Sabtu, 29 September 2012

Antara Kugy... dan Saya



"Maka saya anggap laman blog ini seperti langit yang tertutupi awan. Sepertinya kosong. Tapi jika si awan disingkap, maka disitulah ada cerita."
Bagi yang pernah nonton film Perahu Kertas mungkin akan sangat familiar dengan kalimat itu. Entahlah, saya tiba2 saja sangat terinspirasi dengan film itu. Saya tak menyoal kisah cinta antara Kugy dan Keenan. Tapi saya menyoal mengenai kesukaan Kugy pada dunia dongeng.
Saya seperti menemukan diri saya dalam sosok Kugy. Kugy suka dengan dongeng.

Bedanya, skrg saya pensiun, Kugy enggak. *krik.
 "Berani menulis berarti berani dikomentari!"....begitu kata teman saya.
Entah habis makan apa dia sampe bisa nemu kalimat sebegitu mengenanya. Hmm...(?)

Jadi, Kugy itu adalah seorang mahasiswi jurusan sastra. Tapi hobynya adalah menulis dongeng. Bahkan beberapa karyanya diapresiasi menjadi piagam2 penghargaan yang berjejer dikamarnya. Sastra menjadi pilihan jurusannya karena ia sadar tak banyak profesi yang bisa menjanjikan kemapanan hanya dari seorang penulis dongeng.

Kugy juga suka menulis diary. Tapi kertas tulisan tulisan diary itu biasanya langsung ia bentuk menjadi sebuah perahu kertas. Dan pada akhirnya akan ia hanyutkan di sungai atau laut. Bukan dear diary-seperti halnya kebanyakan orang-yang ia tuliskan di awal kalimat diarynya. Tapi... Dear Neptunus....
Kenapa? Karena menurut mitos, dewa air itu Raja Neptunus.

Kugy memiliki radar neptunus. Semacam sinyal yang bisa menghantarkan apapun yg ia maksud atau yang ia tuju atau yang menginspirasinya. Dan jika pikirannya buntu, maka Kugy akan memasang radar neptunusnya itu. Uniknya si radar ini juga bisa dipasang untuk melacak seseorang. Haha..

Tahukah gmana cara memasang radarnya? Cukup pejamkan mata, dan kedua tangan yang dalam posisi menunjuk dipasang di kepala kanan dan kiri. Itulah radar neptunus.



Hanya agen neptunus yang berhak mendapatkan radar neptunus.
Dan hanya orang2 tertentu yang bisa menjadi agen neptunus.
Suka. Suka sekali dengan imajinasi imajinasi liar dari novel ini.

Misalnya ketika si Kugy ditanya sma Keenan, kenapa ngambil sastra?
"Hellooo... kamu tinggal di gua mana selama ini? Realistis dong. Memangnya tukang dongeng bisa menjanjikan apa? Itu hanya sampingan." yah kurang lebihnya begitulah jawaban Kugy.
Tapi Keenan bilang, "Apa yang orang bilang realistis, belum tentu sama dengan apa yang kita fikirkan."

Wot a wonderfull word....*berbinar.

Indahnya jadi Kugy yang cuek.Dan diam2 saya jadi belajar cuek dari Kugy, hho.
Soundtrack lagu Perahu Kertas itu kurang lebih begini....
Perahu Kertasku kan melaju...
Membawa surat cinta bagimu...
  
Yupz stop!
Btw tentang surat cinta. Saya juga punya kumpulan surat-surat cinta.
Surat cinta dari yang Maha Pengasih. Allah. ^_^
"Sibgah Allah. Siapa yang lebih baik sibgah-nya dari pada Allah? Dan kepada-Nya kami menyembah." (QS 2: 138)
 Sibgah itu artinya celupan warna. Kalo kata Ustad Salim A Fillah di Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, Islam tidak menghapus karakter-karakter khas dari pribadi pemeluknya yang tidak bertentangan dengan 'Aqidah. Islam justru membingkainya menjadi kemuliaan karakter yang menyejarah.

Sudah paham alur jalan fikir saya???
Oke jadi sebenarnya intinya saya ingin membahas warna saya. #Oalaaah. Ya saya memang selalu payah membuat pendahuluan. Oke kalo gitu kita pokus pada inti!!!
Jadi, paradigma saya selama ini adalah muslimah itu anggun dan pendiam. Halus tentunya. Sementara saya?? Huks. Yah, yang sudah kenal saya mungkin akan sepakat bahwa saya itu cerewet. Anggun??? Boro-boro... Halus??? *nangisBombay.
Pernah saya kepikiran untuk menjadi anggun saja. Untuk menjadi pendiam saja. Untuk menjadi agak halus saja. Tapi hanya bertahan sehari. Itupun karena memang yah saya belum makan dari pagi.... *tepokjidat

Dan bahagianya ketika saya mendapatkan penjelasan yang sangat memuaskan di buku Saksikanlah Bahwa Aku Seorang Muslim ini. Jelas. Bahwa, warna saya memang seperti ini.
Bukankah pelangi itu indah karena warna warni? Manusia juga telah diberi celupan warnanya sendiri-sendiri oleh-NYA. Lihatlah dua sosok yang bayangannya saja begitu agung itu. Abu Bakar dan 'Umar. Dua sosok yang begitu kontras dalam singsingan fajar ummat Muhammad. Abu Bakar begitu kurus sampai sarungnya selalu mengulur ke bawah, sedang 'Umar pernah membuat empat makmum jatuh terjengkang karena bersinnya saat memeriksa shaf shalat... Masya Allah!!

Dan Allah memberikan celupan warnaNya sesuai dengan kadarnya. Si warna ini ranahnya adalah disini. Si warna itu ranahnya disitu. Begitulah adilnya Allah.
Maka biarkanlah Kugy menjadi Kugy. Saya menjadi saya. Bukan kamu ataupun dia. Bukan Kugy ataupun Keenan. Karena....
Ishadu bi ana Muslimah.... ^_^

Sabtu, 15 September 2012

Sepenggal Kisah dari Sarimulyo Part I



Sebenarnya saya sudah kkn sekitar sebulan yang lalu. Dan sekarang geliat kehidupan di semester 7 sudah mulai mencekik. Penuh rasanya pikiran saya bahkan hanya untuk sekedar menulis. 
 Tapi kemudian tangan saya tergelitik ketika di suatu malam menjelang *hasyah. Sepulang dari syawalan bersama teman2 PermataGama (Persaudaraan Mahasiswa Tasikmalaya Gadjah Mada), saya diantar Rinda (sahabat saya sedaerah dan se kkn) ke kost. Dan dengan jumawa dia memblokade laptop sya dan asyik berkutat menulis sesuatu yang entah apa.


Iri saya melihat tumblernya. Penuh warna. Hidup. Dan...... masya Allah......saya tepok jidat teringat nasib blog saya.
Dan benar saja begitu dibuka itu blog udah penuh sarang laba-laba. Mana lupa paswordnya pula. Huks.

Jadi sya punya 6 teman yang sesubunit di kkn. Oke baiklah saya akan mulai menceracau menceritakan siapa apa dimana kemana kayak apa dan semua tentang mereka. Dari kiri ke kanan....
Nama-nama dibawah ini sengaja (tidak) saya samarkan karena dibawah ini adalah aib. Karena aib mari kita bongkaaarrr.... ngoahahhaaa

1. Mas Zuniar Wbk (Iya saya gak salah nulis, itu Wbk bukan Tbk,hho..). Beliau adalah koormasit (Koordinator Mahasiswa Subunit) kami. Angkatan 2008 Teknik Pendiam. Irit ngomong. Suaranya peeeeeeelaaaaaaan bangeeeeeettttttttt. Tapi lucunya kalo kata Rinda suaranya pas ngimamin shalat kok bisa kenceng banget ya... entahlah mungkin tuntutan menjadi seorang ketua memang harus gitu kali ya. Standing applaus aja bisa tahan memimpin kami kami anggotanya yang rewel naudzubillah, aneh naudzubillah, dan suaranya kuenceng kuenceeeeeng ngalahin speker mesjid didepan pondokan. hho. Yup tampaknya harus siap-siap aja bawa sumpelan kapas kalo deket-deket kami, mas. Hho. 
Oh iya dan kadang-kadang saya juga heran sendiri, ini suara mas Zun yang kekecilan apa suara kami (putri) yang kekencengan ya sehingga telinga kami yang sudah terbiasa menangkap sinyal suara segede alaihim tiba-tiba harus beradaptasi lagi menangkap suara low. *apasih
Dan akhirnya dengan bangga mengangkat sapu (?) saya akhirnya tau juga judul lagu alarm mas Zun yang tiap jam 03.00 itu bertralala trilili mengusik mimpi mimpi indah kami dipagi buta *hasyah. Ett sumpah itu kadang (jujur aja ya) dari lubuk hati yang paling dalam kadang kesel juga kalo denger lagu itu mulai menjalankan tugas sucinya (?). 
Syahdan disuatu sore sembari menunggu waktu berbuka disuatu tempat makan--sekitar 3minggu pasca kkn-- saya mendengar lagu itu diputar di playlistnya tempat saya makan. Sontak saja kening saya mengkerut. "Ini lagu apasih sebenernya?" dengan volume suara yang diatasnormal seperti biasanya, "Ini nasyid." jawab teman saya dengan santai, padahal saya sudah senewen. Dan dengan berat hati saya hanya bisa ber "oh". Ironis.T_T
Ya siapa yang nyangka kalo lagu ngebeat macam begitu adalah lagu nasyid, Maher Zein pula. Aiiiiih.... Lucu juga sih kalo ingat dulu kalo lagu ini sudah bunyi pasti ini semacam menjadi stimulan untuk kami mulai mengomel. Haha.... Kayaknya kapan2 kalo kita mau bikin video dokumentasi kkn backsoundnya harus lagu ini deh. Biar kespontanan kami untuk mengomel tiap mendengar lagu ini jadi berkurang intensitasny.:D

2. Arif
Manusia paling langka sedunia. Baru kali ini saya ketemu orang sepolosnya. Muka tanpa ekspresi. Sangat datar. Sangat lurus. Bambu aja kalah lurus, rif. hho
Tapi tanpanya, sepertinya kkn kami akan sedingin sayur tanpa garam *apadeh. Yah dialah yang selalu dengan ajaib membuat kami tertawa. Bukan hanya karena kepolosannya dan kedatarannya tapi karena dimanapun, kapanpun, dan dalam posisi apapun, bahkan ketika kami asyik berdiskusi sekalipun, seringkali kami kehilangan suara Arif, dan ajaibnya begitu kami menoleh kearahnya dia tengah khusuk bermimpi. DIa tidur. Yas salaaaaaammmm *tepokjidat. "Mana kamera mana kamera?? Foto! FOTOOOOO!!!."

Tapi dia yang selalu dengan sigap menolong kami (yang putri). Misalnya kalo kami kerepotan bawa barang, dia akan maju di garda depan membantu kami mengangkat barang. Atau ketika kami harus malam-malam ke dusun sebelah, otomatis tatapan kami tertuju padanya, dan dengan luarbiasa tanpa harus berkata apapun dia langsung siap-siap mengantar kami seolah ngerti kalo tatapan kami adalah kalimat permohonan. haha. 
Arif bungsu di kkn kami. Dia angkatan 09 Kehutanan dan dia umurnya yang termuda. 
Kalian tau doraemon??? Yup. Arif mengingatkan kami pada kantong doraemon. Butuh pensil?? Penghapus?? Gunting? Kasa? Hansaplas? Senter?? betadin? Tolak angin? Vitamin C? benang jahit? jarum jahit?? Atau apapun itu. Maka tanyalah Arif. Dia pasti akan mengangguk dengan pasti dan dengan sigap membuka tasnya yang segede alaihim itu untuk mengeluarkan apapun kebutuhan kita. Dan lucunya senternya itu loh. Senter gunungnya selalu setia terselip di kepalanya jika malam telah tiba untuk menerangi langkah langkah kami menuju rumah warga sekitar.
Arif yang baik. Dengan polosnya dia memperkenalkan produk ketelanya yang bernama "Cherry" ke teman-teman Jeruk (Subunit di dusun lain). Dan yah namanya Jeruk terguncanglah dunia unit 25 dengan nama Cherry itu sehingga pada akhirnya dengan tragis kami dijuluki subunit 'Cherrymulyo' (Asal kata Sarimulyo). Hasyah....dan Mbak Hapzah-lah yang paling heboh ngomel-ngomel dengan nama yang menurutnya alay itu.  Atau Mas Anas yang sangat tidak rela mahkota nya yang berbentuk brokoli yang melambangkan kemachoannya jadi ternodai dengan brutalnya oleh kata 'Cherrymulyo' itu. Thats why Arif hingga kini sering disebut Mas Cherry. :D :D..

3. Dimas. Sosok yang menurut Rinda adalah yang paling normal. Tapi dengan tegas saya menjawab. Tidak!. hho. Dia sama tak normalnya dengan kita sebenernya. *mengangguk dengan pasti. Yah walaupun harus diakui dia memang tak separah tak normalnya kami tapi kkn ini cukup bisa mengungkap dia yang sebenarnya. *nyengir setan.
Dimas sama seperti yang lain. Irit ngomong. Tapi dia sepertinya yang memiliki selera humor lumayan (kata Arif) dibanding yang lain *ampun. 
Dimas 2009 Elins. Dia yang paling dekat dengan kormasit (tempat curhatnya juga kayaknya,hho). Dia kadang sebagai peredam dikala emosi-emosi kami mulai memuncak. Dia kemana-mana yang selalu paling wangi. (hha). Dia yang paling sabar kayaknya kalo ngurusin TPA. Iya jadi di mesjid tempat kami kkn itu kan rutin ada TPA gitu tiap sore. Kalo kami (yang putri) yang ngajar, ebuset itu anak pada lari-lari dan berantem nangis sana nangis sini gitu kalo TPA. Heran. Cukup pengen garuk-garuk tanah juga sih ngajar TPA disana. Nah dengan rasa penasaran tingkat dewa kami (putri) coba ngintip2 kalo yang putra pada ngajar mereka nakal juga apa kagak, gitu kan. Dan Jeng Jerereng Jeng Jeng........ Ternyata entah diberi obat bius apa tuh mereka bisa nurut gitu sama mereka (putra). Yas salaaaaaammmmm tambah pengen garuk-garuk tanah. T_T. Tragis. Dan yah yang paling sering ngajar kayaknya memang Dimas, jadi berkesimpulanlah kami bahwa pawangnya anak-anak memang Dimas. *krik. Lalu yang putri?Huks. T_T.
Nah, disuatu hari terungkaplah kenapa tuh mereka bisa sebegitu gak bisa diaturnya kalo sama yang putri, (jadi anak-anak TPAnya banyakan anak cowo usia SD) ealaaaaahhh ternyata mereka dibelakang memang suka 'ciye ciyean' gitu kalo kami lewat. Hasyah. Kami jadi kegeeran. Haha...
Loh kok jadi ngomongin anak TPA ya. Oke balik lagi ke Dimas. Yah begitulah dia, dia pendiam soalnya jadi saya juga bingung ngomen apa. hhe.

4. Mas Anas. Ehem tampaknya bakal panjang nih kalo nyeritain mas Anas. Beliau Teknik 08. Iya dia 08 kok bukan 06 *eh. :D. Iya keliatan lah ya dari penampakannya aja bisa ditebak kalo Mas Anas adalah inspirasi yang paling menginspirasi bagi para penganiaya di subunit kami. Mahkota indahnya yang unik dengan pola brokolinya lah yang mendaulatnya menjadi maskot di kkn kami. Mustahil kalo ada orang yang tak menyadari ketidakberadaan mas Anas. Karena kalo tak ada mas Anas pemandangan didepan saya mendadak akan lengang. Berasa ga ada sesuatu gitu. Haha Iya bener ga ada rambutnya yang ngalangin jalan maksudnya. *ampunmas.
Jadi rambutnya mas Anas ini mengingatkan saya pada Pangeran Palasara. Jangan bilang gatau Pangeran Palasara!!! Hello itu masa kecilnya mubazir kalo kagak tau. Iya jadi pangeran Palasara itu yang ada di iklan Dancow yang bunyi iklannya gini "Pangeran Palasara dengan sarang burung di rambutnya." Cit cit cit tiba-tiba kedenger suara burung. Haha. Iya bener seratus jadi kami memang kadang suka manggil Mas Anas dengan sebutan Pangeran Palasara atau kalo kata Hantari itu Mas Pangeran. *istighfarHan.T_T. 
Dan yang lebih sadis kalo didapur yang putri tengah masak dan tiba-tiba ngelewat makhluk berkaki banyak sebutlah kecoa gitu, pasti kami serempak tereak "Mas Anaaaaaas ini piaraannya kabuuuuuuurrrrrrrrr!!!!!" Dan dengan jumawa mas anas akan ngelus dada. wkwkwkwk.
Atau kalo ada curut-gitu-dengan santainya saya berkomentar bahwa curut juga bisa jadi pilihan ternak baru kalo memang kecoa sudah mulai gak betah tinggal di sarangnya. Oh tidak ya maaf, saya kadang juga bisa loh muji Mas Anas. Itu pas saya nonton Pirates of Carribean disela-sela waktu kkn yang menjemukan tiba-tiba entah mata saya kelilipan onta segede gajah atau gimana ceritanya saya melihat sosok Kapten Jack Sparrow mirip Mas Anas. Yas Salaaaaaammmm iya bener itu saya juga bingung apanya yang mirip tapi yang jelas bukan rambutnya, saya tiba-tiba berimajinasi kalo kumis mas Anas sama janggotnya kalo dikepang memang mirip Johni Deep. Dan dengan sadis nama panggilan Mas Anas bertambah jadi Om John. *Tepokjidat.
Oke penganiayaan belum selesai. Disuatu senja menjelang maghrib Mbak-mbak Anaknya Ibu (??), ya itulah pokoknya intinya Ibu kami di pondokan itu kan punya anak--kita sebut Mbak--yang entah ada angin puting beliung darimana tiba-tiba dia bertanya gini, "Saya jadi penasaran gimana ya caranya mas Anas dikeramas? Itu airnya bisa basahin rambutnya gak ya apa jangan-jangan mirip daun talas gitu?" 
Et sumpah rasanya itu ya saya pengen ketawa sekenceng-kencengnya. Haha.. *ambiltoa. (astahgfirullah...ini mudah-mudahan orang yang diomongin kagak panas kupingnya karena udah kebal ya, mas). wkwk.
Dan sekali lagi dengan haru saya harus mengakui bahwa tiap saya melihat daun talas saya seolah melihat semburat rambut mas Anas. Iya mas saya pasti akan selalu mengingat mas Anas lewat daun talas. *tampang jumawa sambil mengepalkan tangan.

Entah kenapa setiap ke dapur di pagi buta saya selalu melihat mas Anas dengan setia jongkok diatas perapian. #eh. didepan perapian maksudnya--dengan posisi semedi dan mata menatap kosong ke arah api.
Itulah tahtanya.
Jadi karena kami kkn digunung yang dinginnya naudzubillah kami biasanya rebutan api tiap sebelum sahur. Dan karena ternyata jok kursi didepan perapian selalu sudah disinggahi mas Anas yang telah dengan anggunnya (aneh ya?)--dengan gagahnya kalau begitu--duduk didepan api, maka kami harus pelan-pelan memuji-muji dulu mas Anas kalo kami hendak meminjam tahtanya. Apalagi kalo udah disebut mirip Johni Deep. Beuh... seneng banget dia. (padahal saya sndiri istighfar berkali2 dalam hati). 
Dan sebelum terjadi fitnah yang lebih besar, mas Anas yang udah ngerti maksud kami, akan segera beranjak dr singgasananya. Dan rebutanlah kami berjongkok bertiga didepan api. :D

Satu lagi tahta Mas Anas adalah tikar yang tergerai di ruang tamu. Jadi karena putra ada 4 orang sementara kamar hanya muat untuk 3 orang akhirnya Mas Anas lah yang mengalah membangun singgasananya sendiri (tempat tidurnya maksudnya) di atas sehelai tikar di sudut ruang tamu. Ya dia biasa tidur diatas tikar dengan berbalut berlapis-lapis baju dan jaket tiap dia tidur. Walopun tempat tidurnya cuma begitu padahal lantainya tanah, jangan heran, ya kan dia punya benang wol. Anget, hehe. *ampun mas beneran. 
Nah balik lagi ke singgasananya, ini juga biasa dijadikan tempat rebutan. Biasanya sehabis taraweh kami akan bercengkrama diruang tamu sembari menggarap tugas kkn kan, nah tongkrongan paling mengasyikan memang singgasananya mas Anas, soalnya bisa sambil selonjoran. Ya masa iya selonjoran di tanah. Makanya jangan heran kalo mas Anas pagi-pagi bangun tidur ngomel-ngomel karena singgasananya bau tai kucing. *haha. Ya kaki-kaki tamunya kali yang nginjek sembarangan. wkwkwk. 

Rinda--yang tadi saya sebutsebut diawal (nanti saya kasih kisahnya)--adalah yang paling klop sama Mas Anas kalo masalah ngebully. Motornya Rinda namanya Pillo, dan ketika ditanya nama motor Mas Anas apa dengan polosnya Mas Anas bilang motornya bernama Pit. Mulai dari situ Rinda berdoa dengan sepenuh jiwa dan tenaga agar Pit cepat dapat Nah, pasangannya maksudnya. Haha iya saya tau ini garing gapapa nanti ketawanya pas lagi selo aja. *krik
Dan kalo mas Anas macam-macam Rinda mengajari kami untuk cukup menakut-nakuti mas Anas dengan gunting. Iya Mas Anas paling takut sama gunting. Takut mahkotanya dibabat katanya. Jadi kalo Mas Anas mulai bandel, cukup bermantra ajaib "Gunting manaaaaaa guntiiiiiiiiiingggggg....". :D

Satu lagi. Jadi lucunya kalo kami kehilangan barang ditempat kkn, kami serempak akan menoleh ke rambutnya mas Anas. Haha maksdunya "Ayo bongkar rambut, sepatunya nyelip kali." :D Dan dengan wajah cengok ala mas Anas biasanya kami akan trtawa lepas sambil megap megap kayak lele keabisan aer. *apasih.

Begitulah mas Anas. Paling sabar. Entahlah ya sabar nya itu mekar jadi rambut kali, saking udah overload dengerin penganiayaan kami. Dan jangan salah loh pahala Mas Anas juga pasti banyak banget. Udah bikin kita seneng. Haha. Asli sumpah mas seneng banget deh bisa sesubunit sama Mas Anas.

Dan yang mengenaskan setelah selesai kkn, seminggu pasca libur lebaran kami sedih melihat Mas Anas. Hiks. Rambutnya dipotoooooong.... !! Oh rambut... nasibmu kini.

Jadi plontos gitu. Iya asli Mas saya sedih. Sedih. Sedih sama yang motong rambutnya pasti itu terharu banget bisa dengan berjasa sekuat tenaga sedaya upaya memotong rambut Mas Anas. 
Ya saya tahu penderitaan tukang cukur itu yang kalo saya membayangkannya dia sedih meratapi gunting-guntingnya yang pecah gara-gara menunaikan tugas sucinya. (-_-")
Itu tapi Mas Anas kelihatan lebih muda loh pasca potong rambut. *sumpahgakpenting.
Ya kan sudah saya bilang mas, kalo pohon itu semakin tua lingkar tahunnya semain bertambah, kalo mas Anas semakin tua lingkar rambutnya semakin mekar, jadi kalo kini Mas Anas plontos brarti anda dengan suksesnya telah menjadi muda. Yeah. Selamat!!! Anda.... Muda!!!. T_T.

Kita beri penghargaan tertinggi kepada Mas Anas karena telah membuat kita senang dengan sedemikian rupa. Mengheningkan cipta.... mulai!! #nunduk.
"Terpuuuujilaaaah wahaaaai engkauuuuu Anaaaasss Mahardikaaaaaaa....
Namamu akan selalu hiduuuuup dalam diri kecoaaaaaaaaa."

Iya jadi sebenarnya yang paling sedih akan kegundulan hutan Mas Anas adalah kecoanya yang harus bedol desa pindah sarang entah kemana itu. Mungkin ke sapu ijuk. (Iya saya curiga tukang cukur rambutnya mengumpulkan sisa-sisa rambut Mas Anas untuk jadiin ijuk berkualitas internasional). 
Stop ah!! Ampun Mas!! Iya jadi penganiayaan ini sebenarnya sudah dipraktekkan kok jadi jangan kuatir ini ghibah, tidak tidak, dia sudah tau kok... hha. Salam super. ^_^

Oke karena sudah malam dan saya sangat pegal jadi untuk putri2 kita lanjut di Part II. Sementara waktu kita kembali ke jalan yang benar. Hap hap....:D

Sabtu, 26 Mei 2012

Kisah anak negeri

Ini blog kosong banget ya isinya. Yasudahlah, akan saya postingkan semua tulisan-tulisan saya dari jaman firaun.

Salah satunya ini....:


Aku ingin bercerita tentang adikku tersayang, dan tentang keprihatinanku terhadapnya...
Adikku ketua kelas di kelasnya.
Dia msh kelas 4 SD. Laki-laki.
Sore itu, kami berdua naik motor, adikku banyak berceloteh tentang teman-teman sekelasnya.
Dan sesekali aku tertawa dan meledeknya...
"Iyalah...masa' KM suka nangis, masa' KM masih disuapin...Apa kata dunia???Wkwkwkwkk",
Namun dia tetap cuek, dan meneruskan ceritanya.
Dia bercerita tentang teman-temannya yang nakal. Dan tugasnya mencatat setiap nama teman-temannya yang nakal lalu melaporkannya pada Bu Guru. Lalu, keluhannya karena kata-katanya sebagai KM tak didengar oleh teman-temannya. Tapi dengan polosnya dia menambahkan bahwa enaknya jadi KM tuh walopun dia nakal dikelas tak ada yang mecatat karena yang memegang catatan dosa cuma dia....Haha...
Ada-ada saja...
"Emang nakalnya teman sekelas Ade kayak gimana?"
"Nyanyi di kelas sambil naik bangku." ujarnya bersungut-sungut.
"Nyanyiin lagu apa?
"Ya banyak."
"Apa misalnya?"
Lalu adikku bernyanyi..."Luka-luka-luka yang kurasakan...Bertubi-tubi-tubi yang kau berikan...."
Aku pun tertawa...Astaghfirullah...
"Trus lagu apa lagi?"
"Ai-ai ai aishiteruuuuu..."
"Kok gak nyanyi kasih Ibu? Atau Ambilkan bulan Bu?"
"Apaan itu lagu anak kecil." Keningku mengkerut.
"Emang Ade udah gede?"
"Iyalah."
"Kalo udah gede makan sendiri, ga nangis...." ledekku sembari tertawa...
Astaghfirullah...aku bener-bener kaget mendengarnya.
"Ade tau lagu Kasih Ibu?"
Adikku tak menjawab. Lalu aku bernyanyi diikuti dengan nyanyiannya yang terbata-bata.
Aku pun mengajaknya bernyanyi lagu Ambilkan Bulan Bu...Ia mengikutinya masih dengan terbata-bata.
Mungkin pernah mendengar tapi tak pernah dinyanyikan...
Tanpa menyerah aku mulai mengajaknya bernyanyi lagu-lagu nasional.
Satu Nusa satu bangsa, ia hafal, 17 Agustus, giliran gugur bunga dia bengong.
Lalu lagu Sunda, Tanah Sunda, Panon hideung, Pupuh balakbak....Waduh parah, ia sama sekali tak tau...
Astaghfirullah...Apakah ini potret anak negri???
Kalo udah gini siapa yang harus disalahkan??
Televisi memang sangat dominan bagi mereka.
Acara-acara lagu saja sudah sedemikian rupa merubah pribadi mereka.
Merasa sudah besar, dewasa sebelum waktunya...
Lalu infotainment gimana????
Apa dampaknya????
Astaghfirullah...
Mungkin keresahan ini sudah lama dirasakan oleh para orang tua, atau tenaga pendidik. Tapi suara mereka kini mungkin hanya tinggal bisikan.

Dan satu lagi.
Masalah permainan anak.
Adikku lebih jago memainkan stik PS daripada mahir membuat layangan.
Atau mahir membuat pestol-pestolan dari daun pisang.
Mana tau mereka tentang permainan Engrang. Boy-boyan. Kasti.
Kreativitas anak negri sudah lama mati....

Ketika aku berlibur ke rumah Nenek. Yang menurutku tempatnya masih perawan.
Bersih. Asri. Hijau.
Kini, aku benar-benar miris melihat anak-anak bermain di pinggir kali sembari membawa HP dan menyetel MP3 dan joget-joget ga karuan...
Astaghfirullahal'adzim...

Jangan heran kalo negri kita kayak gini...
Generasi penerusnya aja ga diperhatiin.
Video artislah, infotainment mengajarkan ghibah...
Lagu-lagu mendewasakan mereka sebelum waktunya.

Sementara Anggota dewan tertidur ditengah rapat.
Membolos.Astaghfirullah...

Mungkin kini solusinya hanya nonton si Bolang...

Kamis, 24 Mei 2012

Terpekur

Entah berapa juta prosa atau puisi atau bait syair yg dibuat para pujangga dengan menggunakan sebuah kata ajaib bernama hati.

Ada mutiara hati, cahaya hati, bintang hati, managemen hati, mata hati, kata hati, heart (saya bingung heart itu sebenarnya hati atau jantung), dan cinta dalam hati *plak. Oh tenang! Saya tak akan menyoal kata cinta disini, sya akan fokus pada hati.

Kalo kata Habiburrahman El Shirazy di Bumi Cintanya mengatakan bahwa hati itu mesin ajaib yang menyelamatkan segenap tubuh kita dr berbagai racun yang masih dlm tubuh.
Kalo kata Rangga di Ada Apa Dengan Cinta,hati itu ditinggalkan untuk dicaci. Yah terkadang hati ada untuk dicaci.

Bukankah para pemimpin itu yang sibuk merenovasi istana mereka sementara rakyatnya tercekik dg harga kebutuhan pokok itu dipertanyakan kemanakah hatinya?
Bukankah hati nurani selalu menjadi senjata para calon2 dalam kampanye?
Bukankah kaum feminis yang melawan kodratnya itu mengatasnamakan HAM (hubungannya dg hati?)*nurustunjung kalo basa sundanya.
Bukankah Bu Diono yg alih2 sibuk memikirkan tugas suci kenegaraan malah sibuk mengurusi suara adzan sempat berfikir berapa hati yg tersakiti karenanya?
Bukankah? Bukankah? Bukankah dg kesotoyan saya ini dipertanyakan apakah saat ini saya menulis dg hati? Nah itu dia...Umm..eng..intinya saya mau curhat sih bahwa saya bersyukur akhirnya sya tersadar kalo sya msh pny hati *loh. Ya saya memang payah bikin prolog.*garuk2tanah.

Tahukah?Betapa hati dapat mengganti seluruh indera yg kita miliki.
Sepertinya itulah sebabnya Allah menciptakan kita mula-mula dari segumpal daging bernama hati.
Akan terasa indah jika semua indera bekerja dibersamai oleh hati.
Melihat dengan hati dapat menembus cakrawala dan menyingkap apa-apa yang sebelumnya tak terlihat.
Meraba dengan hati akan lebih terasa lembutnya permadani meski jarang dicuci.
Menghirup udara pagi dengan hati memicu ketenangan dan menjernihkan fikiran.

Seperti kisah nyata seorang hakim bijaksana yang terpaksa menyidang seorang nenek yang mencuri 'sesikat' pisang (apalah saya gtau basa indonesianya sesikat apa *hasyah) dari kebun milik sebuah perusahaan karena cucunya merengek kelaparan.
Hukum mengharuskan si hakim menjatuhkan hukuman denda sebesar sekian juta rupiah pada si nenek. Dengan penuh rasa iba akhirnya si hakim menutup sidangnya dengan membuka topi hakimnya dan menaruh uang 1 juta dari kantongnya untuk diserahkan pada si nenek.
Terakhir ia berkata pada hadirin sidang bahwa "saya juga ingin menghukum kalian yang membiarkan si nenek kelaparan hingga harus mencuri pisang." Dan hadirin pun ikut berinfak pada si nenek. Subhanallah.

Bukankah hati nurani sang hakim mampu menembus tembok hukum yang durjana pada kaum papa? Ah si hati ini ada tapi hanya beberapa saja yang menyadari keberadaannya.
"Lakukan dengan hati,dey." Ujar seorang teman di suatu siang ketika saya hendak menyuntiknya. Kalimat itu menyentak.
Dia benar. Bukankah saya masih punya hati?
Ah si hati ini ada bukan untuk di caci. Tapi untuk dihayati.:).


Pecahnya Sang Bisul

Ajaib! Keinginan untuk menulis yang telah lama terkubur selama jutaan tahun kini bangkit lagi dari kubur.*hasyah. Menggeliat lagi seperti cacing yang terkena sengatan panas. Panas! Panas melihat orang produktif setiap harinya walaupun beberapa dari mereka menceracau entah apa yang ia tulis tapi paling tidak hari itu ia telah membagi cerita pada yang lain. Sementara saya? Keinginan untuk menulis sebenarnya timbul tenggelam dan naasnya kebanyakannya adalah tenggelamnya ditelan malas dan... tugas. *Grrrrr....

Kalo boleh jujur, tiap hari sebenarnya banyak hal menakjubkan dalam hari-hari saya yang bodohnya selalu saya telan bulat-bulat hikmahnya tanpa ada hasrat untuk berbagi dalam tulisan. Yah walopun terkadang saya juga bingung menakjubkannya dimana *gubrak. Paling tidak, setelah saya punya sarana untuk berbagi di blog ini (?) saya bisa jadi lebih pake hati dalam melompati hari demi hari yang saya lalui...B).

Lucunya. Awal ketertarikan saya menulis itu dimulai dari iseng-iseng pas OL FB di 'home' saya ada Mbak-mbak yang di timelinenya dipenuhi kata-kata pujian dari rekan-rekan fb nya tentang betapa indah artikel-artikel dalam blognya. Kemudian saya penasaran dan akhirnya saya membuka blognya dan ternyata..... _jengjeng_ saya memang terpana dengan liukan tarian bahasanya. Subhanallah.
Dan saya mulai panas. Geli jari-jari saya untuk kembali menulis.Dan malam ini. Malam yang harusnya saya habiskan dengan mengkaji skenario OM, bikin T Spring ditemani seperangkat alat tang, dan membakar lilin untuk bikin tektek bengek tugas-tugas pergigian, saya habiskan untuk membuat blog. *pasangtampangjumawa. hha.

4 jam bikin blog? Yah...karena saya gangerti gmana cara bikin blog. (Ya Salaaam makhluk abad berapa). terserah deh apapun better late than never lah. *hasyah. Coba slogan tadi saya pake buat jadi alesan telat dateng rapat. *plak.
Hadeuh...sampe mana tadi?Lupa kan. Oh iya blog. Nah bingung saya! Mengobrak abrikURL tapi tampilan blog saya tidak keluar-keluar padahal saya sudah sign up tapi mata saya ngesot-ngesot cari kata 'buat postingan' atau apapunlah yang intinya dimana saya bisa nulis? *zzzzzzz. Saya frustasi!. Akhirnya dengan sisa semangat yang letupannya tinggal memercik mirip mercon yang siap meledak dengan jumawa tapi gara-gara lembab si apinya tinggal satu-dua-, sayapun ambil pulpen dan menulislah saya dibuku diary saya yang jadul. *tepokjidat.

Gapapa deh. Paling nggak energi panas yang tadi membakar-bakar telah terkonversi menjadi sehalaman tulisan. Saya ulangi. Sehalaman.  -_-". tak apa untuk pemula. Aluran tulisan awal mungkin agak melompat-lompat atau bahkan ngesot bertele-tele tapi okelah. Saya percaya dengan terus menulis lambat laun saya akhirnya akan menemukan gaya menulis saya. Seperti kata mbak Ocha dalam blognya bahwa percayalah, kadang tak mudah untuk belajar dari hikmah yang dipetik orang… maka bergeraklah, rasakan dan petik sendiri hikmah itu…B).

***

Yah berhubung saya dongkol karena blog saya belum bisa berfungsi sementara tulisan saya sudah meronta-ronta minta diposting akhirnya untuk tulisan perdana saya posting disini. *cupcup...-_-"