Sosok disebelahnya baru saja tertidur lelap. Selalu begitu. Ia tertidur ditengah sesi ngobrol bantal alias pillow talk. Biasanya ia senewen ditinggal tidur seperti ini, namun malam ini perasaannya begitu tenang. Ia faham kenapa sampai tertidur. Kelelahan. Lalu ia tatap lekat-lekat. Halisnya tipis namun hitam pekat. Matanya berkelopak tebal. Bulu matanya yang lentik teramat cantik. Iya, matanya sih lentik namun ia berkumis tipis dan berjanggut. Membuat iri bisa bisanya lelaki tapi berbulu mata begitu lentik. Sesekali bunyi grok grok terdengar menyeruak dan memantul di dinding-dinding kamarnya. Pulas sekali. Seharian lelakinya mencari nafkah, pantas saja ia selelah itu. Sudah 8 tahun ia memiliki pemandangan tidur malam seperti itu. Namun tak pernah bosan ia menatap wajah teduh itu. Kini ia sudah terbiasa dengan merdunya suara ngorok lelakinya. Di awal tidur bersama, tengah malam ia seringkali terperanjat kaget ditengah malam mendengar suara ngorok, lalu ada sosok lelaki kekar tidur disebelahnya. Perlu waktu untuk membangunkan otaknya bahwa oh iya ia sudah menikah. Bahwa lelaki itu adalah suaminya. Takuuut. Ga pernah tau laki-laki, sekalinya punya langsung tidur disebelah. Kan horor. Ngorok lagi. Suara ngoroknya ngebass pula, udah kayak beruang raksasa tidur.
Ini oktobernya ke 8. Bagaimana bisa dalam sewindu 2 orang menjadi 5? Penjumlahan matematika apa itu bisa begitu. Ah andai saja hidup seperti matematika. Hasilnya pasti. Tapi ternyata tidak. Tidak ada yang pasti dalam hidup. Sewindu lalu ga akan kebayang sih tiba-tiba ia sekeluarga tidur di Yogyakarta. Tak hanya sekedar tidur sekejap. Namun menetap. Jangankan sewindu lalu, sesemester lalu aja ga akan pernah kebayang. Dan ini bukan pertaruhan matematika. Ini pertaruhan nasib haha. Dimana hasilnya hanya Allah Azza Wa Jala yang tau. Tugasnya hanya mengayuh. Sebagaimana sepeda yang harus selalu dikayuh agar seimbang. Agar tak oleng. Agar selalu melaju. Tak peduli medan apa yang ia tempuh. Loh kok medan sih. Katanya Jogja? (?)
Hai Jogja. Taukah? Kaulah yang mempertemukan 2 mojang jajaka ini. Bagaimana bisa tinggal bertetangga desa dari lahir sampai kepala 2 di Tasikmalaya, namun dipertemukannya malah nun jauh di Jogja? Itulah kenapa setelah ijab qobul terapal khusu', mereka diam diam, dalam dalam, disudut hatinya yang tersembunyi berjanji untuk kembali ke Jogja. Kini janjinya tertunai sudah. Dibayar lunas. Dan masih bonus 3 buntelan lucu miliknya juga tak lupa ia bawa serta.
Perlu waktu sewindu untuknya kembali. Dan ini sewindu pertamanya ia merayakan oktober miliknya di Jogja. Betapa istimewanya harinya ini. Apa lagi yang kau dustakan? Kau hanya perlu terus mengayuh kan? Bekalmu sudah disiapkan Allah Azza wa Jalla. Kau hanya perlu menjemputnya.
Lelakinya tiba-tiba bangun. "Maaf ketiduran." Katanya sembari mengucek matanya. Istrinya hanya tersenyum, lalu tiba-tiba istrinya bertanya. "Ini tanggal berapa ya Yah?" , masih mengumpulkan nyawa, suaminya menggeliat. "hmm.... 1 oktober? Wah sudah oktober ya." Istrinya menyambut dengan antusias lalu kembali bertanya. "1 oktober tuh hari apa ya?" "Hmm... selasa?" Antusias istrinya memudar. "Eh bukan selasa ya?" jawab suaminya cepat-cepat setelah menangkap sinyal ada ketidakberesan dari mimik muka istrinya. Ia lalu buka kalender. "Oh Hari kesaktian Pancasila, tanggal merah ya. Jadi mau kemana kita?"
"Upacara." jawab istrinya singkat padat jelas. Tidur.













