Pernahkah kamu bersyukur memiliki mata? Dapat melihat kanan dan kiri secara proporsional. Menatap dunia yang berwarna. Dapat mengedip dengan sempurna. Dapat menangis. Melihat dengan sangat leluasa apapun yang kamu mau. Masya Allah... itu adalah kenikmatan, sobat.
Ceritanya kemaren minggu tanggal 9 Desember saya dikeramas. Dan ketika saya hendak menyiram muka, tiba-tiba sesuatu cairan aneh memasuki mata saya dan seketika mata saya terpejam. Perih. Pedih luar biasa. Bahkan rasanya saya ingin mengerang kesakitan. Astaghfirullah. Begitu mata saya bisa terbuka saya merasa otot-otot mata saya kram dan pegal. Satu hal yang sangat luar biasa masih saya syukuri. Saya masih bisa melihat. Alhamdulillah.:'(
Di kaca saya melihat mata saya begitu merah. Masih pedih. Namun karena minggu pagi itu agenda saya sangat padat *tsah, saya pun berangkat dengan berkacamata. Begitulah hingga sore mata saya masih saja memerah dan masih terasa sakit ketika melirik. Maka begitu maghrib segera pulang dan istirahat total.
Esoknya saya heran ternyata mata saya masih memerah walopun rasa pegalnya agak hilang. Saya yang kuliah di kesehatan menyadari betul kehebatan tubuh yang diciptakan Allah untuk melawan serangan-serangan dari luar. Maka saya kemudian berhusnudzon dan memberikan kesempatan sistem pertahanan tubuh saya bekerja. Namun kemudian saya berfikir ada yang tidak beres dengan mata saya. Karena sebelumnya mata saya ini pernah juga kelilipan sampo dan memerah namun gak sampai lewat 1 hari macam bagini. Maka parno-lah saya. Saya pun memutuskan periksa ke RS Sardjito.
Sebenarnya saya yang Mahasiswa punya kartu asuransi kesehatan yang dsediakan kampus. Namun saya dan bberapa teman saya sudah pernah dikecewakan oleh dokter2 disana karena pelayanan yang terkesan asal-asalan dan pemeriksaan kilat lalu tau-tau keluar diagnosis--membuat saya kurang mantap berobat disana. Semacam gak percaya. Hho.
Masalahnya Sardjito itu Rumah Sakit besar. Dan alangkah tidak elitnya ketika dokter bertanya 'Kenapa, dek?' 'kelilipan sampo,dok.' huks. -_-". *gak keren banget. T_T.
Namun dengan semangat ingin sembuh saya pun memantapkan hati melangkahkan kaki dengan jumawa ke sardjito. Jeng..jeng... begitu sampe sana pasiennya rata-rata Lansia. Yang subhanallah penyakitnya gak main-main semua. Ada yang katarak, glukoma, bengkak, dll. Sementara saya?? Karena sampo gitu? Yaelah jangan2 ntar dokternya bilang 'dek, sejak kapan sampo dipake bilas mata?' T_T.
Sempat terbersit untuk mundur aja. *krik. Manja banget kena sampo doang. -_-" Oke PD tingkat dewa. Pasien adalah Raja u know. ^.^9. Bismillah deh.
Di sardjito, mata saya diperiksa dengan semacam mikroskop untuk melihat adanya (mungkin) bakteri dalam mata saya atau bahkan mungkin defek kelainan epitel mata. Lalu mata saya di tes pH. Lalu dianestesi eye drop. Lalu di warnai katanya untuk melihat defeknya. Dan hasilnya, mata saya terkena trauma basa. PH mata kiri saya 9 (basa) sementara yang kanan normal. Ya bisa jadi dari sampo, bukan dari busanya tapi benar2 dari cairan samponya. -_-" . Amazing kan? Gimana ceritanya coba. Zzzz...
Dan untuk menetralisir PH mata saya yang basa, mata kiri saya diirigasi. Bayangkan mata saya disemprot pake suntikan raksasa. Tapi dengan memantapkan jiwa raga saya pun pasrah menahan kepedihan mata. *huks.
Disana saya juga sempat diperiksa apakah mata saya minus atau tidak. Untuk pemeriksaan ini saya ditangani oleh Coas. Coasnya cowo rambut di cat pirang setelan boyband gitu. Wot de...? ckckckk. Ternyata demam Korea kini merambah ke dokter muda juga. --a.*penting?
OKe setelah diirigasi, mata saya diolesi salep dan di balut kasa? (?). Iya coba, saya udah kayak Kapten Bajak Laut aja. T_T. Entahlah. Untuk pertama kalinya saya merasa bahwa ternyata mata kelilipan sampo itu bukan hal yang sepele. Kata dokternya, mata saya diirigasi untuk menghilangkan sisa-sisa zat basa di mata. Karena trauma basa jauh lebih berbahaya dari trauma asam. Jika dibiarkan bisa menyebabkan kornea bolong. *Krak!! KAlimat tadi itu cukup berhasil membuat saya parno-aja gak pake banget, dan seketika telinga saya jadi serius menangkap tiap instruksi yang dokter katakan dalam pemberian resep.
Hasilnya, saya harus menebus obat yang harganya tidak sedikit untuk ukuran mahasiswa seperti saya, *huks.
Pertama, eye drop atau tetes mata penghilang iritasi yang harus diteteskan tiap 3 jam sekali.
Dua, eye drop juga, tapi semacam cairan steril yang diteteskan 1 jam sekali
tiga, salep 2 kali sehari tiap sebelum tidur (satu lagi klo tidur siang)
dan terakhir kasa sama plesternya.
Alangkah belibetnya hari yang akan saya tatap kedepan. Hellooo..berawal dari sampo coba?? Astaghfirullah.
Setidaknya sekarang saya tau gmana rasanya melihat dengan satu mata karena mata kiri saya dibalut kasa. Rasanya seperti terjadi distorsi. Kadang ketika saya melihat sesuatu didepan mata saya lalu saya meraihnya seperti estimasi saya meleset dalam hal letak. Berjuta kali kita wajib bersyukur pada Allah karena masih diberi nikmat melihat. Alhamdulillah Ya Rabb.
Btw, 3 hari kemudian saya harus kontrol lagi dan sekalian periksa penglihatan (takutnya minus). Iya jadi pas diperiksa sama koas itu katanya kemungkinan mata kanan saya sedikit minus, tapi yang kiri tak akan valid karena sedang trauma. Oke hikmah kedua dari kejadian ini adalah saya jadi tau kalo saya sering pusing itu kemungkinan karena sepertinya mata saya memang minus.
Fabiayyi alaa irobbikumaa tukadziban???
Senin, 10 Desember 2012
Senin, 03 Desember 2012
apapunlah
aku adalah jelaga asap petromak yang pekat.........
adalah tanah gambut yang ditumbuhi ilalang liar dan semrawut..........
adalah puing-puing remahan ranting..........
adalah tumpukan jerami di musim semi..........
adalah benang yang menggumpal...............
adalah cerobong asap..............
adalah hutan tropis...........
adalah kaca kusam...............
atau......
apapunlah asal aku tak mengeluh.........
aku benci ini...........
sehitam apapun gumpalan awan ini..........
sekeras apapun cengkraman tangan ini......
sepayah apapun aku menahan teriakan ini............
apapunlah asal aku tak mengeluh..........
hujan......aku mohon datanglah....
temani butiran lakrimal ini jatuh ke bumi
dia tak boleh sendiri
hujan... datanglah...
sekejam apapun kau menukik....
..............kau selalu kurindui.................
adalah tanah gambut yang ditumbuhi ilalang liar dan semrawut..........
adalah puing-puing remahan ranting..........
adalah tumpukan jerami di musim semi..........
adalah benang yang menggumpal...............
adalah cerobong asap..............
adalah hutan tropis...........
adalah kaca kusam...............
atau......
apapunlah asal aku tak mengeluh.........
aku benci ini...........
sehitam apapun gumpalan awan ini..........
sekeras apapun cengkraman tangan ini......
sepayah apapun aku menahan teriakan ini............
apapunlah asal aku tak mengeluh..........
hujan......aku mohon datanglah....
temani butiran lakrimal ini jatuh ke bumi
dia tak boleh sendiri
hujan... datanglah...
sekejam apapun kau menukik....
..............kau selalu kurindui.................
Senin, 19 November 2012
warna
*Kisah ini terinspirasi dari kisah nyata.
Sebut saja namanya Ririn. Mahasiswa berjaket ungu itu tengah duduk di depan meja sebuah toko. Ia sibuk memperhatikan seorang anak kecil dekil berbaju kuning. Entah sedang apa, anak itu tengah kasak kusuk di depan rak alat elektronik. Hingga kemudian anak itu berbalik. dan Ririn pun bisa melihat jelas wajah anak itu. Rambutnya sebahu, pirang, tipis, dan gimbal. Ia kurus kering, bahkan tulang belikatnya menyembul lewat kerah bajunya yang kebesaran. Matanya sayu. Entah tak tahan menahan kantuk, menahan lelah, atau..... mengiba. Gurat-gurat wajahnya seperti menanggung beban pikiran yang begitu berat. Tak ceria seperti layaknya anak seusianya.
Ririn merasa familiar dengan wajah anak itu. Ia selama 3 tahun berkuliah memang sudah terbiasa melihat bocah kecil itu di pinggir jalan. Anak itu terbiasa menjadi peminta-minta di lampu setopan dekat kampusnya. Dulu sekali, Ririn pernah melihat wajah anak itu lebam dan diarea pipinya ada luka seperti bekas sundutan rokok. Penasaran Ririn bertanya pada anak itu ketika ia mendekat. Tapi lampu setopan itu terlanjur hijau, dan Ririn tak sempat mendapatkan jawaban.
Dan sekarang ia malah bertemu dengan anak itu disini. Pertanyaannya adalah, apa yang anak itu sedang lakukan dalam toko? Ririn tak melihat ada orang dewasa yang mengikuti anak itu atau yang diikuti anak itu. Ririn menduga anak itu sendiri dalam toko. Untuk apa?
"Dek lagi apa?" Dengan sok kenal sok akrab Ririn memanggil anak itu.
Anak itu mendekat. Lalu tiba-tiba ia menunjuk sesuatu di rak belakang Ririn.
"Apa dek?"
"Mau gambar." anak itu bergumam pelan.
Kening Ririn mengernyit sembari kembali membalikkan badannya memandang ke arah rak dibelakangnya. Oh rupanya anak itu menunjuk deretan pensil warna.
"Pensil warna?" tanya Ririn
"Iya, buat gambar. Besok di sekolahku ada lomba gambar." anak itu menjawab tanpa sungkan.
Ririn menatap kebeningan kedua bola mata anak itu. Ia ingin melihat kejujuran darinya. Tapi nihil. Ririn hanya berhasil menangkap kepolosan.
"Kelas berapa, dek?" tanya Ririn
"Kelas 3."
"Dimana rumahnya?"
"Di pinyit."
"Besok gak sekolah po?"
"Sekolah. Kan senin." Akhirnya kedua mata anak itu menatap Ririn. Ririn tersenyum dan anak itu membalas senyum. Manis sekali. Seolah gurat itu baru pertama kali terlukis di wajahnya. Tiba-tiba saja Ririn begitu bersemangat.
"Adek yang biasa di lampu setopan sana ya?" ujar Ririn sembari menunjuk ke arah luar pintu.
"Lampu setopan itu apa?" Ririn membalas senyuman.
"Bangjo di depan sana itu loh."...
"iya."
"Dimana ibu?"
"Disana." dia menunjuk keluar pintu toko.
"Belum pulang jam segini?"
"Nggak."
"Terus nanti tidurnya?"
"Tidur di pinggir jalan, mbak."
"Kenapa? Gak dingin po?"
"Tidur di rumah gak muat, ada nenek."
Hati Ririn trenyuh. Mencelos. Seperti naik roler coaster di turunan. Ia berkali-kali berdzikir menyebut asma Allah dalam hatinya.
"Kita belum kenalan. Nama saya Ririn. Adek siapa?" tanya Ririn sembari menyodorkan tangan kanannya mengajak bersalaman.
"Puji."
Senyum anak itu kembali merekah. Keceriaan itu sepertinya sudah lama ditelan beban. Seolah ia memang dipaksa untuk dipahat dengan wajah mengiba.
"Duduk sini!" Ririn menarik kursi didepannya. Kemudian Puji duduk.
"Punya kakak?"
"Punya banyak."
"Adik?"
"Ada satu."
------------------------
---------------------------------------------
-----------------------
Pet!!! Lampu layar tivinya mati...--------------------------------------------
#Hmmmm sori roll filmnya habis. Dan beberapa adegan hilang -_-"
--------------------------------------------------------
------------------------------------
Ririn keluar dari toko menuju parkiran motor. Dan ia terkejut melihat ada makhluk kecil melambaikan tangan. Ah itu Puji. Puji bersama 2 orang yang mungkin ayah ibunya. Mereka bertiga tengah duduk-duduk santai di emperan toko yang etalasenya sudah tutup. Ririn membalas melambai dan tersenyum ke arah Puji. Hanya kepada Puji. Ririn tak mau memandang lama-lama ke arah ke2 orang dewasa itu. Ia langsung melajukan motornya dan berhenti di lampu setopan tempat Puji biasa meminta-minta. Benar saja. Puji mendekat. Lalu tersenyum sangat riang. Alangkah manisnya anak itu. Ia lalu mulai meminta-minta, menyusuri satu demi satu pengendara motor di depan Ririn. Wajahnya kembali dipasang menghiba.
Sekarang justru Ririn yang senyumnya tercekat. Otot-otot sudut mulutnya kaku. Ada sesuatu yang menyesak di dada Ririn. Bagaimana bisa bocah sekecil itu dididik untuk meminta-minta? Padahal jelas-jelas orang tuanya menyaksikan dia di emperan toko. Tak sudi Ririn memandang mereka barang sedetik pun. Ia tak mau diam-diam menyimpan kebencian pada orang yang bahkan tak dikenalnya. Ia tak mau mengotori hatinya dengan berburuk sangka. Ia ingat Ustad Syatori pernah bilang bahwa orang-orang mutaqin akan meninggalkan hal-hal yang bisa membuat hati bersu'udzon. Astaghfirullah. Keceriaan Puji terenggut paksa oleh keadaan. Itu bukan keinginan mereka. Ririn tau itu. Lalu apa dan siapa yang harus disalahkan? Ada kegeraman yang bergejolak dalam hati Ririn. Satu-satunya yang bisa ia salahkan hanyalah dirinya sendiri. Betapa ia tak bisa berbuat apa-apa. Senjatanya mungkin hanya doa.
Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzibaan??? Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan???
Sebut saja namanya Ririn. Mahasiswa berjaket ungu itu tengah duduk di depan meja sebuah toko. Ia sibuk memperhatikan seorang anak kecil dekil berbaju kuning. Entah sedang apa, anak itu tengah kasak kusuk di depan rak alat elektronik. Hingga kemudian anak itu berbalik. dan Ririn pun bisa melihat jelas wajah anak itu. Rambutnya sebahu, pirang, tipis, dan gimbal. Ia kurus kering, bahkan tulang belikatnya menyembul lewat kerah bajunya yang kebesaran. Matanya sayu. Entah tak tahan menahan kantuk, menahan lelah, atau..... mengiba. Gurat-gurat wajahnya seperti menanggung beban pikiran yang begitu berat. Tak ceria seperti layaknya anak seusianya.
Ririn merasa familiar dengan wajah anak itu. Ia selama 3 tahun berkuliah memang sudah terbiasa melihat bocah kecil itu di pinggir jalan. Anak itu terbiasa menjadi peminta-minta di lampu setopan dekat kampusnya. Dulu sekali, Ririn pernah melihat wajah anak itu lebam dan diarea pipinya ada luka seperti bekas sundutan rokok. Penasaran Ririn bertanya pada anak itu ketika ia mendekat. Tapi lampu setopan itu terlanjur hijau, dan Ririn tak sempat mendapatkan jawaban.
Dan sekarang ia malah bertemu dengan anak itu disini. Pertanyaannya adalah, apa yang anak itu sedang lakukan dalam toko? Ririn tak melihat ada orang dewasa yang mengikuti anak itu atau yang diikuti anak itu. Ririn menduga anak itu sendiri dalam toko. Untuk apa?
"Dek lagi apa?" Dengan sok kenal sok akrab Ririn memanggil anak itu.
Anak itu mendekat. Lalu tiba-tiba ia menunjuk sesuatu di rak belakang Ririn.
"Apa dek?"
"Mau gambar." anak itu bergumam pelan.
Kening Ririn mengernyit sembari kembali membalikkan badannya memandang ke arah rak dibelakangnya. Oh rupanya anak itu menunjuk deretan pensil warna.
"Pensil warna?" tanya Ririn
"Iya, buat gambar. Besok di sekolahku ada lomba gambar." anak itu menjawab tanpa sungkan.
Ririn menatap kebeningan kedua bola mata anak itu. Ia ingin melihat kejujuran darinya. Tapi nihil. Ririn hanya berhasil menangkap kepolosan.
"Kelas berapa, dek?" tanya Ririn
"Kelas 3."
"Dimana rumahnya?"
"Di pinyit."
"Besok gak sekolah po?"
"Sekolah. Kan senin." Akhirnya kedua mata anak itu menatap Ririn. Ririn tersenyum dan anak itu membalas senyum. Manis sekali. Seolah gurat itu baru pertama kali terlukis di wajahnya. Tiba-tiba saja Ririn begitu bersemangat.
"Adek yang biasa di lampu setopan sana ya?" ujar Ririn sembari menunjuk ke arah luar pintu.
"Lampu setopan itu apa?" Ririn membalas senyuman.
"Bangjo di depan sana itu loh."...
"iya."
"Dimana ibu?"
"Disana." dia menunjuk keluar pintu toko.
"Belum pulang jam segini?"
"Nggak."
"Terus nanti tidurnya?"
"Tidur di pinggir jalan, mbak."
"Kenapa? Gak dingin po?"
"Tidur di rumah gak muat, ada nenek."
Hati Ririn trenyuh. Mencelos. Seperti naik roler coaster di turunan. Ia berkali-kali berdzikir menyebut asma Allah dalam hatinya.
"Kita belum kenalan. Nama saya Ririn. Adek siapa?" tanya Ririn sembari menyodorkan tangan kanannya mengajak bersalaman.
"Puji."
Senyum anak itu kembali merekah. Keceriaan itu sepertinya sudah lama ditelan beban. Seolah ia memang dipaksa untuk dipahat dengan wajah mengiba.
"Duduk sini!" Ririn menarik kursi didepannya. Kemudian Puji duduk.
"Punya kakak?"
"Punya banyak."
"Adik?"
"Ada satu."
------------------------
---------------------------------------------
-----------------------
Pet!!! Lampu layar tivinya mati...--------------------------------------------
#Hmmmm sori roll filmnya habis. Dan beberapa adegan hilang -_-"
--------------------------------------------------------
------------------------------------
Ririn keluar dari toko menuju parkiran motor. Dan ia terkejut melihat ada makhluk kecil melambaikan tangan. Ah itu Puji. Puji bersama 2 orang yang mungkin ayah ibunya. Mereka bertiga tengah duduk-duduk santai di emperan toko yang etalasenya sudah tutup. Ririn membalas melambai dan tersenyum ke arah Puji. Hanya kepada Puji. Ririn tak mau memandang lama-lama ke arah ke2 orang dewasa itu. Ia langsung melajukan motornya dan berhenti di lampu setopan tempat Puji biasa meminta-minta. Benar saja. Puji mendekat. Lalu tersenyum sangat riang. Alangkah manisnya anak itu. Ia lalu mulai meminta-minta, menyusuri satu demi satu pengendara motor di depan Ririn. Wajahnya kembali dipasang menghiba.
Sekarang justru Ririn yang senyumnya tercekat. Otot-otot sudut mulutnya kaku. Ada sesuatu yang menyesak di dada Ririn. Bagaimana bisa bocah sekecil itu dididik untuk meminta-minta? Padahal jelas-jelas orang tuanya menyaksikan dia di emperan toko. Tak sudi Ririn memandang mereka barang sedetik pun. Ia tak mau diam-diam menyimpan kebencian pada orang yang bahkan tak dikenalnya. Ia tak mau mengotori hatinya dengan berburuk sangka. Ia ingat Ustad Syatori pernah bilang bahwa orang-orang mutaqin akan meninggalkan hal-hal yang bisa membuat hati bersu'udzon. Astaghfirullah. Keceriaan Puji terenggut paksa oleh keadaan. Itu bukan keinginan mereka. Ririn tau itu. Lalu apa dan siapa yang harus disalahkan? Ada kegeraman yang bergejolak dalam hati Ririn. Satu-satunya yang bisa ia salahkan hanyalah dirinya sendiri. Betapa ia tak bisa berbuat apa-apa. Senjatanya mungkin hanya doa.
Fabiayyi aalaa irobbikumaa tukadzibaan??? Maka ni'mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan???
tabularasa
cahaya temaram menyiram langit dikala petang
silaunya ditelan malam begitu saja
melenyapkan pekatnya jelaga asap
membungkam bisingnya siang
diganti seruan anak adam ditiap menara yang menjulang
bukankah dengan ini Tuhan masih menyelimuti bumi dengan kasih-Nya?
memberi kesempatan tiap jiwa bernyawa untuk merebah
masihkah si lisan memuntahkan keluh?
padahal dia masih sanggup mengecap manisnya iman
masihkah dada menyesak?
padahal ia masih disuplai partikel kehidupan
tak peduli sekeras apapun siang membanting si tulang
tak peduli seliar apapun hawa nafsu membelenggu
cukuplah bersyukur...
karena taburan cinta, masih Tuhan semai ke semesta...
silaunya ditelan malam begitu saja
melenyapkan pekatnya jelaga asap
membungkam bisingnya siang
diganti seruan anak adam ditiap menara yang menjulang
bukankah dengan ini Tuhan masih menyelimuti bumi dengan kasih-Nya?
memberi kesempatan tiap jiwa bernyawa untuk merebah
masihkah si lisan memuntahkan keluh?
padahal dia masih sanggup mengecap manisnya iman
masihkah dada menyesak?
padahal ia masih disuplai partikel kehidupan
tak peduli sekeras apapun siang membanting si tulang
tak peduli seliar apapun hawa nafsu membelenggu
cukuplah bersyukur...
karena taburan cinta, masih Tuhan semai ke semesta...
Jumat, 02 November 2012
Sudah beranjak tua T_T
Sudah terlalu sering diri ini mengintimidasi fikiran. Berlayar terlalu jauh. Lalu bias. Entah yang mana lagi yang nyata dan mana yang maya. Padahal ada dikotomi jelas antara yang realitas dan yang imajiner. Misalnya matematika yang katanya adalah ilmu pasti. Dalam matematika memang kita temukan bilangan real. Tapi kenapa masih ada bilangan pencacah atau bilangan cardinal? Dan di matematika memang ga ada bilangan imajiner. Tapi jika kita bermain fungsi matematika, akar min satu kan imajiner? Thats it? Lalu apakabar dengan satu di bagi nol? Kenapa kalkulator manapun yang saya gunakan untuk menghitungnya selalu memberikan hasil hurup E atau gambar cacing tidur yang artinya 'tak hingga'? Bukankah kata 'tak hingga' itu juga berarti imajiner gajelas. Aishhh... katanya ilmu pasti (?). *sotoysih. Terserahlah. Bagi saya keduanya tetap saja absurb.
Seperti sore ini. Langkah kaki saya yang menapaki jengkal demi jengkal trotoar jalan adalah nyata. Tapi fikiran saya melompat-lompat. Kadang hinggap pada angin yang masih setia memainkan lagunya membuat jilbab saya mengayun mengepak-ngepak. Sungguh elegan (?). Kadang mendarat pada semut yang berlari di anyaman pagar besi sembari memikul remah kue yang bahkan ukurannya lebih besar dari tubuhnya. Kadang pada plastik-plastik sampah yang tak kunjung membusuk ditimbun tanah. Kadang pada asap pekat yang keluar dari knalpot karatan sebuah bus yang seharusnya sudah dimuseumkan. Kadang pada nenek tua. Kadang pada abang becak. Kadang pada mbak-mbak berjas putih. Kadang pada kayu. Kadang pada batu. Kadang pada tanah. Kadang pada pohon. Kadang pada burung. Atau.... sarangnya...(?)
Saya menemukan sebuah sarang burung tergeletak tak bernyawa (?) di jalan setapak yang saya lewati. Ia seperti terletak di tempat yang salah dan pada saat yang salah. Iya sungguh disaat yang salah karena dengan malangnya ia ditemukan oleh saya.
Yang kalo saya belum dewasa maka saya akan membawa sarang itu ke kost dan memamerkannya pada teman saya dan akan saya mutilasi rame2 tanpa berperikesarangan. *apadeh.
Tapi berhubung saya sekarang sudah dewasa (?) paling saya hanya akan menyentuhnya-memfotonya dulu-mengguncangnya-mengintipnya jangan2 masih ada telornya-mengguncangnya lagi karena kecewa ga ada telornya-mengintip lagi karena penasaran-lalu sedikit diremas-lalu remas lagi-masih diremas-diremas-dan yah sedikit koyak-lalu karena kecewa tidak ada apa-apa maka dibuang dan dibiarkan lagi tergeletak seperti sediakala. -_-".
Saya pun akhirnya memutuskan untuk meneruskan lagi langkah yang tertunda. Lagi-lagi fikiran saya terbang. Saya membayangkan bagaimana rasanya memiliki sayap. Memandang bumi dari angkasa tentu akan keren sekali (?). Mengumpulkan satu demi satu rumput atau ilalang hanya mengandalkan paruh. Pertanyaannya, kalo saya butuh keranjang dimana saya bisa meletakkannya? Oh oke cukup diikat. Lalu saya terbang ke atas pohon, memilinnya satu persatu. Menganyamnya entah gimana caranya tanpa bantuan benang dan jarum (?). Dan--kita singkat saja--maka jadilah sebuah sarang. Sarang yang kokoh dan hangat. Sarang yang kalo bahasa korea itu artinya cinta*gak penting!. Sarang tempat dieraminya telur-telur saya (?). Kan ceritanya saya burung (?).
Dan tiba-tiba suara musik berhenti mengalun. Ia merefrein sendiri kembali ke awal. Kembali ke dunia nyata. Oke!
Jadi sebenarnya saya sedang menertawakan diri saya sendiri. Dengan kepedean tingkat dewa saya berkeliling di parkiran sore sepulang ngampus tadi. Mencari motor. Mati-matian saya mengingat dimana saya parkir pagi tadi. Hampir putus asa, tiba-tiba datang Pak Sugeng--satpam kampus saya.
Tiba-tiba entah gimana caranya saya sudah sampai dikost. Tepat adzan maghrib berkumandang. Buru-buru saya masuk gerbang kost. Naik kelantai dua. Nyari-nyari kunci ditas. Naas kuncinya blibet sama sampah-sampah di tas saya (?). Lalu akhirnya ketemu dan saya masuk kamar.
Saya nyari gelas. Mengucurkan minum ke atasnya. Lalu duduk tenang. Mata terpejam dan berdoa. Doa buka puasa.
Lalu slurp... segelas air itu menyiram kerongkongan saya. Alhamdulillah.
Terdengar suara iqomah. Lalu saya bersiap hendak ke WC. Dan tiba-tiba saya teringat sesuatu...
Oh iya saya lupa bahwa saya sedang libur.
HAAAAHHH????
Hening..........
Hening...........
Hening..........
*Krak. (Gambar hati pecah jadi dua). Mendingan saya pingsan aja. T_T.
Lalu saya gak makan dari pagi itu ngapain??? *guling-guling.
Ini namanya bukan kerajinan tapi.....Huks..T_T
Ya Allah....
Kenapa saya bisa begitu pelupa?
Apakah saya sudah beranjak tua?
Mengapa saya? Bagaimana? Apa saya? Saya kemana? Manusia? Tua? Amnesia? Aaaarrrrgggghhhhh*%*^^$%*OP^@#^&*(
Seperti sore ini. Langkah kaki saya yang menapaki jengkal demi jengkal trotoar jalan adalah nyata. Tapi fikiran saya melompat-lompat. Kadang hinggap pada angin yang masih setia memainkan lagunya membuat jilbab saya mengayun mengepak-ngepak. Sungguh elegan (?). Kadang mendarat pada semut yang
Saya menemukan sebuah sarang burung tergeletak tak bernyawa (?) di jalan setapak yang saya lewati. Ia seperti terletak di tempat yang salah dan pada saat yang salah. Iya sungguh disaat yang salah karena dengan malangnya ia ditemukan oleh saya.
Yang kalo saya belum dewasa maka saya akan membawa sarang itu ke kost dan memamerkannya pada teman saya dan akan saya mutilasi rame2 tanpa berperikesarangan. *apadeh.
Tapi berhubung saya sekarang sudah dewasa (?) paling saya hanya akan menyentuhnya-memfotonya dulu-mengguncangnya-mengintipnya jangan2 masih ada telornya-mengguncangnya lagi karena kecewa ga ada telornya-mengintip lagi karena penasaran-lalu sedikit diremas-lalu remas lagi-masih diremas-diremas-dan yah sedikit koyak-lalu karena kecewa tidak ada apa-apa maka dibuang dan dibiarkan lagi tergeletak seperti sediakala. -_-".
Saya pun akhirnya memutuskan untuk meneruskan lagi langkah yang tertunda. Lagi-lagi fikiran saya terbang. Saya membayangkan bagaimana rasanya memiliki sayap. Memandang bumi dari angkasa tentu akan keren sekali (?). Mengumpulkan satu demi satu rumput atau ilalang hanya mengandalkan paruh. Pertanyaannya, kalo saya butuh keranjang dimana saya bisa meletakkannya? Oh oke cukup diikat. Lalu saya terbang ke atas pohon, memilinnya satu persatu. Menganyamnya entah gimana caranya tanpa bantuan benang dan jarum (?). Dan--kita singkat saja--maka jadilah sebuah sarang. Sarang yang kokoh dan hangat. Sarang yang kalo bahasa korea itu artinya cinta*gak penting!. Sarang tempat dieraminya telur-telur saya (?). Kan ceritanya saya burung (?).
Dan tiba-tiba suara musik berhenti mengalun. Ia merefrein sendiri kembali ke awal. Kembali ke dunia nyata. Oke!
Jadi sebenarnya saya sedang menertawakan diri saya sendiri. Dengan kepedean tingkat dewa saya berkeliling di parkiran sore sepulang ngampus tadi. Mencari motor. Mati-matian saya mengingat dimana saya parkir pagi tadi. Hampir putus asa, tiba-tiba datang Pak Sugeng--satpam kampus saya.
"Nyari apa, Rin?"
"Motorlah, Pak."Masa iya nyari Buku di parkiran, Pak. *begitu pikir saya dalam hati.
"Emang kamu bawa motor?"
"Iyalah Pak, orang bawa helm." Si bapak hanya nyengir.
"Tenanan koe nggowo motor?" (translate: beneran kamu bawa motor?)Alis saya bertaut. Bingung. Hening.
"Eh? Emangnya saya gak bawa motor ya, Pak?" *gubrak
"Ora.! Tadi kamu dibonceng temenmu, Rin, makanya kamu bawa helm."Tiba-tiba cerah!! -_-"
"Oh iya ya Pak?? Makasih Pak." Lalu ngeloyor pergi nahan malu. Nyari-nyari lubang. Rasanya pengen nyungsep aja buat ngumpet. Etdah anak mudaaaa... T_T. Huks.Maka beginilah saya. Terlunta-lunta di jalan menapaki senti demi senti trotoar sembari menenteng helm. Rasanya ingin tertawa. Tapi sedih juga sih. Malu sumpah. Itu mana Pak Sugeng tadi ketawanya puas banget pula. Jadi sebenernya siapa yang muda siapa yang tua sih? Huks. T_T
Tiba-tiba entah gimana caranya saya sudah sampai dikost. Tepat adzan maghrib berkumandang. Buru-buru saya masuk gerbang kost. Naik kelantai dua. Nyari-nyari kunci ditas. Naas kuncinya blibet sama sampah-sampah di tas saya (?). Lalu akhirnya ketemu dan saya masuk kamar.
Saya nyari gelas. Mengucurkan minum ke atasnya. Lalu duduk tenang. Mata terpejam dan berdoa. Doa buka puasa.
Allohumma laka tsumtu wabika aamantu wa'ala rizqika aftortu birohmatika yaa arhamarroohimiiin. amin.
Lalu slurp... segelas air itu menyiram kerongkongan saya. Alhamdulillah.
Terdengar suara iqomah. Lalu saya bersiap hendak ke WC. Dan tiba-tiba saya teringat sesuatu...
Oh iya saya lupa bahwa saya sedang libur.
HAAAAHHH????
Hening..........
Hening...........
Hening..........
*Krak. (Gambar hati pecah jadi dua). Mendingan saya pingsan aja. T_T.
Lalu saya gak makan dari pagi itu ngapain??? *guling-guling.
Ini namanya bukan kerajinan tapi.....Huks..T_T
Ya Allah....
Kenapa saya bisa begitu pelupa?
Apakah saya sudah beranjak tua?
Mengapa saya? Bagaimana? Apa saya? Saya kemana? Manusia? Tua? Amnesia? Aaaarrrrgggghhhhh*%*^^$%*OP^@#^&*(
Sabtu, 27 Oktober 2012
Tentang sate sapi
Daun yang jatuh dari pohonnya menari riang seirama angin di sore itu. Layung yang menggantung di langit mesjid melatari serombongan burung yang terbang membentuk formasi. Sementara si matahari masih mengintip malu dari balik awan. Meninggalkan semburat cahaya orange yang selalu menginspirasi para penoreh warna diatas kanvasnya.
Lantai mesjid goncang oleh suara hentakan kaki-kaki mungil di terasnya. Kadang diselingi tawa renyah yang menggema didinding-dinding mesjid. Seorang dari mereka jatuh berdebam tersandung sejadah. Semua mata serempak menoleh. Tercekat. Khawatir. Seolah waktu mendadak berhenti karenanya. Namun ia segera bangkit. Otot-otot di sudut bibirnya spontan berkontraksi meninggalkan tawa. Ia berdiri malu-malu. Gelegar tawa pun membahana. Gigi-gigi ompong mereka menyembul dari balik bibir.
Oke..lagi-lagi ini cerita tentang anak-anak.
Saya heran. Kenapa mereka suka sekali berlari? Mengejar entah apa dan entah apa yang dikejar. Seolah femur dan tibia mereka terbuat dari besi. Seolah kekuatan mereka hanya didapat dari sekaleng bayam milik Popeye. Dan seolah rasa lelah bukan lagi milik mereka.
Saya jarang melihat orang dewasa berlari. Terlambat masuk kuliah saja mereka tak mau repot-repot berlari. Haha iya tau itu mah saya. -_-".
Tolong jangan bandingkan dengan film india yang adegannya dua sejoli yang berlari-lari di taman sambil ngelilingin tiang!! Itu pengecualian. (yaiks. norak!!)
Hanya suara adzan yang mau menghentikan mereka. Benar saja. Begitu muadzin memegang mic, anak-anak TPA itu buru-buru mengambil posisi mencari-cari alat shalat mereka di tas. Sementara yang dewasa menunduk khusu'. Menikmati alunan suara indah adzan. Adzan yang perlahan beresonansi dan menelusup lembut mengisi tulang sanggurdi. Hati kami mencelos seolah ada kubikan air es menghantam dada. Otot-otot kepala kami berefleksi. Wajah kami dibuai oleh sejuknya buaian adzan nan syahdu.
Shaf depan mulai terisi penuh. Semua bersiap untuk menghadap Rabb kami. Mengulangi ikrar janji penghambaan kami 5 kali sehari.
Ikrar itu melucuti atribut keduniawian kami. Yang mahasiswa, lupa dengan skripsinya. Yang aktivis, meletakkan dulu beban amanahnya. Yang anak kost, lupa dengan tagihan rekening listriknya. Yang pejabat, yang seorang ayah, yang seorang ibu, yang karyawan PLN, yang pedagang bakso, yang tukang sapu, semuanya... Jabatannya kini sama didepan Rabbnya. ... Hamba Allah.
Sujud terakhir begitu shaydu. Seolah Rabb kami berada di setiap nadi kami. Kini, otak kami berada dibawah. Setiap partikel darah kami perlahan mengalir menuju kepala. Berturbulensi membawa setiap hemoglobin berisi oksigen. Mensuplai nutrisi. Menyambung kehidupan untuk tiap neuron yang hampir koleps karena jenuh bekerja. Sementara hati terletak di atas otak. Bersujud itu berarti memuliakan hati. Kalo kata Ustad Syatori, orang yang mendahulukan hati daripada otak berarti dia sedang bersujud. Karena bersujud mengajarkan untuk lebih mendahulukan hati dibanding logika. Masya Allah...
Selesai salam, kini malam mulai terasa kesunyiannya. Semua tenggelam dalam doa penuh harap. Karena selesai shalat itu adalah termasuk waktu yang utama untuk berdoa. Lalu... tiba-tiba terdengar gema takbir dari speaker mesjid.
Allahu Rabbi... hampir lupa kalo ini masih lebaran.
Allahu Rabbi... saya rindu mendengar suara itu. Rindu. Rindu. Rindu.
Mengingatkan saya pada kota kelahiran. Pada bunyi bedug yang dipukuli oleh sepupu-sepupu. Pada sarung-sarung dekil dan kopiah adik laki-laki saya. Pada masakan nenek dengan ketupat dan sekuali soto sapinya. Pada tawa renyah adik perempuan saya. Pada tangisan keponakan yang berantem berebut stik PS. Pada bunyi air mancur yang sengaja dinyalakan ayah untuk menghibur keluarga besar. Pada ibu...
Kutitipkan selaksa rindu ini pada aubade adzan dari speaker-speaker mesjid di tiap penjuru kota.
Bu...., pengen sate sapi. huks. :'(............
Lantai mesjid goncang oleh suara hentakan kaki-kaki mungil di terasnya. Kadang diselingi tawa renyah yang menggema didinding-dinding mesjid. Seorang dari mereka jatuh berdebam tersandung sejadah. Semua mata serempak menoleh. Tercekat. Khawatir. Seolah waktu mendadak berhenti karenanya. Namun ia segera bangkit. Otot-otot di sudut bibirnya spontan berkontraksi meninggalkan tawa. Ia berdiri malu-malu. Gelegar tawa pun membahana. Gigi-gigi ompong mereka menyembul dari balik bibir.
Oke..lagi-lagi ini cerita tentang anak-anak.
Saya heran. Kenapa mereka suka sekali berlari? Mengejar entah apa dan entah apa yang dikejar. Seolah femur dan tibia mereka terbuat dari besi. Seolah kekuatan mereka hanya didapat dari sekaleng bayam milik Popeye. Dan seolah rasa lelah bukan lagi milik mereka.
Saya jarang melihat orang dewasa berlari. Terlambat masuk kuliah saja mereka tak mau repot-repot berlari. Haha iya tau itu mah saya. -_-".
Tolong jangan bandingkan dengan film india yang adegannya dua sejoli yang berlari-lari di taman sambil ngelilingin tiang!! Itu pengecualian. (yaiks. norak!!)
Hanya suara adzan yang mau menghentikan mereka. Benar saja. Begitu muadzin memegang mic, anak-anak TPA itu buru-buru mengambil posisi mencari-cari alat shalat mereka di tas. Sementara yang dewasa menunduk khusu'. Menikmati alunan suara indah adzan. Adzan yang perlahan beresonansi dan menelusup lembut mengisi tulang sanggurdi. Hati kami mencelos seolah ada kubikan air es menghantam dada. Otot-otot kepala kami berefleksi. Wajah kami dibuai oleh sejuknya buaian adzan nan syahdu.
Shaf depan mulai terisi penuh. Semua bersiap untuk menghadap Rabb kami. Mengulangi ikrar janji penghambaan kami 5 kali sehari.
"... Ku hadapkan muka hatiku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi dengan keadaan lurus dan menyerahkan diri..."
"... Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku semata hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam..."
Ikrar itu melucuti atribut keduniawian kami. Yang mahasiswa, lupa dengan skripsinya. Yang aktivis, meletakkan dulu beban amanahnya. Yang anak kost, lupa dengan tagihan rekening listriknya. Yang pejabat, yang seorang ayah, yang seorang ibu, yang karyawan PLN, yang pedagang bakso, yang tukang sapu, semuanya... Jabatannya kini sama didepan Rabbnya. ... Hamba Allah.
Sujud terakhir begitu shaydu. Seolah Rabb kami berada di setiap nadi kami. Kini, otak kami berada dibawah. Setiap partikel darah kami perlahan mengalir menuju kepala. Berturbulensi membawa setiap hemoglobin berisi oksigen. Mensuplai nutrisi. Menyambung kehidupan untuk tiap neuron yang hampir koleps karena jenuh bekerja. Sementara hati terletak di atas otak. Bersujud itu berarti memuliakan hati. Kalo kata Ustad Syatori, orang yang mendahulukan hati daripada otak berarti dia sedang bersujud. Karena bersujud mengajarkan untuk lebih mendahulukan hati dibanding logika. Masya Allah...
Selesai salam, kini malam mulai terasa kesunyiannya. Semua tenggelam dalam doa penuh harap. Karena selesai shalat itu adalah termasuk waktu yang utama untuk berdoa. Lalu... tiba-tiba terdengar gema takbir dari speaker mesjid.
"Allaaahu akbar... Allaaahu akbar.... Allaaahu akbar. Laa ilaaaha ilallaaaahu wallaaaahu akbar. Allaaahu akbar walillaaaahil hamdu."Jika tadi ketika shalat hati ini mencelos. Maka kini, tak hanya itu, tapi hati ini seperti sedang naik roller coaster di turunan tajam. Syahdu. Tapi menyayat.
Allahu Rabbi... hampir lupa kalo ini masih lebaran.
Allahu Rabbi... saya rindu mendengar suara itu. Rindu. Rindu. Rindu.
Mengingatkan saya pada kota kelahiran. Pada bunyi bedug yang dipukuli oleh sepupu-sepupu. Pada sarung-sarung dekil dan kopiah adik laki-laki saya. Pada masakan nenek dengan ketupat dan sekuali soto sapinya. Pada tawa renyah adik perempuan saya. Pada tangisan keponakan yang berantem berebut stik PS. Pada bunyi air mancur yang sengaja dinyalakan ayah untuk menghibur keluarga besar. Pada ibu...
Ibu... :')...
Kutitipkan selaksa rindu ini pada aubade adzan dari speaker-speaker mesjid di tiap penjuru kota.
Bu...., pengen sate sapi. huks. :'(............
Rabu, 24 Oktober 2012
Terimakasih Tantra
"Perempuan adalah Ibu. Seorang ibu ibarat sekolah. Apabila kamu siapkan dengan baik, berarti kamu menyiapkan suatu bangsa yang harum namanya." (Dr. Yusuf Qardhawi)
***
Tempat duduk ini tiba-tiba saja bergetar. Suara mesin berdengung. Dan deretan rumah di samping kanan saya perlahan menjauh lalu hilang. Digantikan oleh pohon-pohon yang meloncat-loncat menjauhi saya. Lalu hamparan sawah. Dan menghilang. Tak bosan saya melihat lukisan Tuhan di balik kaca jendela. Indahnya tak bisa diungkapkan dengan kata. Proporsi warna, tipografi garis, tergambar jelas dikotomi antara desa dan kota.
"Kamu yakin mau dimakan??" suara wanita muda yang duduk di depan saya membuyarkan lamunan saya.
Ah... Saya hampir lupa kalo saya berada di atas kereta. Dan mulailah mata saya melancarkan aksi, piknik kesana kemari siap mengamati.
Ya, rupanya bocah laki-laki bertubuh gempal disebelah wanita muda itu adalah anaknya. Siapa yang menyangka bahwa wanita berambut panjang hitam tergerai, berkacamata biru--iya dia pake kacamata biru gelap di kereta--, beranting bulat besar, dan sekilas mirip Krisdayanti itu ternyata menenteng bocah gempal di sebelahnya?? Kesan pertama saya begitu melihat Mbak-mbak muda itu adalah muda, cantik, energik, modis, dinamis, dan cerdas. Saya membayangkan dia kalo tidak kerja sebagai bintang film pasti seorang pekerja kantoran. Luar biasa. Wanita karir didepan saya ini ternyata mau menyempatkan diri di hari liburnya mengantar anaknya piknik bersama teman-teman sekolah TK nya. Jujur saja, selama ini paradigma saya adalah wanita metropolis macam mbak-mbak didepan saya ini akan memilih melimpahkan pengasuhan anaknya pada Asisten pribadinya a.ka. Baby siter karena sibuknya bekerja. Tapi didepan saya ini, dia adalah satu-satunya (sepertinya) Ibu tergaul yang menuntun anak TK dibanding dengan Ibu-ibu di kursi kompartemen lainnya.
Iya jadi ternyata saya didalam gerbong kereta ini telah terperangkap bersama bocah-bocah TK berseragam yang spertinya hendak berwisata ke suatu tempat. Jika saya menangkap pembicaraan ibu-ibu di sebrang kanan saya sih katanya mereka mau wisata kebun sambil bikin Pizza. Wow. *mata berbinar.
"Bu, kenapa keretanya maju?" seorang anak di kursi sebelah saya berseru dengan wajah bersemangat, bertanya pada ibu di sebelahnya yang sudah mulai berumur.Haha, saya tak kuat menahan tawa mendengar pertanyaan-pertanyaan "cerdas" dari anak itu. Kalo saya jadi ibunya, mungkin saya lebih milih lompat aja lewat jendela kereta *yang ini lebay. -_-"
Taukah? Saya disini sedang berjuang menahan diri untuk tidak menggigit pipi bocah-bocah itu saking gemasnya. Serius deh. Saya liatin wajah mereka doang aja gak tahan nahan senyum. Mereka itu polos. Lucu. Jernih. Segar. :)
Ah, saya percaya mereka itu dekat dengan malaikat. Kesucian dan kelucuan mereka saja sama sekali tak terkurangi oleh kebrutalan orang-orang yang menciumi mereka. Harum aja jika menghirup nafas mereka. Percaya deh, saya yang berkecimpung di dunia gigi dan mulut saja sudah beberapa kali membuktikannya. *sotoy. B)
"Udah deh jangan resek!!" suara si ibu muda didepan saya mengagetkan lamunan saya.
Cukup kaget juga menyadari kalo kalimat si ibu tadi itu tertuju pada anaknya.
Jadi, saya yang biasanya sok akrab dimana-mana, agak sungkan juga mau melancarkan kesotoyan saya di depan orang yang high class macam si ibu muda ini. Padahal jelas beberapa kali lutut kami bersenggolan. Harusnya sih jadi awal pembuka percakapan. Tapi berulangkali saya urungkan. Entahlah. Rasanya... beda aja... apalagi setelah menyadari sedikit kekasaran yang mungkin tak sengaja terlontar dari si ibu itu pada anaknya.
Tiba-tiba terdengar suara Hape berdering. Dan si ibu muda itu mengangkat teleponnya dan berbicara menggunakan bahasa Inggris. Wow. Kekaguman saya yang tadi sempat turun, kini sedikit terangkat lagi begitu mendengar kecerdasan si ibu ini yang cas cis cus ngomong bahasa Inggris.
Bersamaan dengan itu, muncul trolli makanan, didorong oleh wanita cantik yang jika saya taksir sepertinya itu pedagangnya. Benar saja. Wanita berseragam itu menawar-nawarkan makanan kecil ke anak-anak TK dari kursi ke kursi. Ketika tiba di kompartemen saya, si bocah gempal itu mengguncang-guncang lengan ibunya. Si ibu yang sibuk menelepon mengabaikan anaknya.
"Tuh kan, Mimih gamau dengerin aku." seru si bocah itu sembari merengut menahan tangis.
Namun trolli makanan itu pun berlalu. Si ibu muda, dengan wajah menahan kesal menutup teleponnya dan karena matanya tertutup kacamata biru gelap jadi saya tak bisa melihat persis gimana ekspresinya. Jika boleh saya menebak, sepertinya si ibu itu melotot, soalnya si bocah itu nampak ketakutan dan...
"Hey!! Mimih lagi nelepon you know?"
Jangankan bocah itu, saya saja ikut-ikutan terlonjak mendengar bentakan si ibu tadi. Bocah itu secara ajaib langsung diam dan berhenti merengek.
"Kamu gak liat?" si anak membisu. "Memangnya tadi ada apa manggil-manggil Mimih?"
"Aku cuma mau ngasih tau kalo ada penjual makanan." jawab si bocah takut-takut.
"Bohong!! Kamu pasti mau beli, kan?" si anak menggeleng.Saya yang berulangkalil beristighfar dalam hati memilih untuk pura-pura tidur daripada harus memperhatikan wajah si bocah lucu nan malang itu.
"Lalu apa?? Kamu mau nyuri??"Saya masih pura-pura tidur. Mata saya benar-benar terpejam, namun telinga saya menyala. Saya tak tega melihat bocah lucu itu.
Astaghfirullah... tuh ibu kenapa sih?? Astaghfirullah. Ingin rasanya saya mengelus dada menahan emosi yang membuncah-buncah.
Kau tau apa yang saya pikirkan ketika itu?? Saya menarik kembali rasa kagum saya pada wanita muda itu.
Cara mendidik macam apa itu??? Merusak!! Destruktif!!
Saya membayangkan akan seperti apa karakter anak itu ketika besar nanti jika si ibu bertahan dengan pola didikan keras macam begitu. Saya bisa melihat ada sedikit kepongahan dalam diri si bocah laki-laki gempal itu di awal saya jumpa dengannya. Kami berhadapan. Tapi si anak sama sekali tak mau peka dengan sekelilingnya. Saya yakin, jika anak lain yang ada didepan saya saat ini pasti dia akan melirik saya malu-malu. Lalu biasanya setelah begitu, dia akan saya beri senyuman termanis saya. *krik. Lalu si anak akan mengguncang baju si ibu dan si ibu akan ikut menoleh ke arah saya dan kemudian kami terlibat percakapan. Tapi sekali lagi saya melihat ada keacuhan dalam diri si bocah gempal itu. Saya sama sekali tak menyalahkannya. Tapi ini akibat lingkungan. Pola asuh. Hasil didikan orang tua.
Saya mungkin sotoy dalam hal ini karena yah saya belum punya anak (?). Tapi ini sedikit membuka mata saya bahwa helloooo... para wanita muda yang belum nikah dan calon ibu, plis deh jangan dulu mentingin gaya. Belajar gimana jadi ibu dulu dengan baik kek!! (termasuk saya juga sih) Grrr.....$&^%P(&**^) Saya hanya tak tega ada anak-anak lain yang nasibnya sama kayak bocah gempal yang duduk didepan saya itu.
Dan hey taukah?? Beberapa menit setelah bocah itu dibentak oleh si ibu, si anak turun dari kursinya dan bermain-main bersama temannya di gerbong kereta. Saya yang ketika itu masih menahan keheranan akan kejahatan si ibu muda itu, malu sendiri melihat keceriaan bocah itu.
Ah anak-anak... Selalu pandai mengejawantahkan rasa. Tak ada dendam. Tak ada sakit hati. Dia tulus. Polos. Saya sama sekali tak melihat tawa yang tertahan dari ukiran wajah mungilnya. Tawanya lepas selepas-lepasnya. Seolah dia baru saja dapat tambahan uang jajan dari ibunya. Ia amnesia dengan bentakan ibunya tadi. Tapi apakabar hatinya? Akankah kejadian tadi mengendap dan terkristalisasi menjadi sifat keras dalam dirinya? Teteh berdoa setulus hati
, semoga kamu baik-baik saja. amin.
Bocah itu, namanya Tantra... :')
Tantra, semoga Mimihmu kelak jadi berjilbab, solihah, anggun, dan lembut.
Tantra, tugasmu hanya mendoakan. Perkara lain itu adalah urusan Allah.
Tantra... terimakasih telah memberikan Teteh pelajaran berharga hari ini.
Tantra, tetaplah tersenyum. :'). *peluk hangat dari Teteh ya, Tantra. :*. *cups* Smangat!!! ^_^9
Miss u Tantra... :)
*padahal saya sama sekali tak pernah mengenal apalagi mengajaknya bicara* -_-"
~Perjalanan Jogja-Solo, Sabtu 20 Oktober 2012~
Langganan:
Postingan (Atom)


