitam selalu datang terlambat. Bahkan denyut waktu pun sudah mulai bosan mengulang bilang. Hingga semua bersepakat meninggalkannya sendiri. Maka meluncurlah mereka satu persatu membentuk formasi tangga warna di angkasa. Bak bianglala yang melengkung sempurna. Yang tiap ujungnya dipegangi sesosok peri. Dialah pelangi. Dia yang tampak indah dengan segala perbedaannya. Walaupun tanpa hitam. Karena hitam selalu membuat yang lain menunggu. Hingga jenuh. Itulah mengapa pelangi ada tanpa hitam.

Ketika ikut seminar kepenulisan tere liye, kami diminta menulis sebuah paragraf tentang hitam. Hampir semua menceritakan bahwa hitam itu warna. Namun seseorang yang antimainstream selalu memiliki pembeda diantara yang lain. Ia bercerita tentang pelangi. Hmmm...

Kau tau? Pelangi selalu diumpamakan seperti sebuah persahabatan. Yang justru karena perbedaannyalah ia tampak begitu indah. Dan jalan cerita persahabatan itu seperti sebuah lagu. Yang adakalanya kita mencapai refrain. Puncak nada sehingga gelombang not baloknya terdengar mencekik-cekik. Tetapi, bukankah justru di bagian refrainlah telinga ini terpaut? Hey sadarkah? Refrain memang selalu yang paling mudah diingat, kan?

Dalam persahabatan refrain itu bisa berupa pertengkaran-pertengkaran kecil diantara pelakunya. Yang seringkali mereka terjebak egoisme masing-masing. Hingga sang penengah sudah mulai jengah. Sudah mulai jenuh. Dan kemudian menyerah. Merasa sia-sia sudah semua usahanya mengibarkan bendera perdamaian. Hellooo everything's gonna be ok. Yakinlah.

Saya kemudian teringat sebuah kisah pada zaman Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah.
Suatu hari seseorang melakukan perjalanan untuk mengunjungi saudaranya yang tinggal disuatu negeri. Maka Allah mengutus seorang malaikat untuk mencegatnya di suatu tempat ditengah perjalanan. Ketika orang itu sampai, malaikat itu bertanya, "Hendak ke manakah engkau, wahai hamba Allah?"
"Aku hendak mengunjungi saudaraku yang tinggal di negeri ini,"
"Apakah kamu punya kepentingan duniawi yang diharapkan darinya?"
"Tidak," tukasnya, "Kecuali sebab aku mencintainya karena Allah."
"Sesungguhnya aku adalah utusan Allah," ujar sang malaikat, "Yang dikirim kepadamu untuk menyampaikan bahwa Allah telah mencintaimu seperti engkai mencintai saudaramu itu."

Masya Allah, dahsyatnya sebuah niat ketika itu disandarkan hanya untuk Allah. Bahwa ketika kita kecewa. Merasa tak dihargai. Merasa tak diharapkan. Alangkah bijaknya kita memeriksa kembali niat. Karena berharap pada manusia atau menggantungkan diri pada mereka adalah luka bagi iman ini, juga kekecewaan yang kadang bertubi.

Ahh...
Karena tak ada lagi diantara kami
Yang sebaik Musa
Atau sejahat Firaun
Karuniakanlah pada kami kepekaan
Agar saudara kami tak perlu berteriak
Saat menyampaikan cinta dalam nasehatnya
Tapi cukup dengan isyarat mata
Raut muka
Atau bisik kecil yang menggetarkan...
(Salim A Fillah)

Maka getaran itu hanya akan sampai pada hati yang utuh. Kau tau? Hati itu ibarat gelas. Yang ketika ia utuh, maka sebanyak apapun air yang dituang dari sari hikmah semesta, bisa ia tampung sepenuhnya, bahkan apapun yang dituang akan berubah menjadi sangat lezat untuk dinikmati. Tetapi sedikit saja gelas itu retak. Maka sebanyak apapun air yang dituang ke atasnya, akan ada yang merembes keluar dari celah-celahnya. Apalagi jika gelas itu pecah.

Kata ust Syatori, hati yang utuh akan memahami bahwa hidup adalah hamparan kesempatan berbuat baik. Telinganya selalu bisa menangkap pesan-pesan kebaikan dibalik segala peristiwa dalam hidupnya.

Ketika tiba2 ada seseorang yang menghardik kita, memarahi kita. Mungkin telinga kita mendengar kalimat yang buruk, tapi hati yang utuh akan mendengar seperti ini...

"Saudaraku, yang sabar ya. Karena kalau saya tidak seperti ini kepadamu. Kamu tidak punya kesempatan untuk mendapat pahala sabar."

Percayalah, orang yang memarahi kita itu telah berbaik hati mengorbankan dirinya untuk kita. Bagaimana tidak? Ia telah merelakan dirinya menjadi jembatan bagi kita untuk menuju ke tempat yang lebih baik. Hey kawan, menjadi jembatan itu enak ga? Tentu saja tidak. Ia diinjak-injak. Maka orang yang lagi marah itu sesungguhnya ia menderita karena dia telah merelakan dirinya menjadi jembatan untuk menyebrangkan kita ke tempat yang lebih baik. Masya Allah... Jadi, berbaik hatilah pada orang yang sedang marah. :)

Alangkah indahnya memiliki hati yang utuh.
Bagaimana caranya mendapatkan hati yang utuh? Berpuasalah. Puasa mengajari kita untuk memejamkan diri dari segala hawa nafsu duniawi.

Malam berlalu,
Tapi tak mampu kupejamkan mata dirundung rindu
kepada mereka
yang wajahnya mengingatkanku akan surga
Wahai fajar terbitlah segera,
Agar sempat kukatakan pada mereka,
"aku mencintai kalian karena Allah, "
(Umar ibn al khatab)

Jadi barusan saya habis buka catatan-catatan lama. Itu diambil dari kuliahnya Ust Syatori dan novel Dalam Dekapan Ukhuwahnya Salim A Fillah. Merefresh lagi ilmu yang sempat terserak. Saya menulis ini karena saya pun bahkan tak bisa luput dari ujian persaudaraan. Maka saya ikat kisah ini dengan tulisan. Agar kelak suatu saat nanti ketika saya khilaf ada yang berbaik hati mengingatkan apa yang pernah saya tulis. Bahwa alangkah payahnya mendidik akhlak ini. Alangkah beratnya mengistiqamahkan diri. Saya berlindung kepada Allah dari segala penyakit hati yang terkutuk. Saya berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk.

Lalala yeyeye Smngat hosh hosh!!*naripompom.hho
*ini seperti bukan saya,hiks terharu.

Rabu, 13 November 2013

hanya tanya

Saya seperti mendapatkan tambahan kaki untuk berlari ke 3 klinik yang berbeda seharian ini. Pagi-pagi saya menambal gigi-lalu berlari ke klinik rontgen-lalu mengkontrol pasien scaling yang gusi belakangnya radang dan mudah berdarah sehingga sepertinya harus dibedah-lalu diskusi jurnal reading bersama dosen periodonsia-kemudian sterilisasi alat-dan oke pada intinya ditengah ke-sok-sibukan saya hari ini saya masih bisa meresapi merdunya hujan disore hari. *tsah.

Sesukasukanya saya sama hujan bukan berarti harus membenci payung kan? Iya jadi 3tahun terakhir ini saya bisa bertahan gapunya payung loh. *yaelah. Trus biasanya kalo hujan saya biasa bungkus kepala dan tas pake keresek dong. Keren kan?*toyor kepala. Dan setelah dihari sepadat ini yang pengennya segera pulang dan guling-guling sepuasnya dikasur,ini malah kejebak hujan*huks. Keinginan hati sih hujan2an, tapi saya kemudian tersadar kalo skrg saya sudah dewasa maka saya urungkan niat dan sembari menunggu hujan reda saya membulatkan tekad untuk berbaikan dengan payung dan mulai membelinya*yeah.

Maka ketika hujan mulai mereda dan tinggal rintik2 saya memaksakan diri untuk menerobosnya. Hmmm ya jadi saya punya kebiasaan aneh. Saya sepertinya punya bakat multitasking (?), yaitu kalo lagi berjalan kemanapun dan dimanapun saya bisa berjalan tanpa tersandung-sembari berfikir-bergumam-dan menggerak-gerakkan tangan dengan cara mengetuk-ngetuk kepala (?). Atau bagi yang pernah saya bonceng di motor, kalo tiba2 saya menggeleng-gelengkan kepala tanpa sebab itu bukan karena saya sedang triping percayalah tapi itu karena saya sedang mengusir fikiran negatif diotak saya. *ngedadak horor.

Kebanyakan hal yang saya fikirkan adalah hal yang 'rumit', semisal tadi saya berpapasan dengan dosen pembimbing skripsi saya dulu dan omaigad kenapa saya tidak menyapanya-tadi dosennya kok kayaknya jutek sama saya-jangan jangan dia ngambek sama saya karena tidak saya sapa-blablabla nah bagaimana? Rumit sekali kan? *hiks. Dan akhirnya saya geleng-geleng kepala berharap dengan ini fikiran negatif itu akan enyah jauh-jauh dan semacam mensugesti diri bahwa dosbing tersebut tidak marah dan bahkan mungkin lupa siapa saya dan semuanya pasti  akan baik baik saja. Huft. Lalu akhirnya saya menghentikan fikiran saya dengan mengetuk-ketuk kepala saya dan mengangguk-angguk sambil bergumam "yah dia pasti gak kenal saya." Lalu kemudian selesai.

Saya mendengar suara kecipak air dibelakang saya dan saya terperanjat ternyata dibelakang saya ada orang. Mas2 tinggi berkaca mata yang entah saya geer atau bagaimana ia melihat kearah saya dan menampakkan ekspresi keheranan yang kira2 kalo diterjemahkan bunyinya begini "hello mbak? Still ok?" *ngek. Jadi kayaknya tadi masnya ngeliat saya sedang menggerak2an kepala yang untuk ukuran pejalan kaki itu lebih mencolok dari goyang cesar*duh *ngumpet dijamban

Well, saya memang sedang sangat labil akhir2 ini. Mendadak fluktuasi emosi saya begitu ekstrim dan menampakkan hasil yang sangat tidak signifikan *duh plis ini bukan baca grafik jurnal kan? Otot-otot wajah saya berubah menjadi begitu membatu. Mnggerakkannya seperti mengangkat barbel. Dan karena senyum itu sedekah maka saya memaksakan diri dan saya yakin otot wajah saya sebentar lagi akan terlihat sixpack*apasih.


Oke jadi sampai mana tadi? Saya mau ngomong apa ya? Oh ya tentang labil. Kelabilan ini membuat saya menyempatkan diri untuk marah-marah-gampang sensi-meminta maaf berlebihan-harap maklum-dan dianggap selesai-pada orang2 disekitar saya. Orang2 mengatakan ini gejala PMS. Percayalah wanita yang sedang PMS itu memang rumit sekali. Hawa negatif begitu mudah membuatnya berburuk sangka dan berujung "senggol-semprot". Seolah semua ketidak beresan dan keabnormalan yang terjadi pada wanita PMS bersumber pada kesalahan mutlak satu hal: hormon.

Masalah mengenai kelabilan ini seperti mengingatkan saya pada sebuah pertanyaan yang telah lama bersemayam diotak saya mengenai: "kenapa teman kkn saya takut pake banget pada saya?". Iya jadi ceritanya saya hingga sekarang masih aktif di grup wasap kkn dimana anggotanya ada pria maupun wanita. Dan menurut sumber terpercaya anehnya hampir semua anggota pria digrup itu mengaku takut pada saya. Dan walaupun pada awalnya saya merasa terusik karena ditakuti sebegitunya tapi sekarang ini saya merasa bahwa ditakuti pria itu kedengaran keren sekali *plak.

Entahlah semua ini bermula darimana. Yang jelas saya tidak akan sungkan menampakkan gejala PMS saya pada mereka yang sudah diluar batas kewajaran. Yah jadi wajah polos dan lugu saya ini terkadang bisa berlaku brutal juga diantaranya 'menggebrak meja-melempar elpiji-dan membanting pintu' pada beberapa oknum di grup tersebut. Dan itu biasanya membuat percakapan yang semula ramai menjadi hening karena kehadiran saya. Elegan sekali kan? Hahaa. Dan walaupun banyak korban berjatuhan dikarenakan ulah saya itu saya hanya bisa meminta maaf dan harap maklum. Selesai. Terjawab sudah pertanyaan kalian kenapa saya begitu menakutkan kan? Baguslah. *mengangguk-angguk,

Oke itu hanya bahasan awalan*what? Jadi saya tadi sedikit tertohok membaca blog teh ocha, salah satu penulis favorit saya. Ini mengenai: pertanyaan. Ada begitu banyak pertanyaan dalam diri saya mengenai apapun. Benar kata teh ocha, tidak semua pertanyaan itu butuh jawaban. Dan tak semua pertanyaan ada jawaban. Terkadang ia ditakdirkan untuk menggantung. Menguap dengan sendirinya bersama waktu. Tak peduli selelah apapun kita menerka akhirnya. Tak peduli sepayah apapun kita menebak ujungnya. Tak peduli serumit apapun kita berandai-andai. Mungkin memang pertanyaan itu ditakdirkan untuk tak dijawab. Dan luka yang ditorehnya dibiarkan untuk disembuhkan waktu. Yah bahkan kadang waktu adalah obat paling mujarab dalam menyembuhkan sesuatu. Entah dengan membuatnya lupa. Atau perlahan waktu membuat kita merubah cara pandang sehingga akhirnya menjadi masa lalu. Membuat pada akhirnya ia begitu pantas untuk disyukuri atau ditertawakan (Yosha, 2013).

Kuncinya tetap saja berbaik sangka. Keep positif. Maka everything is gonna be ok *aiiih

By the way, saya sekarang punya payung baru dong*ini penting. Sekian.

Minggu, 03 November 2013

Hujan dan bekasnya

Gemericik hujan yang aromanya menyeruak dari balik pintu kamar saya, benar-benar menggelitik saya untuk bergegas keluar. Lihatlah, saya terkesima menyaksikan peluru-peluru air itu menerobos dari langit dan berkecipak ditanah. Menganga menyaksikan semesta jogja dibelai lembut oleh bulir2 air sore itu.

Benar apa kata firman Allah dalam kalam-Nya, bahwa ketika turun hujan tiba tiba saja kau merasa gembira. Gembira karena ini waktu yang paling tepat menengadahkan tangan-merasakan titik titik air itu membasahi tangan-lalu ia meresap sampai ke hati-dan otomatis mata ini terpejam-bibir ini bergumam. Biarlah hanya rintik-rintik hujan yang mendengarnya, merekamnya, dan kemudian akhirnya ia berdebam ditanah dan diserap akar pohon. Kemudian tunggulah kapan saatnya semesta berkonspirasi.

Saya sangat tidak keberatan jika hujan sore ini terus menerus mengguyur hamparan jogja tanpa henti hingga akhirnya malam memeluknya dalam tidur lelap. Saya yakin, awal november telah lama menantinya. Ini gilirannya setelah paceklik berkepanjangan melanda saya sepanjang bulan lalu. Tak apa meski hujan mencegah saya pergi menerobosnya, saya telah cukup rakus untuk kemana-mana hari ini. Tak apa meski hujan membuat semua jemuran tetangga kuyup. Tak apa. Saya rela. Asal bukan jemuran saya*hiks. Karena hujan selalu berhasil memberi isyarat menentramkan. Mendinginkan. Melelehkan.

Bagi saya hujan selalu berhasil membuat saya mengerti betapa besarnya arti kebersamaan. Jika cerah membuat semua orang egois dengan tujuannya masing2, pergi kemanapun sekenyangnya, maka hujan hadir menyatukan hati yang telah lama terserak. Mendekatkan yang jauh. Menyatukan keluarga didalam rumah dalam kehangatan canda dan tawa. Hujan hanya memandangi kami yang berkumpul untuk berteduh sembari tersenyum. Hujan hanya mengintip dengan penuh kasih sayang dari balik jendela sebuah rumah yang penghuninya tengah makan bersama merayakan momen yang jarang dialaminya.

Hujan. Bagaimana cara saya mengungkapkan rasa terimakasih saya? Saya ingin memelukmu, tapi kau tak teraba meski adanya kau begitu terasa. Ah ya hujan juga mengajarkan keikhlasan. Belaiannya yang menyejukkan memang tak tergenggam tangan, namun terasa oleh semua indera.

Hujan, tolong sampaikan padanya bahwa rasa syukur saya karena mengenalnya adalah sebanyak butir butir yang kau semai ke semesta.
Hujan, tolong sampaikan padanya, bahwa keegoisan hanya akan menjauhkan hati...
Hujan, ini giliranmu menyatukan hati kami...


Jumat, 25 Oktober 2013

al hantra al hambra

Awan yang diam terasa membosankan membuat ragu apakah ia masih menyimpan rintik hujan atau diam diam butiran itu telah ia semai dan hanya aku yang tak tahu tak menyadarinya atau awannya saja yang tak berniat menyampaikan pesan padaku?

Payungku sudah lelah menebak nebak kapan ia digunakan olehku karena awan masih saja bungkam tak mau bahkan hanya sekedar memberikan isyarat kepadaku yang andai saja payungku tahu bahwa aku sama sekali tak memiliki niat menggunakannya berteduh padanya karena bagiku menantang serbuan hujan lebih menyenangkan karena bisa kuyup bisa berjingkrak bisa tertawa atau menangis dengan menyembunyikan tangisku dibawah gemuruh hujan?

Aku sekarang sedang sangat tidak keberatan jika awan memuntahkan hujan dan aku tak akan menghindar dan sungguh membiarkan awan mendung hitam legam lebih menyakitkan daripada menyaksikannya hujan padahal aku tak mengenal awan kenapa aku begitu peduli akan kesakitannya akan bungkamnya akan diamnya akan hujan akan cerah akan panas akan dingin?

Aku egois ah ya itulah kenapa aku seharusnya tak peduli awan tak peduli hujan tak peduli rintik tak peduli mendung tak peduli tak mau tau semua apapun tentangnya tapi andai dia tau bahwa aku bohong.

Awan sudah menaungi bumi jauh hari sebelum aku sebelum kamu sebelum dia sebelum kita karena dia telah dewasa andai dia menyadarinya ah ya kau benar aku harusnya banyak belajar pada awan dan hujan tapi tetap saja aku sedang tak ingin tebak tebakan.

Aku selalu ada untuk mendengar rintiknya untuk menemani mendungnya untuk tersenyum cerahnya untuknya tapi dia tetap bungkam andai dia tau aku menunggu kisahnya.