Selasa, 09 Februari 2016

screen shoot

Kata itu, sebagaimanapun dia dirangkai dengan runutnya, tak akan pernah bisa mewakili rasa. Pernah gak sih punya pengalaman begitu lucu nya sampai kamu rasanya pengen ketawa sampe habis napas lalu dengan baik hati kamu ingin berbagi cerita lucu itu ke temenmu dengan ekspektasi temenmu ikut ngakak juga sampe sekarat tapi nyatanya... tanggapannya cuma "oh ya?" atau "hehe"*sambil garuk garuk. Itu rasanya kayak terhempas dr lantai 50.

Tau gak apa yang salah disini? Bukan "Berharap" yang salah. Bukan karena berharap terlalu tinggi sama tanggapan orang. Ya memang awalnya saya "berharap" ketika saya cerita lucu jadinya org yang denger ikut ketawa sampe kehabisan napas. Saya cerita sedih pengennya yang denger ikut nangis guling guling. Bukan karena ekspektasi saya yang ketinggian sama respon pendengar, tapi redaksi cerita saya yang mungkin terlalu datar.  Gabisa merangkai kalimat yang bisa mengaduk aduk emosi para pendengar. Mau tanggapannya sesuai harapan? Ya perlu energi lebih untuk bercerita. Sementara energi saya sudah habis jauh hari ketika menjalani cerita itu *bingungkanlo.

Well, karena saya sudah kehabisan energi tapi saya pengen cerita gimana dong. Oke mari kita bersepakat, aku cerita kamu dengarkan. Selesai.

Ini tentang saya yang setelah 6 tahun 7 bulan membusuk dijogja akhirnya saya luluuusssssss.....
Yeaaaahhh... dokter gigi rini purnamasari putri pertama dari bapak diman suryana SH akhirnya luluuussssss.... huhu mamaaaaaa aku kapok kuliah maaaaa. Hiks.

Buah kelapa. Kamu tau kan? Yang matengnya jatuh dari pohon, dibanting ke tanah. Buka kulitnya mesti pake golok di cabik cabik disobek sobek, trus tempurung kelapanya di hantam golok juga sampe terbelah keliatan lah akhirnya buahnya. Habis buahnya yang warna putih itu didapet, trus di parut. Bayangkan! Gak selesai sampai disitu, parutan kelapanya lalu diceburin aer lalu di peret. Pereeeetttt.. pereeettttt berkali kali sampe jadilah Santan. Iya itu di bully kayak gitu si kelapa tuh cuma mau ngambil santannya doang.

 Saya dan kelapa ternyata bernasib sama. Di bonyokin dulu baru deh dapet sari santannya. Hehe *lebaydeh. Iyalah setelah babak belur 6,7 tahun dijogja. Akhirnya bisa dikilo juga saya punya otak.

Pernah dikatain goblok. Pernah diragukan pasien. Pernah ditinggalkan pasien. Sarapannya nunggu dosen. Duit cekak bayarin pasien jajanin pasien. Masuk dari rumah ke rumah dari pantu asuhan dari pesantren dari banyaaaakkk tempat cuma buat nyari pasien. Belum lagi ditekan orang orang "kapan lulus?". Sedihlah pokonya kalo harus diceritain mah.
Pusiiing pala berbi. Berbi hayati lelah. Sekarang tinggal nikah ajaaa. Haahhahahahhahaa... *sakit jiwa.

Iya jadi sekarang nih saya kalo liat mahasiswa baru langsung bergidik gitu. Beneran deh. Saya bayangin taun taun ganas yang akan menyambut mereka nantinya. Horror gilaaaa. Itu si annabelle, boneka hantu yang nyeremin mah halah  gak seberapa. Lebih nyeremin hidup gue, kek uji nyali, bedanya saya gak masuk tipi. Gak muat hehe*krik. Pokoknya kalo gak banyak doa sama minta doa orang tua, siap2 gila. Serem kan? Gak percaya sih lu. Sekolah gak lu? *kemudiandigebukin sekampung.

 Ah ya dan satu lagi, ketika saya hampir menyerah, saya akan liat kebelakang. Betapa tapak jejak saya untuk bisa sampai disini begitu penuh perjuangan, teringat senyum bangga orang tua jika kita berhasil, tiba2 aja kayak ada yang nari pompom sambil teriak "ayo deyni sedikit lagi." maka simsalabim alaihim gambreng, semua masalah ini tak ubahnya hanya butiran debu *eeeaaa witwiiiwww suitsuiiiwww terimakasih terimakasih gausah keprok keprok.

Bismillah, sampai ketemu di sumpah dokter gigi awal maret nanti. Ya Allah, terimakasih. Kau begitu sempurna Ya Rabb. Allohu Akbar.

Senin, 07 September 2015

sembunyi

Sesuatu bernama rindu telah berhasil menjangkarku. Berhenti disana. Dan aku membeku.
Tidur adalah satu2 nya cara untuk melepaskan diri dari jangkar itu malam ini. Namun ketika aku mematikan lampu kamar, lampu rindu menggantikan nyalanya dan berpendar dilangit dadaku sampai sesak.

Di belahan hariku yang mana lagi aku bisa bersembunyi? Sementara rindu telah melemparkan sauhnya. Aku terperangkap, kau tau?
Diamlah. Jangan bodoh dengan mati2an mematikan lampu rindu. Lebih baik mematikan tv, mematikan radio, mematikan hape.

Aku dan kau memandang langit yang sama. Kau, siapa? Lalu naiklah dua doa yang terapal khusuk hingga mengangkasa. Bertemu disana. Ah sial. Aku gagal bersembunyi lagi.

Minggu, 23 Agustus 2015

kanvas

Langit jogja tak lagi sama. Lengang. Seperti kanvas kosong. Tak lagi berwarna. Sama seperti dia. Dia juga merasakan kekosongan itu. Seperti ada yang hilang. Tapi entah apa.

Kota ini yang bertahun tahun lalu selalu membuatnya menangis ingin pulang lalu perlahan berubah menjadi rumah, kini entah sejak kapan kembali bertransformasi lagi menjadi sesuatu yang asing.

Mungkin dulu merekalah yang membuat jogja serasa rumah. Namun seiring waktu mereka satu persatu meninggalkan jogja. Hanya menyisakan ruang di.. entah dimana.

Dia benci menjadi pihak yang ditinggalkan. Maka sejak saat itu ia berjanji pada dirinya untuk tak lagi membuka diri. Karena dia tau kehilangan itu adalah sebuah keniscayaan. Maka ia sebisa mungkin menghindari sesuatu yang bisa hilang menjauhi sesuatu yang bisa pergi meninggalkannya. Ia benci. Ia benci ditinggalkan.

Selepas mereka pergi. Kini hari-harinya ia habiskan bersama aku. Iya aku. Sesuatu yang dia pikir bisa mengisi kekosongan itu ternyata bagaikan pensil warna yang digunakan menggambar di atas kanvas. Tak berbekas. Sesuatu yang ia pikir bisa memberikan warna dan mengisi kekosongan ternyata masih tetap hampa.

Dia walaupun tau bahwa aku belum bisa memberikan warna dikehidupan dia-tetap menggenggam erat aku. Aku yang adalah pensil warna yang tiap hari tanpa menyerah menggoreskan warna diatas kanvas kini mulai membekas. Warnanya kian terang diatas  kanvas. Dia yang adalah kanvas pun senang. Kanvas menatap masa depannya dengan optimis. Walaupun warna yang ditorehkan oleh pensil warna itu sangat lamaaa. Dia akan tetap menunggu. Ya kanvas begitu sabar menunggu dilukis. Dilukis pensil warna. Bah lucu memang.

Tapi... pensil warna itu menghilang sebelum kanvas selesai digambar. Ya aku menghilang. Membuat kanvas frustasi. Membuat dia sedih karena harapan nya musnah. Menyisakan ruang baru. Ruang yang seharusnya diisi aku.

Kini selain membenci ditinggalkan. Dia juga membenci aku.

Aku. Padahal aku tidak menghilang. Aku hanya sedang mengupgrade diri supaya bukan lagi sebuah pensil warna. Aku ingin berubah menjadi kuas. Aku tak ingin membuat dia menunggu lama. Aku bukan menghilang. Aku hanya pergi sejenak mencari cat lukis. Tergopoh-gopoh aku kembali menemui dia.
Tapi dia tak bergeming. Dia terlanjur membenci aku. Dia tak mau lagi merasakan ditinggalkan. Begitu katanya.

Aku. Menyesal. Aku menyesal kenapa aku tak datang setelah menjadi kuas?

Sabtu, 22 Agustus 2015

lilacola

Belakangan, saya tengah sibuk dg aktivitas saya sendiri. Nyuci sendiri, berkaca sendiri, diskusi sendiri, yah sedatar itu. Pasalnya saya telah ditinggal pergi oleh...umm bagaimana ya menjelaskannya, jadi saya tengah berkabung.*mukaserius. Si Lilacola-ikan mas koki yang saya besarkan selama 6 bulan itu ehm...saya ulangi- Enam bulan- itu kini telah wafat. Innalillahi. Hiks. *Bentar. Nangis dulu.

Yah kadang saya bisa semelow itu kok. Terharu aja ada hewan yang bertahan hidup dengan saya selama setengah tahun gila kan?. Iya ikannya kayaknya jg ikut gila. Wkwkwk. Udah tinggal fosilnya aja gitu dia pas saya tinggal mudik lebaran selama 2 minggu itu*yaiyalahniii.

Iya jadi setelah berdiskusi lama dengan diri saya sendiri saya memutuskan beli ikan baru yeaayyy...


Begini kira2 percakapan saya dengan si abang tukang ikan:
Saya: bang, ikan yang hidupnya tahan lama yang mana?
Abang ikan: hah? Tergantung perawatannya neng.
Saya: ada rekomendasi?
Abang: hmm*bingung*garuk2 kepala. ... *nunjuk akuarium yg isinya ikan kecil warnawarni* "kalo ikan ini ikan yang galak jangan disatuin sama ikan lain. Kalo yang ini-"
Saya: oke ikan yang galak aja mas berapa harganya?

Dan akhirnya saya punya 7 ikan galak. Buhahaa. Seru loh ternyata cerita sama mereka. Jadi kalo saya cerita sesuatu yang lucu si ikannya akan lari kesana kemari sambil sorak sorak keprok keprok sambil ngomong gini "hahahaa gila lu lucu banget. Trus gimana lagi ceritanya?". Asik kan? Hihi. Iyalah asik punya tempat cerita baru. Secara tembok sudah bosan saya ajak bicara. Huft.

Doa saya semoga mereka panjang umur, sehat selalu, dan disayang mama papa. Aamiin. Btw saya blm kasih nama mereka. Hmm... berhubung saya lagi tidak kreatif jadi saya namai mereka do, re, mi, fa, sol, la, si aja kali ya. Jadi kalo mau manggil mereka tinggal bilang "nadaaaa." lalu mereka pun berlarian nyamperin. Hahaha Nah! Sip!

Bye bye Lilacola. Terimakasih telah mengubur cerita saya bersamamu....:*

Rabu, 12 Agustus 2015

terkadang


Terkadang, hanya perlu tersenyum untuk tahu bagaimana bahagia.
Terkadang, hanya perlu berbagi untuk mengerti bagaimana bersyukur.
Terkadang, hanya perlu memulai untuk menyelesaikan tugas koas yang numpuk. Huwaaa
Butuh piknik.... mana piknik manaaaa....*guling-guling

Sabtu, 08 Agustus 2015

080815


Dia adalah adik terbaik sejagat raya. Paling cetar membahana ramah tamah baik hati tapi gak rajin menabung seluar angkasa. Ini kisah tentang saudara sepohon jati. Jika saya bunga, dialah pupuk kandangnya. Jika saya bayi, dialah popoknya. Jika saya rambut, dialah ketombenya. Jika saya hidung, dialah upilnya. Jika saya bantal, dialah ilernya. Jika saya adalah hari, maka hari ini adalah hari ulang tahunnyaaa (?)Taraaaaa.......Lalala yeyeyeee aldi ultaaahhhhhh Ulang tahun yang ke 15. Moga sisa usianya berkah, tambah soleh, rajin solat, berbakti sama orang tua, makin kece badaiiii, dan masuk akpol seperti yang diinginkaan amiiiiiiiiinnnnnn.....*tarakdungces

logam mulia

Ibu: Tau gak kenapa logam mulia dinamai logam mulia?
Sy: *mikir.
adik: gtau
ibu: "karena dia adalah logam yang paling stabil. Dipanaskan ataupun didinginkan bahkan dihujani zat asam pun ia tak akan berubah."
Lalu ibu tersenyum, adik mengangguk-angguk. Saya... speechles. :')