Minggu, 29 September 2024

Terus mengayuh

Sosok disebelahnya baru saja tertidur lelap. Selalu begitu. Ia tertidur ditengah sesi ngobrol bantal alias pillow talk. Biasanya ia senewen ditinggal tidur seperti ini, namun malam ini perasaannya begitu tenang. Ia faham kenapa sampai tertidur. Kelelahan. Lalu ia tatap lekat-lekat. Halisnya tipis namun hitam pekat. Matanya berkelopak tebal. Bulu matanya yang lentik teramat cantik. Iya, matanya sih lentik namun ia berkumis tipis dan berjanggut. Membuat iri bisa bisanya lelaki tapi berbulu mata begitu lentik. Sesekali bunyi grok grok terdengar menyeruak dan memantul di dinding-dinding kamarnya. Pulas sekali. Seharian lelakinya mencari nafkah, pantas saja ia selelah itu. Sudah 8 tahun ia memiliki pemandangan tidur malam seperti itu. Namun tak pernah bosan ia menatap wajah teduh itu. Kini ia sudah terbiasa dengan merdunya suara ngorok lelakinya. Di awal tidur bersama, tengah malam ia seringkali terperanjat kaget ditengah malam mendengar suara ngorok, lalu ada sosok lelaki kekar tidur disebelahnya. Perlu waktu untuk membangunkan otaknya bahwa oh iya ia sudah menikah. Bahwa lelaki itu adalah suaminya. Takuuut. Ga pernah tau laki-laki, sekalinya punya langsung tidur disebelah. Kan horor. Ngorok lagi. Suara ngoroknya ngebass pula, udah kayak beruang raksasa tidur.

Ini oktobernya ke 8. Bagaimana bisa dalam sewindu 2 orang menjadi 5? Penjumlahan matematika apa itu bisa begitu. Ah andai saja hidup seperti matematika. Hasilnya pasti. Tapi ternyata tidak. Tidak ada yang pasti dalam hidup. Sewindu lalu ga akan kebayang sih tiba-tiba ia sekeluarga tidur di Yogyakarta. Tak hanya sekedar tidur sekejap. Namun menetap. Jangankan sewindu lalu, sesemester lalu aja ga akan pernah kebayang. Dan ini bukan pertaruhan matematika. Ini pertaruhan nasib haha. Dimana hasilnya hanya Allah Azza Wa Jala yang tau. Tugasnya hanya mengayuh. Sebagaimana sepeda yang harus selalu dikayuh agar seimbang. Agar tak oleng. Agar selalu melaju. Tak peduli medan apa yang ia tempuh. Loh kok medan sih. Katanya Jogja? (?)

Hai Jogja. Taukah? Kaulah yang mempertemukan 2 mojang jajaka ini. Bagaimana bisa tinggal bertetangga desa dari lahir sampai kepala 2 di Tasikmalaya, namun dipertemukannya malah nun jauh di Jogja? Itulah kenapa setelah ijab qobul terapal khusu', mereka diam diam, dalam dalam, disudut hatinya yang tersembunyi berjanji untuk kembali ke Jogja. Kini janjinya tertunai sudah. Dibayar lunas. Dan masih bonus 3 buntelan lucu miliknya juga tak lupa ia bawa serta.

Perlu waktu sewindu untuknya kembali. Dan ini sewindu pertamanya ia merayakan oktober miliknya di Jogja. Betapa istimewanya harinya ini. Apa lagi yang kau dustakan? Kau hanya perlu terus mengayuh kan? Bekalmu sudah disiapkan Allah Azza wa Jalla. Kau hanya perlu menjemputnya. 

Lelakinya tiba-tiba bangun. "Maaf ketiduran." Katanya sembari mengucek matanya. Istrinya hanya tersenyum, lalu tiba-tiba istrinya bertanya. "Ini tanggal berapa ya Yah?" , masih mengumpulkan nyawa, suaminya menggeliat. "hmm.... 1 oktober? Wah sudah oktober ya." Istrinya menyambut dengan antusias lalu kembali bertanya. "1 oktober tuh hari apa ya?" "Hmm... selasa?" Antusias istrinya memudar. "Eh bukan selasa ya?" jawab suaminya cepat-cepat setelah menangkap sinyal ada ketidakberesan dari mimik muka istrinya. Ia lalu buka kalender. "Oh Hari kesaktian Pancasila, tanggal merah ya. Jadi mau kemana kita?" 

"Upacara." jawab istrinya singkat padat jelas. Tidur.

Jumat, 03 Mei 2024

Buah kesabaran

 Hari itu tanggal 29 April 2024, adalah hari yang ia tunggu. Hari ini Pengumuman akhir diterima atau tidaknya ia menjadi calon mahasiswa sebuah perguruan tinggi. Tempat menimba ilmu yang sudah hampir 2 tahun ini ia tuju. Jam menunjukan pukul 12.00 siang. Tak berani sedetikpun ia buka website pengumuman itu. Biarlah ia menunggu ramai sosmed memposting ucapan selamat pada rekan seperjuangannya yang juga hendak meneruskan kuliah. Maka ia coba sibukkan dirinya dengan hal lain agar pikirannya tak semakin kalut.

Ia ingat di 10 hari yang lalu adalah harinya ujian masuk perguruan tinggi. Ujiannya luring, alias harus berangkat ke tempat ujian bukan lagi secara online. Maka tepat setelah selesai libur lebaran ia berangkat ke Jogja, tempat perguruan tinggi tujuannya. Sendiri. Ke 3 anaknya ia titip bersama ayah anak anak alias suaminya. Memorinya bagai tape recorder yang mengulang adegan bagaimana ia berangkat ke jogja sendiri di sore hari dan terlunta lunta di jakarta menunggu tak tentu arah karena keretanya baru berangkat jam 9 malam. Bagaimana ia solat dari musola ke musola. Bahkan mandi di mesjid setibanya dijogja dan langsung berangkat ujian wawancara. Bagaimana ia sekamar dengan kawannya demi mengirit ongkos penginapan. Bagaimana ia jalan dari satu tempat ke tempat lain dengan menggendong ranselnya yang super besar. Bagaimana ia ujian tulis dengan segala kehecticannya. Bagaimana ia terlunta lunta di malioboro dari jam 10 pagi hingga jam 9 malam karena keretanya baru berangkat jam 9 malam. Bagaimana ia begitu sampai kembali di jakarta di pagi hari dan langsung berangkat kerja dari stasiun dan mandi ditempat kerja. Masya Allah perjuangannya luar biasa.

Tak terasa waktu menunjukan pukul 3 sore dan hp nya mulai gaduh dengan bunyi pesan menanyakan hasil pengumuman kuliahnya. Ia benar benar tak punya keberanian membuka hasilnya. Maka ia tenggelam dalam solat asharnya. Khusu dalam doanya. Kali ini dia benar-benar mengharapkan agar ia diterima. 

Rabu, 27 Maret 2024

menunggu kabar

 Selepas tarawih malam ini, cepat cepat ia membuka laptopnya. Melihat pengumuman. Tapi yang ia tunggu rupanya belum ada kabar. Ia ingat seminggu lalu ia ujian online, dikamarnya. Anaknya meraung-raung diluar pintu memanggil-manggilnya. Sementara ujian masih berlangsung 1 jam lagi. Anaknya baru saja pulang main. Padahal sudah jelas pesannya, bahwa siang ini Ibu ada ujian, tak bisa diganggu dulu selama 2 jam kedepan. Ia juga sudah menitip pesan pada para pengasuh anaknya agar mengajak anak-anaknya main keluar. Namun entah kenapa anak sulungnya tiba-tiba bisa mengamuk begitu diluar pintu kamarnya. Pikirannya jadi kacau. Mana bisa mengerjakan soal-soal ini sementara anaknya berteriak-teriak mengamuk diluar. Astaghfirullah. Ia hirup nafas dalam-dalam, mencoba berkonsentrasi. Namun tetap saja angka angka didepan layarnya seolah menari-nari tak kunjung bisa ia pecahkan jawabannya. Ah sudahlah, ia kerjakan sebiasanya. Akhirnya genap sudah 2 jam selesai ia ujian. Nilai ujiannya langsung keluar begitu ia submit jawabannya. Dan jawabannya benar-benar meluncur jauh lebih rendah dari 2 ujiannya sebelumnya. Ia hanya mematung. Dadanya sesak. Ia hanya merapal doa dan menghibur dirinya bahwa ini konsekuensi seorang ibu. Ujian di rumah dengan ada anak ya begini ini konsekuensinya. Ia coba menerima kenyataan dan memasrahkan semua hasilnya pada Allah Azza wa jalla.

Dan malam ini, tepat seminggu setelah jadwal ujiannya, ia menunggu pengumuman hasil ujiannya itu. Ia benar-benar sudah teruji mengalami kegagalan akhir-akhir ini. Jadi ia siapkan hatinya lapang-lapang. Toh ia masih tetap punya pekerjaan. Masih tetap bisa melangsungkan hidup dengan keluarga kecilnya. Gagal ujian kecil ini hanya secuil dari ujian hidup. Penderitaan rakyat gaza masih selaksa lebih banyak dari sekedar ujian ini. Ia yakinkan bahwa apapun hasilnya, itulah yang terbaik dari Allah SWT.

Tepat jam 21.10 WIB ia buka grup telegram, sudah ramai orang melempar komen. Ada yang bahagia, ada yang sedih. Buru-buru ia pun buka website pengumuman. Alhamdulillah lolos ya Rabb. Terimakasih. Tinggal ia persiapkan ujian wawancara. 

Sebetulnya ia yakin sekali jadwalnya setelah libur lebaran akan bertumpuk-tumpuk. Tapi ya sudahlah, memikirkan skenario terburuk jika jadwalnya tumpang tindih hanya akan membuat kepalanya sakit. Jadi ia putuskan serahkan semua urusan skenario ini pada Allah Sang Maha Pembuat SKenario terbaik. Tugasnya saat ini hanya menyelesaikan target tilawahnya yang sudah lama tertinggal jauh. Ramadhan tersisa 13 hari lagi, ia harus mengencangkan ikat pinggang. Tetap nomer satu target ramadhan. Karena iapun hanya datang setahun sekali. 

Jumat, 22 Maret 2024

menerka

 Berkas-berkas itu kini telah tertumpuk rapi. Sudah sejak 2 jam lalu ia merapikannya sambil sesekali menghela nafas panjang. "Mau sampai kapan aku melakukan ini." gumamnya disela sela kesibukannya menghitung rekapan berkasnya. Ini ke 3 kalinya ia melakukan hal ini. Mengeprint berkas menjadi 3 tumpuk, memasukannya ke map mika bening dan membolonginya dengan pembolong kertas agar tersusun rapi dalam map. Hatinya sesekali mencelos saat melirik logo dalam tumpukan paling atas berkasnya. Logo sebuah perguruan tinggi terkenal. Kesitulah dia akan mengirim berkasnya. Alangkah terjalnya jalan menuju tempat pemilik logo itu. Upayanya taun lalu tak membuahkan hasil. Ditahun ini dia mencobanya lagi. Dengan berkas seadanya, karena instansinya belum memberinya izin sementara deadline pengumpulan berkas sudah semakin sempit. Nekat dia mengumpulkan berkasnya taun lalu. Ia hanya memasrahkan semua pada Allah Azza Wa Jalla, Maha pembuat skenario terbaik. 

Setiap ia gagal menembus perguruan tinggi itu, ia selalu mencoba mengevaluasi diri. Yang mana yang salah, yang mana yang terlewat, mana yang luput. Tapi semakin mengingatnya, hatinya semakin pedih. Terkadang ia berhenti ditengah jalan, merenung, apa sebenarnya yang dia cari. Kenapa sengoyo itu menuju perguruan tinggi? Tak cukupkah pendidikannya saat ini? Tiba tiba tubuh mungil yang dari tadi berada disampingnya menggeliat lembut. Bau keringatnya menyeruak seiring dengan gerak tubuhnya. Bau keringat paling nikmat sedunia itu ia hirup dalam-dalam. Ia elus dan kecup tubuh mungil itu. Tak lama, 2 tubuh mungil  lainya ikut menggeliat. Lalu ia rapikan posisi tubuh tubuh mungil itu satu-satu. Ya, dia sudah punya 3 anak. Merekalah bahan bakarnya untuk semangat meneruskan sekolah. Ia akhir-akhir ini begitu sibuk di pekerjaannya. Hampir tak ada waktu bersama anaknya. Sekolah, adalah tempatnya untuk rehat dari pekerjaan. Ia merasa rindu menuntut ilmu. Ia begitu banyak tak tau. Dan sekolah bagai telaga yang mampu memenuhi dahaganya. Namun sudah hampir 2 tahun upaya ia lakukan untuk sekolah lagi sampai saat ini belum membuahkan hasil. Tahun ini urusannya malah semakin pelik. Andai ia tak menggantungkan harapannya pada Allah, niscaya sudah sejak lama ia menyerah. Ia hanya meyakini bahwa tugas seorang hamba hanya berusaha. Keputusan tetap ada ditangan Allah SWT. Ia hanya memasrahkan arah hidupnya pada Allah SWT. Hidupnya akhir akhir ini laksana air yang menggenang dalam kolam. Keruh karena kurang bergerak. Ia ingin sedikit menjernihkan hidupnya dengan bergerak. Mengalir ke tempat yang ia pasrahkan pada Allah. Ia hanya mengikuti kata hatinya. Walaupun jalannya begitu berliku lagi terjal. Ia akan coba sampai ia terjatuh dan tangan tangan Allah SWT pun akhirnya menolongnya. 

Berkas berkas itu telah siap ia kirim ke kantor pos besok. Dan tugas lainnya masih siap menantinya untuk dikerjakan. Pekan depan ia ada presentasi Nakes Teladan. Ia terpilih mewakili kecamatannya untuk ikut lomba di tingkat kota. Satu-satunya penghiburannya bahwa, mungkin Allah SWT belum berkehandak meloloskannya sekolah taun lalu adalah karena alasannya untuk ini. Maka ia maksimalkan segenap kemampuannya untuk lomba ini. Apa lagi yang dimiliki seorang mukmin selain berprasangka baik pada Tuhannya? Hanya itu satu-satunya penguat jiwanya yang rapuh. Ia berjanji dalam hatinya bahwa akan memberikan yang terbaik dalam lomba ini. Agar ini benar- benar menjadi alasannya sepadan untuk menunda sekolahnya ke tahun berikutnya. Ya Allah.... tolong .

Senin, 16 Januari 2023

Sera lahir ke dunia


 Anak pertama saya sudah 4 tahun, dan yang kedua sudah 2 tahun ketika saya mendapati testpack saya kembali positif. Bingung campur haru dan ketidaksiapan menyeruak menjadi satu. Belum siap untuk menambah lagi anggota keluarga baru. Perlahan tapi pasti akhirnya saya mulai menerima dan bersyukur pada Allah swt. Banyak orang tua diluar sana yang mendambakan anak, sementara saya diberi kemudahan oleh Allah swt untuk hamil. Hamdalah. Sama seperti kehamilan kedua, saya sama sekali tak kesulitan, tak ada mabok, mual, muntah, bahkan kadang saya merasa kalo saya lupa sedang hamil. Hamdalah hamdalah.

Hingga memasuki usia kehamilan 7 bulan saya mulai kesulitan, sementara pekerjaan semakin banyak, pasien numpuk tiap harinya. Pikiran gak keruan. Waktu itu perkiraan lahir yang diprediksi dokter obsgyn sekitar 24 November 2022. Sejak 10 November saya memutuskan untuk cuti, karena sudah sangat berat mengerjakan lebih dari 5 pasien setiap hari. Lagipula saya sudah mulai sering merasa kontraksi. Dengan penuh drama akhirnya saya dan keluarga berangkat ke tasik. Saya yang hamil dan sering kontraksi, 2 balita usia 5 dan 3 tahun, dan suami yg mengendarai mobil. Meski banyak yang khawatir saya brojol di jalan, tapi bismillah kami berangkat berempat berkendara pd malam hari ke tasik lewat jalan puncak. Di puncak kami berhenti dulu ke rumah adik saya untuk membawa perlengkapan bayi bekas adik saya, karena april 2022 lalu dia juga habis lahiran dan anaknya sudah mau berusia 9 bulan jd banyak perlengkapan bayi yang sudah tidak terpakai. Jujur, untuk anak ke3 ini saya bener2 gak terlalu banyak persiapan untuk peralatan lahir, cenderung seadanya dan semampunya, hiks. Maafkan ibu,nak. Kesibukan pekerjaan sembari mengurus 2 balita harusnya bukan alasan sih ya. Tapi yagimana, emang ga ada waktu untuk belanja printilan lahiran. Sisa ini itu yang kurang dibeliin mamah pas udah sampe tasik.

Ditasik bener2 gak ada si mbak ART yng menemani. Kakek neneknya kerja. Ayahnya bolak balik jakarta tasik. Jadi sebenernya pulang ke tasik malah makin mandiri akutuh wkwkkw. Positifnya sih disini bener2 dirumah ga perlu kerja meskipun ga ada si mbak ART. Cuma karena emang kewalahan banget ngurus 2 balita akhirnya kayak nyetrika, nyuci, beres2 rumah mamah, saya dibantu ART pulang pergi tetangganya mamah. Jadilah 10 hari berlalu dirumah mamah tanpa ada tanda2 mau brojol. Kirain ditasik hanya selang bbr hari langsung lahiran, ternyata si gelombang cinta ini ga kunjung datang lagi. Kayaknya kontraksi ditempat kerja yg mulai sering itu karena kecapekan deh. Bener2 keputusan yang tepat sih buru2 cuti. 

Hingga akhirnya hari minggu pagi tanggal 20 November 2022 saya mulai berkeringat dingin menahan mules. Kayaknya ini beneran deh mulesnya, makin sering dan makin sakit. Untungnya ada suami dirumah akhirnya ke RS dianter suami. Anak anak dititip mamah papahku. Jam 11 sampai RS masuk IGD. Diobservasi di bed di IGD. Cek darah, swab, dll. Lalu karena masih bukaan 1 disarankan pulang atau masuk rawat inap. Akhirnya ke rawat inap. mules ditungguin suami di rawat inap dan udah mulai sering banget mulesnya pas di cek emang udah bukaan 7. Masya Allah luar biasa pokoknya sakitnya. Harusnya ya udah anak ke 3 udah mulai siap menghadapi kontraksi ini, tapi justru karena sudah berpengalaman dan tau gimana sakitnya jadi rasanya pengen skip aja hiks. Jadi lebih takut dan jiper banget menghadapi momen kontraksi ini. Sampe diruang inap itu kan aku sekamar sama ada tuh 1 pasien lain, pasien sebelah itu baru lahiran anak pertama dan sesar, ngebayangin gimana rasanya dia denger aku mengerang kesakitan dan beristighfar Allohu akbar kenceng banget sampe aku bilang ke susternya tolong sus aku mau sesar aja saking pengen diskip aja sakitnya. Padahal ya sesar juga sakit ya setelah operasinya hiks. Hebat lah pokoknya jadi ibu tuh bisa menahan sakit yang luar biasa. Iya beneran aku emang memuji diri sendiri masya Allah kuasa Allah keren banget badan ini bisa menahan sakit yang sedemikian luar biasa itu. Kayak di setrum sakitnya tuh. Saking sakitnya aku sampe harus mencari hal yang bisa membuatku memotivasi diri untuk kuat menghadapi sakitnya ini. Tau ga apa motivasinya? Kalo anak pertama aku motivasinya adalah, "Ayo sini datang, gapapa sesakit apapun akan aku hadapi karena ini yang aku tunggu dari 5 hari lalu" baca aja ya momen lahiran kira , dan anak kedua ga ada motivasi makanya kerasa sakit banget di lahiran kedua momen lahiran bia, nah yang ketiga ini motivasi saya adalah

                    "Allohu Akbar gapapa ya Allah sakit juga asal jadikan anakku ini jadi anak yang soleh"


dan itu bener2 memberi kekuatan untuk bisa menahan sakitnya melahirkan. Setelah kontraksi makin sering, rasa sakit makin sakiit banget, dan ternyata emang udah bukaan 7, saya dipindah ke ruang tindakan. Dan u know di ruang tindakan ternyata bidan yang memimpin lahiran saya adalah teman saya sendiri. Sebutlah temen saya itu si Lisa. Si Lisa ini temen SMA saya. Gak begitu deket. Tapi lumayan akrab karena bangkunya waktu itu ada dibelakang saya. Tapi ya biasa aja ga bestie banget. Hanya bergaul sekedarnya saja. Pas lulus SMA juga ga pernah ketemu lagi, tapi setahun belakangan ini ngedadak sering ngehubungi saya buat apa coba, minjem duit hiks. Sebenernya saya agak terganggu ya sama orang yang akrab aja nggak, ga pernah kontekan, sekalinya kontekan minjem duit dan itu bukan sekali dua kali tapi lebih dari 3 kali. Karena emang ga akrab ya jadi saya ga pernah minjemin uang karena emang pas ga ada juga sih uangnya. Sampe saking terganggunya saya blok wasapnya. Saya juga sampe nanya ke temen saya yg seprofesi sama dia nanyain track recordnya dia kenapa bisa sampe minjem uang terus, ternyata ya emang udah terkenal suka minjem uang hiks. Fix lah jadi makin ilfeel kan. Apalagi minjem uang hanya untuk menuruti gaya hidup. Dan jeng jeng jeng tau tau dia sekarang ngebantu proses lahiran saya. Syok dong. Mana mules banget mau lahiran, liat dia makin mules. Berdoa aja sama Allah semoga Allah selamatkan dan dia bekerja profesional. Alhamdulillah lahiran saya lancar.

Jadi pas saya udah pengen ngeden tuh, saya disuruh ditahan jangan dulu ngeden. Gak kuat bener2 nahan ngeden. Katanya masih bukaan 9 makanya jangan dulu ngeden. Kayak mau BAB udah ga tahan tapi harus ditahan itu gimana sih. Tersiksa banget. Dan itu tuh agak lama saya nahan ngeden mati-matian itu. Walopun tetep ngeden juga sih tapi si kepala bayi di mulut rahim saya ditahan sama tangan bidan biar bayinya gak keluar. Paha dan kaki saya juga saya rapatkan ketika ngeden itu karena katanya jangan dulu. Luar biasa tersiksa. Sampe akhirnya dokter obsgyn nya datang saya diposisikan untuk sia ngeden tapi tenaga ngeden saya sudah abis. Bener dong dugaan saya, saya disuruh nahan ngeden waktu tadi itu karena dokternya blm datang, jadi harus nunggu dulu dokternya. Nah pas ada dokter itu, posisi saya sudah siap lahiran dan siap2 ngeden tapi nafas saya cuma mampu mengeluarkan bayi setengah badan saja, "Ayo sambung nafasnya, ngeden lagi." kata bidan dan dokternya. Akhirnya aku sambung lagi, baru deh alhamdulillah bayinya keluar. Perempuan lagi. 3 perempuan masya Allah hamdalah. Sehat selamat dan cantik. Tinggal saya yang masih harus lahiran kedua alias mengeluarkan plasenta. Saya inget waktu itu disuntik dipaha, ternyata suntikan itu memicu kontraksi sehingga keluar tuh plasentanya. Tapi plasentanya ancur kata dokternya. Sampe selaputnya ikut terkelupas. Berkali-kali itu tangan dokternya mengobok obok perutku untuk mengeluarkan potongan2 plasenta yang tercecer, Hingga akhirnya alhamdulillah keluar semua dan miss V saya dijahit. Kata dokternya cuma sobek bagian kulit, ototnya aman. Iya sih karena gak digunting saya inget betul pas lahiran anak ke 1 dan 2 mah digunting. Jadi pemulihan sampe bisa posisi duduk itu lama. Tapi untuk anak ke 3 ini nikmat alhamdulillah begitu selesai lahiran bisa langsung duduk. Dan san saya bisa IMD Inisiasi menyusui dini sama si mungil cantik. Waktu itu bayi lahir jam 18.08 wib. Masya Allah tergolong sebentar ya, masuk RS jam 12, brojol jam 18.00 sekitar 6 jam.

Selesai saya ditindak semua sudah bersih saya lalu dipindah ke ruang ranap lagi. Eit meski capek, belum bisa tidur bunda, harus menyusui dulu si mungil. Untung anak ke 3 sih jadi ga kaget. Dulu pas anak pertama sempet kaget begitu abis lahiran lagi capek2nya pengen tepar masih harus nyusui. Masya Allah begitulah ya dahsyatnya ibu luar biasa pokoknya. Tiap ada suster kekamar ditanya siapa nama bayinya suka bingung. karena emang belum nyiapin. Anak ke3 bener2 serba grasak grusuk dan dadakan, nama anak aja launching udah lahir 24 jam kemudian wkwk. Yang nungguin dari mulai mules sampe brojol bener2 suami dan ga ada siapa2 lagi. Biasanya yang nemenin mamah, kali ini mamah harus dirumah nungguin 2 balita. Mamah dan bapa mertua datang esoknya pagi hamdalah masih lengkap semua. Baru kakak ipar pd dateng. 

Makin cinta sih sama suami, terharu dia bener2 bantuin pas aku mau ke wc. Nyiapin peralatan mandi, softext nifas aku juga dia bantu siapin dan bekasnya dia buangin. hiks. Love banget ayah. Bersyukur banget bisa lahiran normal, jadi bener2 speed recovery. Besoknya udah bisa duduk nyusuin, makan juga enak. Perlu dibantu tuh cuma pas mandi aja sih nyiapin peralatan mandi dan baju ganti aja. Lainnya hamdalah udah mandiri. Paling bawain makan bawain minum yang letaknya gatau dimana. Suami juga kecapekan banget sih kayaknya. Pulang dari RS itu besoknya sekitar maghrib juga. Alhamdulillah lahiran pake asuransi dari kantor suami jadi cuma ngeluarin uang dikit karena ada ini itu yang ga dicover.

Sampe rumah disambut sama kakak kakak cantiknya. Happy banget liat makhluk mungil kayak boneka katanya hihi. Kami tidur ber5 dikamar. Malam itu juga aki nyiapin 2 kasur springbed dikamar untuk kami ber5. Dan yah setelah usia bayi kami sebulan barulah kami bawa kembali ke tangsel. semua sehat selamat hamdalah.

Kamis, 08 Oktober 2020

Nadom nabi

 Nabi urang  saréréa,

Kangjeng Nabi anu mulya,
Muhammad jenenganana,
Arab Kurés nya bangsana.
2
Ramana Gusti Abdullah,
Ibuna Siti Aminah,
dibabarkeunna di Mekah,
wengi Senén taun Gajah.

3
Robiul awal bulanna,
tanggal ka-dua belasna,
April bulan maséhina,
tanggal kadua-puluhna.

4
Ari bilangan taunna,
lima ratus cariosna,
tujuh puluh panambihna,
sareng sahiji punjulna.

5
Siti Aminah misaur,
waktos babarna kacatur,
ningal cahaya mani ngempur,
di bumina hurung mancur.
Babar taya kokotoran
Orok lir kenging nyepitan
Soca lir kenging nyipatan
Sarta harum seuseungitan

6
Parangina Kangjeng Nabi,
jatnika pinuh ku puji,
pinter tur gedé kawani,
sabar nyaah ka sasami.

7
Keur opat taun yuswana,
diberesihan manahna,
nabi dibeulah dadana,
malaikat nu meulahna.

8
Jibril kadua réncangna
Mikail jenenganana,
ngeusikeun kana manahna,
elmu hikmah sapinuhna.

9
Tuluy dada Kanjeng Nabi,
gancang dirapetkeun deui,
sarta teu ngaraos nyeri,
dicap ku Hotami Nabi.

10
Rama Nabi kacaturkeun
pupusna kacarioskeun
basa Nabi dibobotkeun
dua sasih kaunggelkeun

11
Kagenep taun yuswana
ditilar pupus ibuna
Nabi dirorok eyangna
Abdul Mutalib asmana

12
Kersana Rabbul’alamin
Kangjeng Nabi nu prihatin
yuswa dalapan taun yakin
éyangna mulih ka batin

13
Sabada wapat éyangna
Nabi dirawat pamanna
Abi Talib kakasihna
sadérék teges ramana

14
Kangjéng Nabi sering pisan
dicandak ka Nagara Sam
sok nyandak barang dagangan
di dinya téh pajeng pisan

15
Kacatur di éta nagri
loba pandita Yahudi
sareng pandita Nasrani
nu tepang jeung Kangjeng Nabi

16
Sadayana sasauran
ieu jalmi mo nyalahan
pinabieun ahir jaman
Torét, Injil, geus ngiberan

17
Sipat Nabi panganggeusan
aya di anjeunna pisan
harita loba nu iman
ka Nabi ngangken panutan

18
Karesepna Kangjeng Nabi
ka Gusti Allah ngabakti
di Gunung Hira maranti,
ibadahna saban wengi.

19
Di dinya jol kasumpingan,
Jibril nu nurunkeun Kur’an,
kalawan dawuh Pangéran,
Nabi didamel utusan.

20
Harita yuswana Nabi,
patpuluh taun kawarti,
diutus ku Allah pasti,
ngémbarkeun agama suci.

21
Anu iman pangheulana,
Siti Khodijah garwana,
Abu Bakar kaduana
sohabat nu pangmulyana

22
Murangkalih nu nonoman,
anu pangheulana iman,
Sayidina Ali pisan,
ka Nabi sadérék misan.

23
Jeung ari jalma beulian,
anu pangheulana iman,
Sayid Bilal kaleresan,
anu jadi tukang adan.

24
Ari lolobana pisan
ka Nabi téh ngamusuhan,
nganiaya ngajailan,
teu aya pisan ras-rasan.

25
Nuju tanggal tujuh likur,
bulan Rajab nu kacatur,
runut kaol nu kamashur
Kangjeng Nabi téh disaur.

26
Dipapag ku malaikat,
nyandak burok nu kasebat,
leumpangna téh cara kilat,
tutunggangan Nabi angkat.

27
Ti Mekah ka Baitul Maqdis,
teu lami-lami antawis,
ku jalmi henteu katawis,
Kersana Gusti nu Wacis.

28
Ti Baétul Makdis terasna,
naék tangga saterusna,
mi’raj téa kasebatna,
ka langit Nabi sumpingna.

29
Tujuh langit sadayana,
sareng aras pangluhurna,
disumpingan sadayana,
katut surga-narakana.

30
Kangjeng Nabi ditimbalan,
ku Gusti Nu Sipat Rahman,
anjeunna kudu netepan,
solat muji ka Pangéran.

31
Sadayana jalmi iman,
sami gaduh kawajiban,
solat nu lima giliran,
henteu meunang dikurangan.

32
Solat éta minangkana,
dina agama tihangna,
jalmi nu luput solatna,
nyata rubuh agamana.

33
Kapir Mekah kacaturkeun,
barang Nabi nyarioskeun,
mi’raj lain dimulyakan,
anggur pada nyeungseurikeun.

34
Pada hasud ngakalakeun,
ti dinya Allah ngersakeun,
Kangjeng Nabi dialihkeun,
ka Madinah disirnakeun.

35
Para sohabat pirang-pirang,
nu buméla milu iang,
milu ngalih saabrulan,
henteu pisan sumoréang.

36
Tambih kamulyaan nabi,
di madinah asal sepi,
jadi ramé ku nu ngaji,
muji ka Nu Maha Suci.

37
Sapuluh taun lamina,
di Madinah jumenengna,
agama Islam cahyana,
gumebyar ka mana-mana.

38
Ari mungguh Kangjeng Nabi,
nyaahna langkung ti misti,
ka umatna jaler istri,
leuwih ti sepuh pribadi.

39
Welas asih ka nu miskin,
sumawon ka budak yatim,
pada seubeuh ku paparin,
kadaharan jeung pisalin.

40
Akurna ka urang kampung,
calik satata ngariung,
tara angkuh jeung adigung,
sanajan ka urang gunung.

41
Ka nu nandang kasusahan,
gering jeung kapapaténan,
ngalayad sarta ngubaran,
ngajajapkeun ka kuburan.

42
Manis saur manis budi,
éstu mustikaning jalmi,
sajagat mo’ mendak deui,
saé rupa jeung parangi.

43
Raray lir bulan purnama,
halisna lir katumbiri,
waos lir inten widuri,
salira harum wawangi.

44
Éstu kersaning Pangéran,
lain seungit dimenyanan,
karinget pada nandéan,
diparaké seuseungitan.

45
Pirang-pirang mujijatna,
tawis kanabianana,
Kur’an nu nomer hijina
mujijat nu pangmulyana.

46
Tangkal nu pérang daunna,
disiram urut abdasna,
ngadadak loba buahna,
sarta hirup saterasna.

47
Domba nu banget kuruna,
sarta lalépét susuna,
diusap ku pananganna,
ngadadak juuh susuna

48
Dina hiji waktos deui,
sahabat bet kirang cai,
teras baé Kangjeng Nabi,
mundut cai anu kari

49
Cai ngan sakedét pisan,
éstu kabéh pada héran,
Nabi neuleumkeun panangan,
dumadak tuluy manceran.

50
Cai mancer loba pisan,
ka luar tina panangan,
sela-sela ramo pisan,
cukup keur jalma réaan.

51
Ya Allah Nu Sipat Rohman,
abdi téh iman ka Tuhan,
teu aya deui Pangéran,
lain ti Allah Nu Héman.

52
Nu ngadamel bumi-alam,
rawuh jeung eusina pisan,
nu wajib diibadahan,
taya anu nyasamian.

53
Sareng abdi iman deui,
ka Muhammad Kangjeng Nabi,
yén éta utusan Gusti,
miwulang ka jalmi-jalmi.

54
Nu sipat kapercantenan,
wijaksana tur budiman,
bener wungkul sasauran,
lain saur kaheureuyan.

55
Hurmat urang ka anjeunna,
dina mangsa jumenengna,
sareng sabada wapatna,
éstu teu aya béntenna.

56
Duh Gusti jungjunan abdi,
Sayidina Muhammad habibi,
pamugi salira nampi,
ka nu hina diri abdi.

57
Abdi umat ahir jaman,
anu banget panasaran,
hoyong tepang ngadeuheusan,
seja tumut serah badan.

Senin, 11 Mei 2020

Persiapan MPASI

Tanggal 14 bulan ini Bia tepat umur 6 bulan. Saya harus sudah mulai menyiapkan alat dan bahan persiapan MPASI nya. Oke langsung aja ya kita list...

Alat Makan: 
1. Mangkok, saya pake mangkok dari brother max. Soalnya enak ada kupingnya jd kalo megang mangkuk ga takut jatuh2. Apalagi bisa dipake sampe anak toddler, dia jg nanti bisa megang dibagian kupingnya.


2. Sendok makan
Sendok jg saya pake dari brother max. Pegangannya panjang jadi mantep dipegang ketika nyuapin anak.
Selain sendoi dari brother max, saya jg punya sendok easy to go dari nuby. Bahannya dari silikon jadi lentur gitu hingga ke pegangannya, dan ada tempatnya. Jd enak kalo dibawa bepergian, sendoknya tetep steril.

3. Bib
Saya pake dari brother max juga. Jadi uniknya bin dari brother max itu ada catcher. Dan antara bahan catcher sama bibnya itu beda, kalo bib nya dari cotton warna putih jd kalo kena noda gampang dicuci pake pemutih juga ilang nodanya ga perlu khawatir merusak warna karena memang warnanya putih. Catchernya bahannya dari silikon sehingga mudah dicuci juga jika kecipratan makanan. Uniknya catcher dengan bibnya bisa dicopot. Satu set bib dari brother max kita dapet 2 bib yang bisa dipake ganti2an dengan 1 catcher.
4. High cair
Saya pake yg murah meriah aja dari ikea :D. Bisa dipake sampe anak toddler. Bahkan kadang dipake ganti gantian sama kakaknya yang usia 2.5 thn.

Alat masak mpasi:
1. Saringan kawat
Saringan kawat dipake untuk menyaring makanan bayi terutama diawal mpasi yang mengharuskan bertekstur lembut.

2. Panci dan susuk
Kalo saya biasanya memang menyiapkan panci dan susuk khusus untuk memasak makanan mpasi Bia. Biar ga kecampur dg makanan dewasa yang notabener sangat berbumbu dan terkadang pedas dan kaya gula garam. Jadi better sih dipisah.

3. Talenan dan piso
Bagusnya talenan dan pisonya jg dipisah khusus masak mpasi.

4. Food container
Yang aku suka dari food container dari brother max ini tuh krn dibagian bawahnya terbuat dr bahan silikon, jd kalo makanan mpasi bekunya Bia mau disantap bisa gampang dilepas dari food containernya ini. Tinggal dipanaskan lagi. Jadi fungsi food container ini tuh untuk naro makanan mpasi agar dlm keadaan beku. Aku biasanya sekali masak untuk bia tuh agak banyak. Nah lalu dimasukin ke wadah ini, trus masukin freezer. Jd ntr kalo bia waktunya makan disore harinya tinggal dikeluarin dr freezer dan dihangatkan. Aku lbh suka dengan metode makanan beku gini daripada bubur instan. Tapi ya ga menutup kemungkinan jg aku ladang ngasih bia makan bubur instan.

5. Sterilisasi

Saya pake alat sterilisasi Baby safe. Tempatnya lumayan gede jd bisa muat banyak. Selain buat ngesterilin juga bisa buat ngangetin susu, ngangetin makanan mpasi, rebus telur, dll.

6. Slow cooker
Ini optional sih, cuma dulu saya beli ini tuh karena saya suka nyetok air kaldu untuk mpasi Kira. Sementara kalo ngerebus daging atau sumsum sapi di panci itu semakin lama airnya semakin surut. Padahal kan butuh banyak ya airnya haha. Akhirnya baca2 lah mengenai slow cooker ini dan ternyata bener2 masak secara slow sehingga bikin kaldu lebih efektif, airnya gak menguap banyak dan bener2 kentel penuh lemak yang berterbangan. Lemak inilah yang dibutuhkan untuk bahan campuran mpasi biar anak cepet endut. Slow cooker ini jg selain saya pakai masak kaldu juga dipake untuk bikin bubur nasi. Karena modenya slow jadi malemnya tinggal cemplung cemplung maka besok paginya jadilah bubur penuh citarasa. Ajaib kan.

7. Hand blender
Saya pake ini untuk menghaluskan bahan mpasi, misalnya ayam, atau ati, atau daging sapi biar lebih halus. Saya pake hand blender little giant.


Bahan MPASI


1. Belcube
2. Unsalted butter merk elle
3. Evoo
4. Kaldu
5. Chia seed
6. Oats