Minggu, 29 September 2024

Terus mengayuh

Sosok disebelahnya baru saja tertidur lelap. Selalu begitu. Ia tertidur ditengah sesi ngobrol bantal alias pillow talk. Biasanya ia senewen ditinggal tidur seperti ini, namun malam ini perasaannya begitu tenang. Ia faham kenapa sampai tertidur. Kelelahan. Lalu ia tatap lekat-lekat. Halisnya tipis namun hitam pekat. Matanya berkelopak tebal. Bulu matanya yang lentik teramat cantik. Iya, matanya sih lentik namun ia berkumis tipis dan berjanggut. Membuat iri bisa bisanya lelaki tapi berbulu mata begitu lentik. Sesekali bunyi grok grok terdengar menyeruak dan memantul di dinding-dinding kamarnya. Pulas sekali. Seharian lelakinya mencari nafkah, pantas saja ia selelah itu. Sudah 8 tahun ia memiliki pemandangan tidur malam seperti itu. Namun tak pernah bosan ia menatap wajah teduh itu. Kini ia sudah terbiasa dengan merdunya suara ngorok lelakinya. Di awal tidur bersama, tengah malam ia seringkali terperanjat kaget ditengah malam mendengar suara ngorok, lalu ada sosok lelaki kekar tidur disebelahnya. Perlu waktu untuk membangunkan otaknya bahwa oh iya ia sudah menikah. Bahwa lelaki itu adalah suaminya. Takuuut. Ga pernah tau laki-laki, sekalinya punya langsung tidur disebelah. Kan horor. Ngorok lagi. Suara ngoroknya ngebass pula, udah kayak beruang raksasa tidur.

Ini oktobernya ke 8. Bagaimana bisa dalam sewindu 2 orang menjadi 5? Penjumlahan matematika apa itu bisa begitu. Ah andai saja hidup seperti matematika. Hasilnya pasti. Tapi ternyata tidak. Tidak ada yang pasti dalam hidup. Sewindu lalu ga akan kebayang sih tiba-tiba ia sekeluarga tidur di Yogyakarta. Tak hanya sekedar tidur sekejap. Namun menetap. Jangankan sewindu lalu, sesemester lalu aja ga akan pernah kebayang. Dan ini bukan pertaruhan matematika. Ini pertaruhan nasib haha. Dimana hasilnya hanya Allah Azza Wa Jala yang tau. Tugasnya hanya mengayuh. Sebagaimana sepeda yang harus selalu dikayuh agar seimbang. Agar tak oleng. Agar selalu melaju. Tak peduli medan apa yang ia tempuh. Loh kok medan sih. Katanya Jogja? (?)

Hai Jogja. Taukah? Kaulah yang mempertemukan 2 mojang jajaka ini. Bagaimana bisa tinggal bertetangga desa dari lahir sampai kepala 2 di Tasikmalaya, namun dipertemukannya malah nun jauh di Jogja? Itulah kenapa setelah ijab qobul terapal khusu', mereka diam diam, dalam dalam, disudut hatinya yang tersembunyi berjanji untuk kembali ke Jogja. Kini janjinya tertunai sudah. Dibayar lunas. Dan masih bonus 3 buntelan lucu miliknya juga tak lupa ia bawa serta.

Perlu waktu sewindu untuknya kembali. Dan ini sewindu pertamanya ia merayakan oktober miliknya di Jogja. Betapa istimewanya harinya ini. Apa lagi yang kau dustakan? Kau hanya perlu terus mengayuh kan? Bekalmu sudah disiapkan Allah Azza wa Jalla. Kau hanya perlu menjemputnya. 

Lelakinya tiba-tiba bangun. "Maaf ketiduran." Katanya sembari mengucek matanya. Istrinya hanya tersenyum, lalu tiba-tiba istrinya bertanya. "Ini tanggal berapa ya Yah?" , masih mengumpulkan nyawa, suaminya menggeliat. "hmm.... 1 oktober? Wah sudah oktober ya." Istrinya menyambut dengan antusias lalu kembali bertanya. "1 oktober tuh hari apa ya?" "Hmm... selasa?" Antusias istrinya memudar. "Eh bukan selasa ya?" jawab suaminya cepat-cepat setelah menangkap sinyal ada ketidakberesan dari mimik muka istrinya. Ia lalu buka kalender. "Oh Hari kesaktian Pancasila, tanggal merah ya. Jadi mau kemana kita?" 

"Upacara." jawab istrinya singkat padat jelas. Tidur.

Jumat, 03 Mei 2024

Buah kesabaran

 Hari itu tanggal 29 April 2024, adalah hari yang ia tunggu. Hari ini Pengumuman akhir diterima atau tidaknya ia menjadi calon mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Tempat menimba ilmu yang sudah hampir 2 tahun ini ia tuju. Jam menunjukan pukul 12.00 siang. Tak berani sedetikpun ia buka website pengumuman itu. Biarlah ia menunggu ramai sosmed memposting ucapan selamat pada rekan seperjuangannya yang juga hendak meneruskan kuliah. Maka ia coba sibukkan dirinya dengan hal lain agar pikirannya tak semakin kalut.

Ia ingat di 10 hari yang lalu adalah harinya ujian masuk perguruan tinggi. Ujiannya luring, alias harus berangkat ke tempat ujian bukan lagi secara online. Maka tepat setelah selesai libur lebaran ia berangkat ke Jogja, tempat perguruan tinggi tujuannya. Sendiri. Ke 3 anaknya ia titip bersama ayah anak anak alias suaminya. Memorinya bagai tape recorder yang mengulang adegan bagaimana ia berangkat ke jogja sendiri di sore hari dan terlunta lunta di jakarta menunggu tak tentu arah karena keretanya baru berangkat jam 9 malam. Bagaimana ia solat dari musola ke musola. Bahkan mandi di mesjid setibanya dijogja dan langsung berangkat ujian wawancara. Bagaimana ia sekamar dengan kawannya demi mengirit ongkos penginapan. Bagaimana ia jalan dari satu tempat ke tempat lain dengan menggendong ranselnya yang super besar. Bagaimana ia ujian tulis dengan segala kehecticannya. Bagaimana ia terlunta lunta di malioboro dari jam 10 pagi hingga jam 9 malam karena keretanya baru berangkat jam 9 malam. Bagaimana ia begitu sampai kembali di jakarta di pagi hari dan langsung berangkat kerja dari stasiun dan mandi ditempat kerja. Masya Allah perjuangannya luar biasa.

Tak terasa waktu menunjukan pukul 3 sore dan hp nya mulai gaduh dengan bunyi pesan menanyakan hasil pengumuman kuliahnya. Ia benar benar tak punya keberanian membuka hasilnya. Maka ia tenggelam dalam solat asharnya. Khusu dalam doanya. Kali ini dia benar-benar mengharapkan agar ia diterima. 

Rabu, 27 Maret 2024

menunggu kabar

 Selepas tarawih malam ini, cepat cepat ia membuka laptopnya. Melihat pengumuman. Tapi yang ia tunggu rupanya belum ada kabar. Ia ingat seminggu lalu ia ujian online, dikamarnya. Anaknya meraung-raung diluar pintu memanggil-manggilnya. Sementara ujian masih berlangsung 1 jam lagi. Anaknya baru saja pulang main. Padahal sudah jelas pesannya, bahwa siang ini Ibu ada ujian, tak bisa diganggu dulu selama 2 jam kedepan. Ia juga sudah menitip pesan pada para pengasuh anaknya agar mengajak anak-anaknya main keluar. Namun entah kenapa anak sulungnya tiba-tiba bisa mengamuk begitu diluar pintu kamarnya. Pikirannya jadi kacau. Mana bisa mengerjakan soal-soal ini sementara anaknya berteriak-teriak mengamuk diluar. Astaghfirullah. Ia hirup nafas dalam-dalam, mencoba berkonsentrasi. Namun tetap saja angka angka didepan layarnya seolah menari-nari tak kunjung bisa ia pecahkan jawabannya. Ah sudahlah, ia kerjakan sebiasanya. Akhirnya genap sudah 2 jam selesai ia ujian. Nilai ujiannya langsung keluar begitu ia submit jawabannya. Dan jawabannya benar-benar meluncur jauh lebih rendah dari 2 ujiannya sebelumnya. Ia hanya mematung. Dadanya sesak. Ia hanya merapal doa dan menghibur dirinya bahwa ini konsekuensi seorang ibu. Ujian di rumah dengan ada anak ya begini ini konsekuensinya. Ia coba menerima kenyataan dan memasrahkan semua hasilnya pada Allah Azza wa jalla.

Dan malam ini, tepat seminggu setelah jadwal ujiannya, ia menunggu pengumuman hasil ujiannya itu. Ia benar-benar sudah teruji mengalami kegagalan akhir-akhir ini. Jadi ia siapkan hatinya lapang-lapang. Toh ia masih tetap punya pekerjaan. Masih tetap bisa melangsungkan hidup dengan keluarga kecilnya. Gagal ujian kecil ini hanya secuil dari ujian hidup. Penderitaan rakyat gaza masih selaksa lebih banyak dari sekedar ujian ini. Ia yakinkan bahwa apapun hasilnya, itulah yang terbaik dari Allah SWT.

Tepat jam 21.10 WIB ia buka grup telegram, sudah ramai orang melempar komen. Ada yang bahagia, ada yang sedih. Buru-buru ia pun buka website pengumuman. Alhamdulillah lolos ya Rabb. Terimakasih. Tinggal ia persiapkan ujian wawancara. 

Sebetulnya ia yakin sekali jadwalnya setelah libur lebaran akan bertumpuk-tumpuk. Tapi ya sudahlah, memikirkan skenario terburuk jika jadwalnya tumpang tindih hanya akan membuat kepalanya sakit. Jadi ia putuskan serahkan semua urusan skenario ini pada Allah Sang Maha Pembuat SKenario terbaik. Tugasnya saat ini hanya menyelesaikan target tilawahnya yang sudah lama tertinggal jauh. Ramadhan tersisa 13 hari lagi, ia harus mengencangkan ikat pinggang. Tetap nomer satu target ramadhan. Karena iapun hanya datang setahun sekali. 

Jumat, 22 Maret 2024

menerka

 Berkas-berkas itu kini telah tertumpuk rapi. Sudah sejak 2 jam lalu ia merapikannya sambil sesekali menghela nafas panjang. "Mau sampai kapan aku melakukan ini." gumamnya disela sela kesibukannya menghitung rekapan berkasnya. Ini ke 3 kalinya ia melakukan hal ini. Mengeprint berkas menjadi 3 tumpuk, memasukannya ke map mika bening dan membolonginya dengan pembolong kertas agar tersusun rapi dalam map. Hatinya sesekali mencelos saat melirik logo dalam tumpukan paling atas berkasnya. Logo sebuah perguruan tinggi terkenal. Kesitulah dia akan mengirim berkasnya. Alangkah terjalnya jalan menuju tempat pemilik logo itu. Upayanya taun lalu tak membuahkan hasil. Ditahun ini dia mencobanya lagi. Dengan berkas seadanya, karena instansinya belum memberinya izin sementara deadline pengumpulan berkas sudah semakin sempit. Nekat dia mengumpulkan berkasnya taun lalu. Ia hanya memasrahkan semua pada Allah Azza Wa Jalla, Maha pembuat skenario terbaik. 

Setiap ia gagal menembus perguruan tinggi itu, ia selalu mencoba mengevaluasi diri. Yang mana yang salah, yang mana yang terlewat, mana yang luput. Tapi semakin mengingatnya, hatinya semakin pedih. Terkadang ia berhenti ditengah jalan, merenung, apa sebenarnya yang dia cari. Kenapa sengoyo itu menuju perguruan tinggi? Tak cukupkah pendidikannya saat ini? Tiba tiba tubuh mungil yang dari tadi berada disampingnya menggeliat lembut. Bau keringatnya menyeruak seiring dengan gerak tubuhnya. Bau keringat paling nikmat sedunia itu ia hirup dalam-dalam. Ia elus dan kecup tubuh mungil itu. Tak lama, 2 tubuh mungil  lainya ikut menggeliat. Lalu ia rapikan posisi tubuh tubuh mungil itu satu-satu. Ya, dia sudah punya 3 anak. Merekalah bahan bakarnya untuk semangat meneruskan sekolah. Ia akhir-akhir ini begitu sibuk di pekerjaannya. Hampir tak ada waktu bersama anaknya. Sekolah, adalah tempatnya untuk rehat dari pekerjaan. Ia merasa rindu menuntut ilmu. Ia begitu banyak tak tau. Dan sekolah bagai telaga yang mampu memenuhi dahaganya. Namun sudah hampir 2 tahun upaya ia lakukan untuk sekolah lagi sampai saat ini belum membuahkan hasil. Tahun ini urusannya malah semakin pelik. Andai ia tak menggantungkan harapannya pada Allah, niscaya sudah sejak lama ia menyerah. Ia hanya meyakini bahwa tugas seorang hamba hanya berusaha. Keputusan tetap ada ditangan Allah SWT. Ia hanya memasrahkan arah hidupnya pada Allah SWT. Hidupnya akhir akhir ini laksana air yang menggenang dalam kolam. Keruh karena kurang bergerak. Ia ingin sedikit menjernihkan hidupnya dengan bergerak. Mengalir ke tempat yang ia pasrahkan pada Allah. Ia hanya mengikuti kata hatinya. Walaupun jalannya begitu berliku lagi terjal. Ia akan coba sampai ia terjatuh dan tangan tangan Allah SWT pun akhirnya menolongnya. 

Berkas berkas itu telah siap ia kirim ke kantor pos besok. Dan tugas lainnya masih siap menantinya untuk dikerjakan. Pekan depan ia ada presentasi Nakes Teladan. Ia terpilih mewakili kecamatannya untuk ikut lomba di tingkat kota. Satu-satunya penghiburannya bahwa, mungkin Allah SWT belum berkehandak meloloskannya sekolah taun lalu adalah karena alasannya untuk ini. Maka ia maksimalkan segenap kemampuannya untuk lomba ini. Apa lagi yang dimiliki seorang mukmin selain berprasangka baik pada Tuhannya? Hanya itu satu-satunya penguat jiwanya yang rapuh. Ia berjanji dalam hatinya bahwa akan memberikan yang terbaik dalam lomba ini. Agar ini benar- benar menjadi alasannya sepadan untuk menunda sekolahnya ke tahun berikutnya. Ya Allah.... tolong .